Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Wayang dan Kekuasaan

24 Agustus 2010   19:50 Diperbarui: 26 Juni 2015   13:44 538 0

“Cerita dalam pewayangan sering dikaitkan dengan kekuasaan terutama kekuasaan Jawa. Tokoh di dalamnya menggambarkan kepribadian yang dapat dicontoh untuk Akumulasi kekuasaan sesungguhnya”

Umumnya masyarakat Indonesia mengenal wayang sebagai hiburan, beberapa tokoh dalam dunia pewayanganpun menjadi sebuah daya tarik untuk diterjemaahkan kedalam kehidupan sehari-hari bahkan lebih jauhnya lagi dalam kekuasaan. Sebagian para intelektual menganggap bahwa wayang mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah sejarah bangsa.

Wayang sendiri ada dua versi, versi raja dan versi rakyat. Versi raja selalu digambarkan dengan keindahan dan kebenaran selalu ada pada raja sementara versi rakyat dibalik semuanya, raja bisa dicaci maki Punakawan bahkan Gareng bisa jadi raja.

Adalah Sunan Kalijaga yang memakai wayang sebagai penyebaran agama Islam, namun perkembangan wayang sendiri tidak hanya sampai disitu, seni gerak tangan yang menampilkan cerita-cerita kerajaan ini diyakini telah mempengaruhi psikologi masyarakat jawa dalam kemerdekaan Indonesia.

Dalam sejarah kepemimpinan bangsa, Soekarno presiden pertama RI ini, aktif berperan sebagai tokoh pewayangan. Kadang ia menjadi Bima, Gatot Katja atau Arjuna. Kusno, mencoba untuk menerjemaahkan situasi politik saat itu kepada masyarakat terutama masyarakat Jawa dengan memerankan salah satu tokoh pewayangan.

Sang proklamator itu, menggunakan falsafah dalam peran pewayangan sehingga rakyat pada saat itu percaya bahwa Soekarno adalah perwakilan mereka, Soekarno diposisikan sebagai pandhito sekaligus brahmanin yang paling tinggi. Tampak sebuah situasi yang biasa terlihat dalam pewayangan, yaitu timbulnya loyalitas dari kawula terhadap Kromo (rakyat pada Soekarno).

Peran dalam pewayangan ternyata dilakoni juga oleh Soeharto, pada masa pemerintahannya yang pertama ia sukses menempatkan dirinya sebagai penguasa. Mantan Kasad ini berhasil mengangkat dirinya sebagai raja yang baik, bahkan ia pun berhasil menerapkan wayang versi raja. Kabarnya, tahun 1980, suami dari Ibu Tien ini mendudukan dirinya sebagai semar.

Namun, pada paruh kedua ia berkuasa, ia gagal memerankan tokoh dalam pewayangan karena ia berhadapan dengan generasi yang sudah modern, ia akhirnya dilengserkan.

Lantas bagaimana dengan SBY ? Siapa tokoh pewayangan yang ia perankan saat berkuasa. Perlu satu pemikiran yang mendalam untuk mengungkapnya, cerita pewayangan sedang berjalan yangmembawa putera Pacitan itu. bisa memerankan Semar, Asmuni, Gatot Katja, Dorna atau Kurawa. Yang jelas, wayang adalah cermin kekuasaan sesungguhnya yang tejadi di negeri ini.

KEMBALI KE ARTIKEL