Mohon tunggu...
KOMENTAR
Love Pilihan

Dijodohkan atau Bukan, Kebahagiaan Diciptakan Sendiri

27 Mei 2021   09:48 Diperbarui: 27 Mei 2021   09:50 117 3

Baru Menikah.

Sejoli nikah, entah dengan mencari sendiri pasangan maupun dijodohkan, memiliki peluang untuk bahagia hanya jika mereka sendiri yang menciptakannya. Hanya ada satu kunci untuk menciptakan kebahagiaan itu: Memelihara situasi dan kondisi bahagia pada awal kebersamaan.

Inilah kunci yang paling sulit digunakan. Tak heran jika setiap hari ada begitu banyak pernikahan maupun perceraian. Ironisnya, yang menarik perhatian orang dan melegenda justru kisah-kisah sejoli yang tragis, mungkin karena perjuangan gigih dan pengorbanan para sejoli itulah yang menjadi inspirasi. Ini terlihat antara lain dari kisah Sampek Engtay, Legenda Ular Putih, dan Romeo dan Julia. Ketiganya adalah kisah percintaan dari sejoli yang mencari dan menemukan sendiri belahan jiwanya.

Mungkin juga kisah-kisah ini yang menjadi pertimbangan tambahan gadis-gadis zaman dulu selain nrimo dengan keputusan penjodohan oleh orangtua, lihat artikel saya: Mengapa Orang Zaman Dulu Bersedia Dijodohkan?

Semua pernikahan karena penjodohan ini meyakini "nikah dulu baru cinta." Ketidakbahagiaan akibat pernikahan karena penjodohan ini diterima sebagai takdir, dengan perasaan yang sedikit melegakan "masih lebih baik ketimbang jodoh dipilih sendiri namun ujung-ujungnya juga tidak bahagia."

Dari sejarah Indonesia bisa dibaca kisah pernikahan Ki Ageng Mangir, antara lain dari novel drama berjudul Mangir, yang berakhir tragis dengan tewasnya Mangir. Cinta Mangir kepada istri yang dipilihnya sendiri pupus setelah dia menyadari bahwa sebenarnya pernikahannya sejak awal diatur oleh ayah mertuanya untuk sebuah tujuan politik.

Di zaman sekarang dengan kemajuan yang pesat dalam segala bidang, apakah pernikahan karena penjodohan ini masih ada? Jawabannya: ada. Lihat saja bagaimana sistem pernikahan masyarakat puritan yang bukan hanya tidak mengizinkan anak menikah dengan orang yang bukan anggota masyarakatnya, tapi dalam rangka menjaga kemurnian "darah keturunan," anak dinikahkan dengan sepupunya.

Kesimpulan yang saya ambil tentang kunci kebahagiaan di atas adalah hasil pengamatan saya, dan di sini saya menyajikan beberapa contoh yang sangat "unik" yang pernah saya lihat sendiri, yaitu pernikahan beberapa teman saya. Untuk tujuan menjaga privasi mereka, saya tidak menyebutkan nama.

1. A adalah seorang pria tampan dengan postur tubuh yang tinggi, seorang pemain piano di sebuah gereja. Seorang gadis teman segereja A diam-diam jatuh cinta kepadanya. Ayah gadis ini adalah orang yang berpengaruh, dan A pun "dibeli." Hubungan A dengan istrinya setelah menikah dari hari ke hari semakin memburuk. Salah satu alasannya adalah karena ada kebiasaan A yang di luar kelaziman umum (bukan kelainan seksual). Akhirnya A diceraikan oleh istrinya. Beberapa tahun kemudian A mendapat seorang pacar, namun hubungan mereka tidak berlanjut sampai ke jenjang pernikahan karena alasan yang sama, pacarnya tidak tahan dengan kebiasaan A. Setelah itu A mendapat pacar lagi dengan penjodohan oleh pihak ketiga, menikah, sampai punya anak satu. Ketika anaknya masih berusia 10 tahun, A meninggal dunia.

2. B adalah anak seorang yang terpandang. B berpacaran dengan gadis teman kuliahnya. B dan pacarnya masing-masing mendapat pekerjaan tak lama setelah lulus kuliah. Mereka sama-sama menabung dan 2 tahun kemudian memutuskan untuk menikah. Kartu undangan sudah disebarkan. Namun, ternyata seperti A, ada seorang gadis, anak seseorang yang sangat berkuasa, yang diam-diam jatuh cinta kepada B. B pun "dibeli" dan bahkan menjadi penghuni dari apa yang diistilahkan pada masa itu (entah masih dipakai atau tidak sekarang): Pondok Mertua Indah (PMI). Pernikahan B dengan pacarnya dibatalkan oleh ayah gadis ini. Pacar B memilih melajang sampai tua. B sendiri yang semula merasa sangat terpaksa, menerima keadaan itu karena calon istrinya jauh lebih cantik ketimbang pacarnya. Mereka lalu punya anak satu dan ketika anak ini berusia 13 tahun, B mulai pacaran lagi di luar. Istri B, dengan dukungan ayahnya, melakukan segala upaya untuk mempertahankan pernikahannya, namun akhirnya B begitu saja meninggalkan anak istrinya dan menikah dengan pacar barunya dan sempat memiliki anak satu sebelum meninggal dunia.

3. C adalah seorang pria baik, tapi sangat mengutamakan karirnya sampai-sampai dia "lupa menikah." Suatu hari, pada usia yang sudah lumayan tua, C bertemu dengan seorang gadis. Mereka berpacaran dan akhirnya menikah. Pada waktu itu, kata C kepada saya, usianya hanya 3 bulan lebih tua daripada........... ibu mertuanya. Mereka punya anak dua, yang sulung sekarang di SMA, dan saya senang melihat kebahagiaan rumahtangga mereka, karena C, kemudian istrinya, adalah sahabat saya.

Jonggol, 27 Mei 2021

Johan Japardi

KEMBALI KE ARTIKEL