Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary

Eid Mubarak 1442 H

13 Mei 2021   10:33 Diperbarui: 13 Mei 2021   15:42 293 1

Eid Mubarak 1442 H.

Kepada rekan-rekan Kompasianer maupun non-Kompasianer yang merayakannya, Eid Mubarak 1442H, selamat menyambut hari yang Fitri di awal bulan Syawal, selamat Hari Lebaran setelah lebaran puasa di bulan Ramadhan yang mendahului Syawal, dan supaya lengkap, Selamat Hari Rayo buat teman-teman asal Tanjungbalai Asahan.

Itulah tipikal seorang pemerhati bahasa seperti saya, dan jangan heran kenapa saya menggunakan frasa "lebaran puasa," karena lebaran adalah bahasa Jawa yang bermakna "selesai," lihat artikel saya: Kemampuan Berbahasa Asing Anda Begitu-begitu Saja? Metode Sim-ak Solusinya:
......... dan pada gilirannya tidak bisa lagi membedakan antara "lébar" (wide atau width dalam bahasa Inggris) dengan "lebar" yang berasal dari bahasa Jawa yang artinya selesai (berpuasa selama bulan Ramadhan).

Barusan, oleh putri dimas A. Asmasubrata, seorang tetangga sekaligus sahabat sekaligus saudara saya, saya diantari sepiring lontong lengkap dengan lauk ayam opor, rendang dan dendeng sapi, dan sambal kentang, dan esensi hantaran itu adalah berbagi kebahagiaan agar saya juga ikut merasakan kebahagiaan keluarga adik saya ini, kebahagiaan yang dicapai karena kemenangan atas perjuangan mengalahkan diri sendiri. Tak apa-apalah, di bulan Ramadhan tahun ini saya tidak bisa melepaskan kerinduan saya akan citarasa bubur pedas yang pernah saya kisahkan sekilas dalam artikel Kartini-kartini yang Tersembunyi (atau Disembunyikan?).

Kebahagiaan yang disandang oleh setiap sendok lontong yang saya suapkan ke mulut saya itu juga sudah membuat saya melupakan bubur pedas, walau tidak sepenuhnya. Beda lontong beda pula bubur pedas.

Ini membangkitkan dengan intens kerinduan saya yang lain, yakni kerinduan akan suasana di kota Tanjungbalai Asahan, kota kelahiran dan kampung halaman saya, dan kerinduan untuk bertemu sahabat-sahabat lama.

Semasa saya di SD s/d SMA di Tanjungbalai, saya memiliki banyak sahabat dan kami membina dan mempererat persahabatan kami dengan sebuah prinsip utama: tidak memandang SARA. Di sini saya ingin bercerita tentang kerinduan saya kepada sahabat sejak SD yang hanya bisa saya lepaskan dalam pikiran, alm. Abdul Malik, yang biasa kami panggil Malek, atau oleh teman-teman yang agak nakal, Apong Malek (ini adalah penuangan kreativitas anak SD Tanjungbalai karena merupakan plesetan dari Apam Balik). Apakah dari nama kami yang mirip makanya kami bisa seperti lepat dengan daunnya? Nama saya Yap Juhong dan nama panggilan saya Ipong, hahaha. 

KEMBALI KE ARTIKEL