Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Budaya Baju Koko Vs Budaya Malu

21 April 2012   11:31 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:19 455 1
Apakah dengan menggunakan pakaian yang merupakan identitas agama, misalnya baju koko dapat mencegah seseorang melakukan hal yang tidak bermoral?

Sejatinya bisa! Seseorang yang sudah mantap mengenakan pakaian yang mewakili agamanya akan berusaha menjaga perilaku dan moralnya.

Pasti akan merasa malu bila tidak bisa berlaku sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Berkenaan dengan pernyataan seorang tokoh Betawi yang menegaskan, bahwa bila seseorang menggunakan baju koko bisa mencegahnya urung untuk korupsi.

Sebenarnya masuk akal. Kalau begitu semestinya budaya memakai baju koko dan kopiah serta kerudung wajib dikembangkan.

Pemerintah seharusnya segera membuat aturan agar semua pejabat negara wajib memakai baju koko dan kopi setiap hari.

Begitu juga dengan Ketua DPR, mestinya segera mengeluarkan aturan. Selain tidak bola menggunakan rok mini, semua anggota DPR wajib memakai baju koko dan kerudung.
Tapi yang menjadi pertanyaan. Apakah akan efektif untuk menjadikan para pejabat dan anggota DPR bebas korupsi?

Seperti kita ketahui. Pada saat ini seseorang mengenakan baju keagamaan, dalam hal ini baju koko dan kopiah. Kebanyakan sekadar sebagai identitas, pencitraan, dan menarik simpatik.

Apakah ada yang benar-benar menjaga perilakunya ketika berpakaian baju koko? Pasti ada! Tapi pastinya juga tak banyak.

Mengapa ketika seseorang menggunakan pakaian yang merupakan identitas agamanya, perilaku dan moralitasnya tidak terjaga?

Hal ini menandakan budaya malu sudah hilang atau tinggal bayangan. Dalam hal ini saya tidak perlu memberi contoh.Nanti dikira mengada-ada dan menghakimi.

Silakan lihat saja kenyataan yang ada di masyarakat dan simpulkan sendiri.

Boleh juga diri saya yang menjadi contoh nyata. Di tempat ibadah saya, semua umat diwajibkan mengenakan baju putih lengan panjang. Mau bos atau pengangguran.

Tujuannya untuk mengingatkan, bahwa hati kita itu putih bersih. Tidak boleh berpikiran macam-macam. Cukup satu macam. "Saya orang baik!"

Apa kenyataannya? Hati dan pikiran saya paling bisa putihnya cuma 5 persen. Itupun timbul tenggelam. Sisanya segala macam warna ada. Kebanyakan hitam. Tidak tahu malu, kan?

Ya, budaya malunya masih tipis, sehingga lebih sering memalukan! Saya kira sebagian besar yang baca beda-beda tipislah dengan saya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun