Mohon tunggu...
KOMENTAR
Healthy

Makanan Instan, Merek Beda Isi Sama!

10 November 2009   03:09 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:23 1337 0
[caption id="attachment_23652" align="alignleft" width="300" caption=" Dari Buku: Susan George, Pangan, dari Penindasan sampai ke Ketahanan Pangan. "][/caption] Situasi di Indonesia saya kira sudah tidak jauh berbeda dengan di Amerika kalau kita bicara soal makanan-makanan instan. Kalau kita masuk supermarket, kita akan temukan berbagai macam produk yang mereknya berbeda-beda tetapi isinya sama saja. Produk-produk itu berjejer di rak-rak dalam supermarket. Penataannya menarik. Orang pun jauh lebih senang pergi ke supermarket daripada pasar trasidional untuk berbelanja sekalipun ada pasar tradisional yang terjangkau. Kondisi pasar-pasar tradisional kita memprihatinkan; kalau hujan lebih sering becek bahkan berlumpur. Kita masih sulit membuat pasar tradisional kita sebagus Singapura negeri kecil itu. Mungkin karena kita ini memang tinggal di sebuah negeri super-besar jadi ya susahlah kalau mau niru Singapura soal penataan wilayah apalagi soal kebersihan. Waktu saya kanak-kanak hingga remaja, kalau mencuci kami pakai sabun batangan, biasanya merek telepon. Capek memang tapi waktu itu kami tidak berpikir bahwa pakai sabun batangan saat mencuci itu capek. Belakangan saya tahu bahwa busa sabun batangan lebih ramah lingkungan daripada deterjen. Sekarang ini orang kan lebih suka pakai deterjen. Mungkin sudah jarang orang yang mencuci pakaian pakai sabun batangan. Cara hidup manusia sekarang ini, termasuk saya, ya memang tidak ramah lingkungan. Saya kan mencuci pakai deterjen soalnya kalau pakai sabun batangan, lebih capek karena harus mencuci sepotong demi sepotong pakaian. Saya optimis bahwa ke masa depan entah karena terpaksa atau karena inovasi-inovasi baru, kita akan mampu mempergunakan produk-produk ramah lingkungan entah itu makanan atau apa saja yang secara mendasar kita perlukan dalam hidup. Saya senang dengan optimisme seorang Muhammad Yunus yang visioner. Misal, dia sedang memikirkan dan mengusahakan bersama timnya bagaimana mengganti wadah makanan sehingga wadah makanan itu juga bisa dikonsumsi sekaligus dengan isinya. Dengan begitu tak perlu membuang wadah yang berakhir menjadi sampah. Contohnya wadah es krim di mana orang bisa makan esnya sekaligus wadahnya. Di kepala saya masih terngiang-ngiang perkataan seorang ibu dari Belanda berkaitan dengan bagaimana orang Indonesia pada umumnya tidak becus mengurus sampah. "Ya, kalau di Indonesia, sampah bergeletakan di mana-mana, nggak bersih." Kalau saya masuk sebuah kampung, orang-orang seperti tak peduli pada sampah yang tergeletak dan bertebaran begitu saja. Pada umumnya sampah-sampah plastik, sebagian besar merupakan bungkus-bungkus makanan-makanan instan. Sampah organik akan terurai oleh tanah tapi tidak sampah plastik. [caption id="attachment_23657" align="alignleft" width="300" caption="Sumber: Susan George, Pangan (1982)."][/caption] Yang paling menyedihkan melihat anak-anak kecil membeli jajanan-jajanan yang tak bergizi dan berpengawet itu. Sebagian anak-anak itu begitu tergiur dengan makanan itu. Mereka lebih suka makanan jajanan-jajanan tak bermutu itu daripada makan di rumah. Produknya macam-macam, bergelantungan di setiap warung di seluruh penjuru negeri ini. Kalau sudah berada di warung yang jumlahnya jutaan itu, siapa pula yang bisa jamin bahwa pemilik warung tidak menjual makanan-makanan instan yang sudah kadaluwarsa. Wong memeriksa supermarket dengan mengambil sampel saja pemerintah dan petugas yang berwenang sudah kewalahan. Makanan-makanan itu sudah berpengawet, tak begitu bergizi, eh, bungkusnya jadi beban untuk lingkungan pula. Saya belum mendata  dengan detil tetapi saya kira kondisi di Indonesia ini mirip Amerika. Pemilik perusahaan-perusahaan makanan hanya segelintir orang. Mereka menguasai pasar makanan-jadi dan memperoleh untung besar. ***

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun