Mohon tunggu...
KOMENTAR
Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Ramadhan dan Jejak-Jejak Peradaban

14 April 2021   12:26 Diperbarui: 14 April 2021   12:48 341 2

Setiap orang pasti membutuhkan skill (keterampilan) dalam kehidupan. Ada yang membutuhkan skill untuk bertahan hidup, seperti petani yang menggantungkan hidupnya pada keterampilannya mengolah lahan dan menanam berbagai bahan pangan. Adapula yang membutuhkan skill untuk membesarkan orang-orang yang dicintai. Seperti seorang ibu yang mengikhlaskan diri membersamai tumbuh kembang sang buah hati.

Skill dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu hard skill dan soft skill. Bagi seseorang yang ingin menguasai hard skill maupun soft skill, membutuhkan adanya pelatihan dan pembinaan.

Kemampuan membaca, menulis, menghitung, mengolah lahan pertanian, serta kemampuan lain yang secara fisik dapat terukur adalah beberapa contoh hard skill. Sedangkan beberapa contoh soft skill misalnya, kemampuan berkomunikasi, bernegosiasi, menganalisa masalah serta jenis kemampuan lain yang tergolong dalam pembangunan sifat seseorang.

Menulis merupakan salah satu contoh hard skill yang mungkin dikuasai oleh seseorang. Melalui keterampilan menulis seseorang bisa mendapatkan jutaan dolar. Seseorang juga bisa menumpahkan segala keluh kesah dan rasa gundah melalui keterampilan ini.

Melalui menulis, seseorang bisa mempropagandakan sebuah keburukan. Melalui menulis pula, seseorang dapat menyampaikan berbagai macam petunjuk dan kebaikan.

Jika seorang penjaga kuda mengikatkan kuda-kuda mereka agar tidak kabur dan menghilang, maka seorang ulama mengikatkan ilmu dan hafalan mereka pada kitab-kitab yang mereka tuliskan.

Hanya saja, keterampilan menulis bukanlah bakat bawaan. Dibutuhkan sebuah proses belajar dan pembiasaan.

Untuk bisa  menghasilkan sebuah tulisan, keterampilan pertama yang harus dikuasai oleh seseorang adalah keterampilan membaca. Semakin banyak membaca, semakin banyak informasi yang akan diterima. Oleh karena itu, semakin banyak pula ide yang akan bisa dituangkan dalam sebuah tulisan.

Kemampuan merangkai kata menjadi susunan yang bermakna, kemampuan memilih kata yang sesuai untuk menciptakan rasa, serta kemampuan untuk mengarahkan pembaca pada maksud yang diharapkan, merupakan beberapa keterampilan yang juga harus dikuasai oleh seorang yang ingin belajar menulis.

Alhasil, menulis itu memang bukan sesuatu yang mudah. Akan tetapi, juga bukan sesuatu yang mustahil untuk dipelajari. Oleh karena itu, semoga di Ramadhan tahun ini, keterampilan menulis bisa ditambahkan disamping keterampilan sebagai ibu rumah tangga.

Hanya saja, agar jemari lancar menggoreskan pemikiran, menulis butuh menjadi sebuah kebiasaan. Membangun sebuah kebiasaan, apalagi kebiasaan menulis, tentu bukanlah sesuatu yang gampang. Terdapat banyak tantangan dan dibutuhkan keistiqomahan.

Buntu menentukan ide tulisan, padahal ide berseliweran; Kesulitan melanjutkan tulisan, padahal sudah berhari-hari memikirkan; Tidak punya waktu untuk menulis, padahal santai seharian adalah beberapa contoh tantangan yang harus dipatahkan oleh orang yang ingin belajar menulis.

Oleh karena itu, Ramadhan kali ini, bisa dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan menulis disamping mencapai target-target amalan yang telah ditetapkan. Para pakar menyebutkan, minimal butuh 30-40 hari secara berturut-turut bagi seseorang yang ingin membangun sebuah kebiasaan. Dengan demikian, tepat kiranya mengisi hari-hari di bulan Ramadhan ini, untuk membangun kebiasaan baru, menulis.

Target menulis di bulan Ramadhan kali ini tidak perlu muluk-muluk. Tidak untuk menjadi seorang penulis jutawan. Tidak pula untuk menghasilkan karya buku yang populer dan menawan. Minimal, target menulis di Ramadhan kali ini adalah mampu menumbuhkan kecintaan untuk menuangkan pemikiran dalam sebuah tulisan dan meninggalkan jejak untuk peradaban.

Wallahu a'lam bish showab

KEMBALI KE ARTIKEL