Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Nenek Sulit Anametan: Iman yang Hidup

23 September 2021   16:49 Diperbarui: 23 September 2021   16:50 155 1
Umurnya sudah renta. Keriput kulitnya begitu jelas. Jalannya perlahan tertatih. Pandangan matanya kelihatan makin kabur. Sedikit pendiam. Mungkin karena kekuatan untuk bicara juga melemah. Diajak berbicara baru bersuara.
Nene, di Sulit Anametan.

Walau keadaan begitu, ia tidak pernah absen untuk datang ke rumah Tuhan pada hari Minggu. Padahal jarak antara rumah dan Kapela Tualaran sangat jauh. Berbekal niat yang kuat, hati yang tulus, kesiap sediaan, ia selalu menunggu di depan rumah bila saya atau Rm. Lando lewat menggunakan mobil. Saya atau pastor Lando berhenti dan membuka pintu untuk ia numpang. Ini rutinitasnya setiap hari Minggu.

Entah mengapa si Nene di umur tuanya selalu rajin ke gereja. Padahal seharusnya ia menghemat tenaganya dengan duduk diam di rumah. Seharusnya ia duduk diam menjaga dan menghibur diri dengan bermain bersama cucu atau cecenya di rumah. Seharusnya ia tidak perlu membiarkan kulitnya semakin disengat udara panas atau dingin atau tiupan angin yang bisa membuatnya sakit. 

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun