Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Sepeda Angin Jadi Saksi

13 November 2022   22:34 Diperbarui: 13 November 2022   22:58 244 1
"Bu, Nisa berangkat dulu ya", pamit Anisa sambil mencium tangan Ibunya, Parmi.
"Ya Nak. Hati-hati", jawab Ibunya sambil mengecup kening anak sulungnya itu.
"Doain Anisa Bu, mulai hari ini ada test", pinta Anisa.
"Lho, kok ndak bilang dari tadi. Tau gitu kan biar Ibu yang keliling jualan kue. Biar kamu ada waktu buat belajar", tukas Parmi.
"Gapapa Bu, semalem kan sudah belajar. Alhamdulillah tadi kue nya sudah banyak yang terjual, ini sisa sedikit biar Nisa bawa ke sekolah aja, semoga ada yang minat. Biasanya musim ujian begini teman-teman jarang sarapan, sukanya jajan", jelas Anisa.
"Yo wes, semoga lancar semuanya", doa Ibunya.
"Aamiin. Assalamualaikum!", seru Anisa.
"Waalaikum salam".

Parmi melepas kepergian anaknya dengan seulas senyum bahagia. Dia bersyukur memiliki anak-anak yang sholeh sholikhah. Sejak ditinggal meninggal suaminya, dia harus berperan sebagai orang tua tunggal bagi kedua anaknya. Suaminya tidak meninggalkan harta berlimpah bagi mereka. Penyakit gagal ginjal yang dideritanya telah menghabiskan pundi-pundi tabungan yang selama ini mereka simpan. Selama ini mereka hidup dengan sederhana walaupun suaminya terhitung sebagai Kepala Bagian golongan IIIB. Gaji pensiunan yang didapat atas nama suaminya memang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi tahun terus berjalan, pendidikan pun terus berlanjut. Beruntung anak-anaknya dianugerahi otak yang cemerlang, seringnya mereka mendapat beasiswa untuk keperluan sekolahnya. Anisa si sulung sudah kelas 3 SMU, beberapa bulan lagi dia harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Adiknya, Akbar, sudah setahun ini mondok di pesantren ternama di daerah mereka, lagi-lagi dengan beasiswa.

Tak mau pendidikan anaknya terbengkalai,  Parmi pun tak mau berdiam diri mengandalkan gaji suami. Dia berusaha menjalankan bisnis kecil-kecilan. Segala usaha dia coba. Pernah membuka toko kelontong, tapi macet di tengah jalan karena tetangga banyak yang hutang, janji bayar satu atau dua minggu lagi, tapi ternyata malah pergi belanja ke tempat lain. Apalagi ada toko waralaba yang baru dibuka di desanya yang menawarkan harga diskon setiap saat. Pernah jadi tengkulak sembako, tapi uangnya dibawa lari supplier. Sempat ditawari Bu Marjo juragan bakery di desanya untuk menjualkan produknya keliling desa, tapi kondisi fisiknya sekarang sudah tidak memungkinkan lagi. Pekerjaan itu sekarang diambil alih anaknya. Sungguh, andai dia punya pilihan, tak sampai hati dia melibatkan anak-anaknya untuk bekerja. Sahabat dan kerabat menganjurkan dia menikah lagi untuk mengurangi beban hidupnya, tapi ah ... entahlah, rasanya hanya suaminya seorang yang ingin dia jumpai lagi di surga NYA kelak.
Parmi sekarang disibukkan dengan bisnis laundry nya yang semakin hari semakin rame dengan pelanggan baru. Pekerjaan yang melelahkan memang, tapi paling tidak, dia bisa tinggal di rumah.

Di atas sepeda angin itu Anisa menghapalkan kosakata-kosakata yang dia pelajari semalam. Bagi sebagian besar siswa, bahasa Inggris adalah mata pelajaran tersulit yang harus dipelajari. Tapi Anisa menyukainya. Baginya, kesulitan yang ada justru menjadi tantangan tersendiri. Belajar bahasa asing berarti juga belajar budaya mereka. Dia ingin bisa menguasai beberapa bahasa asing, karena dia bercita-cita ingin bekerja di perusahaan bergengsi antar bangsa, yakni PBB. Bekerja sekaligus traveling keliling dunia adalah impiannya.
Karenanya hari ini dia pun semangat mengayuh sepedanya. Tak menyadari ada motor melaju kencang di tikungan tajam di depannya. Brak ...

Anisa tak sadarkan diri. Tubuhnya terpental jauh sampai beberapa meter, jatuh di depan pembatas makam di pinggir jalan itu. Ramai orang berkerumun melihat kecelakaan itu. Pengemudi sepeda motor yang terjatuh dan mengalami lecet-lecet saja, segera diamankan beberapa orang. Beberapa pekerja toko mebel di sebelah makam segera mendekat hendak menolong tubuh kecil yang tak berdaya itu. Wajah gadis itu terluka. Bibirnya sepertinya terantuk batu, lebam. Darah segar mengalir dari pelipis. Ada luka lecet juga di kakinya. Kemeja putihnya koyak dengan noda tanah di sana sini, satu sepatunya terlempar tak jauh dari tubuhnya.
"Lho Nisa, ya ampun. Ini Nisa tetanggaku. Ya Allah nduk, kasihannya dirimu", seorang pekerja toko mebel yang mengenali Anisa sontak terkejut menghambur menghampiri Anisa. Dia menangis sesenggukan, sambil mendekap tubuh Anisa di pangkuannya. "Sadar Nisa, ayo sadar nduk. Jangan mati", ratapnya.
Pemilik toko mebel yang sigap mengeluarkan mobil dari garasinya segera merapatkan mobilnya di kerumunan orang itu. Pintu belakang terbuka, Anisa dibawa masuk ke mobil untuk segera dilarikan ke Puskesmas terdekat.

"Nisa ... ", sapa seorang lelaki paruh baya.
"Bapak ... ", jawab Nisa.
"Kok ada di sini?", tanya lelaki itu.
"Emang ini dimana?", tanya Nisa sambil melihat sekeliling. Hamparan rumput membentang seakan tak berbatas. Matahari seakan diubun-ubun, sinarnya membuat mata silau, tapi teriknya tidak mengandung panas. Angin sejuk menerbangkan aroma wangi kasturi.
Ayahnya terlihat muda dan sehat, tidak seperti terakhir dilihatnya di ranjang rumah sakit.
"Nisa kangen Bapak", ucap Nisa spontan. Pikirannya masih berkecamuk, antara senang dan sedih bertemu Ayahnya.
"Bapak juga kangen. Seneng bisa ketemu Nisa lagi. Tapi Nisa jangan di sini dulu, siapa nanti yang jagain Ibu sama adek?", tanya lelaki itu.
"Kapan kita bisa kumpul bersama lagi?", tanya Nisa balik, matanya mulai berlinang dengan air mata.
"Secepatnya ... ", jawab lelaki itu. Seulas senyum menghias bibirnya.

"Nisa ... bangun Nak. Ini Ibu". Isak tangis suara itu menyadarkan Nisa.
Putih ruangan itu, tapi tak ada rumput basah dan angin wangi kasturi. Seorang ibu paruh baya duduk di samping ranjangnya.
"Ibu ... ", jawab Anisa lemah.
"Ya Nak, ini Ibu", tangisnya semakin pecah.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Apanya yang sakit Nak?", tanya Ibu nya lagi.
"Wajahku perih, kakiku juga".
"Kamu sekarang dirawat di rumah sakit. Insya Allah segera sembuh. Sabar ya Nak".
"Maafin Nisa ya Bu".
"Nisa ga salah kok".
"Nisa ga hati-hati. Jadinya kayak gini, ga bisa sekolah. Kue-kuenya gimana? Bu Marjo marah ga? Nanti uang kuenya diganti sama uang tabungan Nisa aja ya".
"Udah, ga usah dipikirin itu. Yang penting Nisa sembuh dulu".
"Ini rumah sakit biayanya? Nisa mau pulang saja Bu".
"Gapapa sayang. Kan Nisa punya kartu BPJS dari Bapak, semua gratis. Ga perlu khawatir. Yang penting Nisa cepet sembuh biar bisa sekolah lagi".
Nisa hanya bisa mengangguk pelan. Efek infus masih terasa, sesaat Nisa merasa mengantuk. Dia memejamkan matanya kembali, berharap bisa bertemu Ayahnya lagi biarpun hanya sesaat.

Beberapa hari kemudian...
"Kami datang ke sini sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan anak kami, Hasan, sampai nak Nisa dirawat di rumah sakit", ujar lelaki berperawakan tinggi besar itu. Dia datang bersama seorang pemuda dan sopir, mengendarai pick up dengan sepeda angin bermerek di belakang baknya.
"Maafkan saya Bu, maafkan saya Nisa. Saya mengebut sambil melamun, tanpa sadar ada Nisa yang berbelok di tikungan", ujar seorang pemuda yang tak lain adalah pengemudi motor yang menabrak Anisa tempo hari.
"Kami sempet ke rumah sakit untuk mencari keberadaan nak Nisa dan mendapat informasi kalau nak Nisa sudah pulang dan biaya pengobatan ditanggung BPJS. Karenanya tanpa mengurangi rasa hormat, kami bawakan sepeda sebagai ganti rugi atas sepeda yang rusak karena ditabrak", jelas lelaki yang tak lain adalah ayah dari Hasan.
"Terima kasih atas niat baiknya nak Hasan dan Bapak. Alhamdulillah Nisa sembuh dengan cepat, itu karena dia juga tidak mau ketinggalan pelajaran di sekolah. Sepedanya ga banyak perbaikan kok, masih bisa dipakai. Jadi ga perlu repot-repot ganti", jelas Bu Parmi ramah.
"Mohon diterima Ibu, anggap saja sebagai hadiah. Kalau tidak, saya akan merasa bersalah seumur hidup", pinta Hasan tulus.
Anisa yang sedari tadi duduk di pojok ruangan terdiam akhirnya mengulas senyum. Dia melirik sepeda yang diturunkan sopir. Sepeda yang cantik, dia ingat pernah melihat sepeda itu di drama Korea, sepeda dengan keranjang di depannya. Dia bahkan pernah menghayalkan untuk bisa memiliknya. Dengan keranjang di depan, dia akan lebih leluasa membawa lebih banyak kue untuk ditawarkan sampai ke kompleks perumahan sebelah desa. Bak anak kecil dikasih hadiah, hatinya girang tak karuan.
"Terima kasih Bapak, terima kasih mas Hasan. Sepedanya saya suka", jelas Nisa tak mampu menyembunyikan kegembiraannya. Perih luka di wajahnya dan lebam di pahanya seakan sirna seketika.

Kring ... Kring ... Kring ...
"Kue kue ... Kue basahnya Bu, buat sarapan, buat bekal di jalan. Monggo dipilih dipilih, masih hangat", seru Anisa menawarkan barang dagangannya sesaat dia memarkir sepedanya di pelataran depan poskamling. Beberapa ibu-ibu muda yang sedari tadi ngerumpi di depan rumah segera menghambur mengerumuni Anisa.
"Wah, sepeda baru nih? Bagus!", seru Bu Made.
"Iya Bu, Alhamdulillah", jawab Anisa tersipu.
"Katanya dapat hadiah ya?", tanya Yu Na, kepo.
"Rejeki anak sholehah", timpal bu RT.
Anisa hanya bisa tersenyum tersipu.
"Syukurlah kamu cepet sembuh, kita ini suka kelaparan kalau ga ada kamu jualan kue. Secara, ngerumpi juga butuh tenaga", seloroh Bu Made.
"Iya Bu, Alhamdulillah. Tapi sebulan lagi saya juga bakal libur lagi selama seminggu, saya ada ujian akhir di sekolah", jelas Anisa.
"Mmm, gitu ya. Abis ini lulus sekolah dong, rencana mau kemana? Lanjut sekolah atau cari kerja aja", tanya Yu Na, kepo lagi.
"Belum tau juga. Mohon doanya, kalau nilainya bagus Insya Allah pengennya sih mau lanjut sekolah aja", jawab Anisa.
"Semoga terkabul hajatmu ya Nduk", ucap Bu RT.
"Aamiin. Makasih Bu", ucap Anisa tulus.
"Ada donatnya ga say?", tanya mba Mona, ibu muda cantik yang baru sebulan lalu menikah.
"Ada mba cantik, lengkap, mau toping apa, cokelat, kacang, keju atau serbuk gula?", tawar Anisa.
"Mau coba semua deh, ambil masing-masing 2 ya. Besok ingetin, aku mau pesen donat buat acara hajatan minggu depan", jelas Mona.
"Siap mba cantik", sambut Anisa senang. Pesanan kue datang, cuan mengalir ke saku pun terbayang.
Begitulah keseharian Anisa sebelum berangkat sekolah, bersepeda berkeliling kompleks perumahan untuk menawarkan jajanan kue yang diambilnya dari Bu Marjo. Pekerjaan yang melelahkan bagi remaja seusianya, tapi Anisa menjalaninya dengan gembira, tak ada keluh kesah. Keuntungan yang didapat dia tabung. Memang sedikit, tapi lama-lama bisa jadi bukit. Dia tahu apa yang diinginkannya tak murah, melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Dia tak mau menjadi beban ibunya. Mempunyai penghasilan dari hasil keringatnya, adalah suatu pencapaian tersendiri baginya.

Sore itu sesudah mengantarkan pesanan mba Mona, Anisa kembali ke rumah Bu Marjo bersama Ibunya, seperti yang diminta dalam pesan wa nya.
"Kalau memang mau libur selama persiapan ujian, gapapa, nanti tetap Ibu kasih persen kalau ada pesanan on line lewat nak Nisa. Nak Nisa fokus ujian saja, biar nanti nilainya bagus", jelas Bu Marjo.
"Tidak mengapa Bu, saya liburnya selama ujian saja", jawab Nisa.
"Begini lho. Makanya saya minta nak Nisa dan Bu Parmi datang sore ini. Ada hal yang mau saya bicarakan", ucap Bu Marjo.
Anisa dan ibu nya pun terdiam memasang telinga.
"Tau kan anak saya, Tiwi, yang kerja di Perancis? Pak boss nya itu baru kehilangan anak satu-satunya, sakit kanker apa gitu. Pak boss nya ini kerja di UN apa ya, itu lho yang ngurusin masalah pendidikan di dunia ... ", terang Bu Marjo.
"UNESCO", jawab Nisa.
"Ya bener, UNESCO. Nah, kerjaannya tuh keliling dunia, istri dan anaknya sering ditinggal di rumah. Sekarang anaknya kan sudah meninggal, istrinya sendirian lah di rumah. Beberapa hari lalu pak boss nya minta dicariin anak asuh buat nemenin istrinya. Kalau di luar negeri biasanya kan ada tuh sistem orang tua asuh buat pelajar dari negara lain. Pelajar ini bisa tinggal gratis di rumah orang tua asuh selama masa pendidikan. Pak boss nya ini bahkan mau jamin biaya pendidikan nya juga kalau ada yang mau jadi anak asuhnya. Ga tau kenapa, Tiwi tiba-tiba inget kamu Nak. Semalem dia telpon Ibu, nanya-nanya tentang kamu. Kok pas banget kamu sudah mau lulus. Ibu disuruhlah nanya, apa kamu berkenan jadi anak asuh dari pak boss nya Tiwi ini. Kamu kan pinter, bahasa Inggris mu jago, denger-denger kamu juga pengen kerja yang bisa keliling dunia. Orang tua asuhmu ini juga bukan orang sembarangan, pastinya kamu nanti dapat pendidikan dan kehidupan yang layak. Toh kamu juga ga sendiri di sana, ada Tiwi. Mungkin memang ini rejekimu, siapa tahu", jelas Bu Marjo panjang lebar.
"Perancis?", ucap Bu Parmi seakan tak percaya.
"Yang ada tower listrik segede Monas itu lho Bu. Siapa tau suatu saat kita bisa ke sana bareng-bareng jenguk anak-anak kita", seloroh Bu Marjo.
Anisa tak mampu berkata-kata, dengan berlinang air mata dia meremas tangan ibunya, memastikan bahwa mereka sedang baik-baik saja. Sungguh, seperti kejatuhan durian runtuh mendapat tawaran sebagus ini.
"Jangan, jangan dijawab sekarang. Makanya Ibu minta nak Nisa ga usah jualan kue lagi, fokus saja ke belajarnya. Kalau memang mau berangkat, nilainya harus bagus dong. Iya engga sih?", ujar Bu Marjo.
Seperti dikomando, Ibu dan anak itu pun menghambur memeluk Bu Marjo. Berterima kasih atas kabar baik dan kesempatan yang diberikan kepada mereka.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak Bu Marjo sudah inget anak saya atas kesempatan yang baik ini. Nanti kami diskusikan kembali gimana baiknya", ucap Bu Parmi.
Mereka berdua pun berpamitan pulang. Sepanjang jalan mereka berdiam diri, masing-masing berkecamuk dengan pikirannya. Anisa merasa bahagia tak terkira, impiannya bakal jadi nyata, melanjutkan kuliah dan bekerja di luar negeri. Tapi bagaimana dengan Ibu dan adiknya yang bakal jauh di mata?
Bu Parmi juga tak kalah bahagianya. Kebahagiaan sederhana seorang Ibu, melihat anaknya bahagia.
"Bagaimana Bu, diambil tidak? Saya hanya akan pergi kalau ada ijin dan restu Ibu", tanya Anisa memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Kita sholat istikharah dulu ya. Minta petunjuk sama Allah gimana baiknya", jawab Bu Parmi.
"Baik Bu. Apapun hasilnya, Anisa sayang Ibu", jawab Anisa sambil mendekat memeluk Ibunya.
"Ibu juga sayang Anisa".

Kring ... Kring ... Kring ...
Ibu-ibu muda pun berhamburan keluar rumah menyambut Anisa dan sepedanya.
"Assalamualaikum", seru Anisa.
"Waalaikum salam", jawab mereka.
"Lho, katanya udah ga jualan kue lagi. Kok masih beredar pagi ini?", tanya Yu Na, kepo.
"Alhamdulillah berkat doa Ibu-ibu semua, saya sudah lulus sekolah. Insya Allah saya akan lanjut kuliah. Jadi pagi ini saya pamit. Mohon maaf jika selama ini ada salah kata dan sikap yang kurang berkenan. Hari ini boleh ambil kue sesukanya, gratis. Tasyakuran saya sebagai bentuk terima kasih buat pelanggan baik hati dan cantik, Ibu-ibu semua", jelas Anisa panjang lebar.
"Alhamdulillah", seru mereka serempak.
"Selamat ya Nak Nisa", ucap Bu RT
"Semoga sukses ya say", harap Mona.
"Minta nope nya dong, biar nanti aku masih bisa kepo-kepo", seru Yu Na.
"Boleh", jawab Anisa sambil tersenyum.
"Gapapa kan ya. Aku kepo gini tuh sebenernya nge fans tau sama kamu. Kok yo ada orang cantik, pinter, berakhlak baik, sholehah... semua-semua diborong, paket komplit deh pokoknya", ujar Yu Na setengah nyinyir.
"Sirik tanda tak mampu nih", seloroh Bu Made.
"Ye, bukan sirik. Tapi boleh dong kagum, nyontoh yang baik, siapa tau ketularan", ujar Yu Na enteng.
Tawa mereka pun berderai.
Di belakang stang kemudi sepedanya, Anisa memperhatikan mereka lamat-lamat. Ibu-ibu muda dengan wajah tanpa riasan, bercengkrama, menghibah, layaknya dunia tercipta tanpa koma. Setumpuk kue-kue di keranjang sepeda dan di tas kresek yang tergantung di stang sepedanya. Sepeda angin roda dua kesayangan, pemberian makhluk Tuhan yang baik hati. Terparkir di tanah lapang depan poskamling kompleks. Sinar matahari yang bersahabat, kicau burung meningkahi aktivitas pagi. Gambaran sempurna yang tak bakal terlupa selama hidupnya. Kehidupan yang tak akan didapatinya nanti ... di Perancis.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun