Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Artikel Utama

Respek Saat Memotret Acara Keagamaan

27 Mei 2010   06:41 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:56 1364 1

[caption id="attachment_151224" align="alignright" width="300" caption="Borobudur at Dawn. Photo by: Kristupa Saragih"][/caption] Ketika semakin banyak orang punya kamera, semakin ramai pula fotografer berkerubut di acara-acara keagamaan. Memang acara keagamaan adalah subyek menarik nan fotogenik. Tapi ada respek pada etika yang musti ditempatkan di atas segala dalih membuat foto bagus. Acara keagamaan adalah acara keagamaan, yang patut dihormati siapapun juga termasuk fotografer. Saya saksikan sendiri rekan-rekan yang memegang kamera kerap kali abai terhadap etika dan respek. Ada baiknya kita saling menghimbau dan mengingatkan, bahwa tatkala kita sedang beribadah tentu butuh kekhusyukan. Artinya, ada baiknya tak berhilir mudik di tempat yang mengganggu perhatian dan kekhusyukan umat yang sedang beribadah. Hormati tempat suci, orang-orang yang disucikan dan perlengkapan ibadah. Tempatkan diri kita sebagai umat yang beribadah, yang tak ingin diganggu ketika sedang memanjatkan doa kepada Yang Mahakuasa. Tip teknis: 1. Gunakan lensa tele. Agar tak perlu mendekat, yang beresiko menggangu umat yang sedang beribadah. Jika mendekat, Anda beresiko pula berada "in the line of fire" alias "ditembak" rekan Anda sendiri sesama fotografer 2. Simpan lampu kilat dan gunakan hanya jika amat perlu. Dengan demikian, Anda mengurangi resiko mengganggu kekhusyukan ibadah. 3. Bawa alat seperlunya. Satu-dua lensa cukup, tak perlu membawa seluruh isi toko kamera dalam tas Anda. Jangan sampai tas raksasa Anda menyenggol umat, apalagi merusak perlengkapan ibadah. Selain itu, minimalisir kemungkinan Anda kehilangan alat. 4. Hit and run. Potretlah dengan segera dan lekas menghilang. Tak perlu berlama-lama di tempat yang sama, agar tak mengganggu ibadah dan sebaiknya lebih kreatif mengekplorasi tempat dan sudut pemotretan. Lakukan review foto di LCD kamera setelah Anda undur diri beberapa langkah ke belakang. 5. Cukupi diri sendiri. Jangan merepotkan panitia acara agama dengan pinjam ini-itu, numpang charge baterai dan titip tas kamera. Jangan pula merepotkan rekan lain sesama fotografer dengan pinjam-meminjam alat di lokasi, yang mustinya bisa dilakukan sebelum berangkat ke lokasi. Tip non-teknis: 1. Baca dan tanya mengenai acara yang akan difoto. Pelajari subyek yang akan difoto, rencanakan waktu pemotretan, dan prediksi sudut-sudut pemotretan yang bagus tapi tak mengganggu. 2. Berpakaian sama seperti umat. Hormati acara agama yang sedang berlangsung. Selain itu, kehadiran sebagai fotografer tak terlalu menarik perhatian. 3. Patuhi instruksi panitia dan simak tanda-tanda larangan. Hal ini berlaku untuk menghormati tempat-tempat suci, dengan asumsi agama Anda tak sama dengan upacara agama yang sedang berlangsung. Jika upacara yang berlangsung adalah acara agama Anda, tentu sudah bisa menginstruksikan diri sendiri. 4. Jaga kebersihan. Bungkus baterai, plastik air mineral, dan bungkus makanan yang Anda konsumsi selama motret ada baiknya dibuang pada tempatnya. 5. Berbagi. Sebelum dan pada saat memotret jangan kikir berbagi informasi mengenai acara yang sedang difoto. Alih-alih ingin dapat foto yang tak dipunyai orang lain, malah tak dapat foto bagus karena Anda pun tak dapat info dari rekan sesama fotografer. Sepulang ke rumah, bagikanlah hasil foto Anda dengan cara menggunggahnya ke blog pribadi atau komunitas fotografi online. Kita terusik jika di tengah-tengah ibadah sholat Ied ada fotografer yang berseliweran di antara umat yang sedang sujud sembahyang. Kita tak ingin ada kilatan lampu blitz dari samping mimbar pendeta yang sedang khotbah Natal. Kita prihatin jika ada biksu yang terganggu doa Waisak-nya lantaran ada kamera dengan lensa wide jeprat-jepret dari ujung lututnya. Kita tak ingin melihat di bawah ogoh-ogoh Tawur Agung menyambut Nyepi ada kerumunan fotografer yang sibuk berebut angle foto. Lama-lama fotografer bisa dijadikan salah satu ogoh-ogoh kelak. Fotografi mustinya dimanfaatkan sebagai wahana belajar, dengan motivasi memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan. Muaranya adalah mental yang dewasa, intelektualitas yang matang, dan kebijaksanaan yang kritis. Tanpa mental, intelektualitas dan kebijaksanaan maka niscaya fotografi hanyalah hasil rekaman kamera yang hampa dan tak membawa kebaikan bagi harkat hidup manusia. Tulisan sebelumnya: Memotret Acara Keagamaan Tanpa Mengganggu

KEMBALI KE ARTIKEL