Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Wong Cilik Ongklak Angklik

18 Desember 2016   01:19 Diperbarui: 18 Desember 2016   01:55 74 0

Kita sekarang hidup di era visualisasi selfish, dimana semua orang asyik dengan kegiatan pribadinya yang penting narsis dengan segala macam aktifitasnya. Lamban laun orang menjadi lunak dan terkesan pasrah akan nasib, seakan tak memiliki pilihan dan suara hati. Mereka terkunci dengan bayang-bayang masa depan yang hanya bisa dilalui dengan kepasrahan. Orang bingung tak dapat mengeluh tentang kesejahteraan dan kebutuhan konsumtif mereka. Mereka hanya bisa nerimo, atau diwujudkan dalam bahasa jawa mengeluhkannya dengan bahasa "kahanan(keadaan)" meski begitu mereka tak berhenti untuk bermimpi menjadi orang yang sukses dunia maupun akhirat. Banyak orang ingin berpetualang lewati kehidupan yang pada dasarnya mereka anggap lucu ini, karena pandangan mereka akan dunia hanya bersifat sekunder sedang yang mereka utamakan adalah ukhrawi. Dewasa ini mengajarkan pada kita jika dalam teori Heiddeger tentang "sein" dan "zeit" bahwa yang mencapai sein hanya ada segelintir orang dan menyadari bahwa dirinya masih memiliki kesejatian diri. Atau dalam arti kata lain mereka masih mementingkan kesejatian yang paling dalam. Jika dalam bahasan tasawuf orang seperti ini lebih suka dengan narsis jiwa dibanding narsis raga. Mereka lebih mementingkan alam epifenom mereka daripada fenomenologi yang mereka sadari hanya sebuah aktualisasi bayangan ruh mereka. Para manusia dengan kesadaran semacam ini hanya ingin bekerja demi mendapat ridho dan beribadah untuk Allah SWT. Tak hayal cita-cita untuk meraih sesuatu menjadi sesuatu yang seolah tasalsul"tak berujung", karena hubungan yang ingin dijaga adalah min Allah(dari Allah), Lillah(untuk Allah) dan Fillah(kepada Allah). Harapan inilah yang membuat orang semakin pd dan bersyukur atas pekerjaan yang dilakukannya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan