Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

[Cerpen Tiga Paragraf] Senja dan Angin Malam

30 April 2021   11:59 Diperbarui: 30 April 2021   12:01 281 42

# Senja

Seekor kerbau berkubang dalam lumpur. Di sore itu, Johan mengikat tali di leher kerbau dengan terburu-buru. Sebelum mentari berselimut awan gelap dan cahaya hilang berganti pekat. Johan harus menaruhnya di dalam kandang. Petang, waktunya untuk pulang.

Seekor harimau kurus, mengintai dari semak-semak. Ia menatap tajam pada seekor kerbau dalam genangan air. Ia Menanti aba-aba untuk menerkam. Tak peduli manusia berada di ujung tali, lapar dan dahaga harus terobati. Sedikit lagi, perjalanan jauh dari hutan rimba yang berganti warna akan terbayar pasti.

"Tolong, ada harimau!" terbirit-birit Johan menghindar, melepas tali pengikat kerbau dalam genggaman. Bercak-bercak darah membuatnya tak kuasa berbuat apa-apa. Kini, kerbau menjadi mangsa harimau. Dan Johan berlari menyelamatkan diri. "Biarlah harimau merasa kenyang, setelah habis mangsanya di dalam hutan."

# Angin Malam

Pesta di gelar menjelang malam. Penduduk kampung berbondong-bondong datang membawa seluruh keluarga. Ibu-ibu dan anak-anak menari dan bernyanyi. Hidangan tapai lemang sudah tersedia di kanan dan kiri. Bapak-bapak menuang tuak di balai bambu. Memainkan musik dan tertawa tanpa henti. Lampu pijar berwarna-warni setiap sudut menghiasi dekorasi.

"Tolong, ada harimau!" terengah-engah Johan kelelahan. Riuh warga menyambut gelisah. Seorang tua membawa Johan ke muka untuk berbicara. Tak lama, ibu-ibu membawa anak-anak pulang ke rumah. Bapak-bapak mengambil parang, pedang, tombak dan panah. Berlarian ke ujung kampung. Memburu pemangsa yang tanpa sadar, telah mereka rusak habitatnya.

Seekor harimau, tak habis memakan kerbau. Ia minum dalam kubangan. Tuntas sudah lapar dan dahaga. Namun, tak ada tempat untuk kembali. Pohon-pohon telah ditebang, dan mangsa di hutan sudah menghilang. Kini ia termenung dalam kubangan. "Kena!" sebuah tombak tertancap di perutnya yang baru saja terisi makanan. Harimau tak lagi dapat mengaum. Tatapannya lirih pada kerumunan manusia di hadapan.

**
Cerita ini hanya fiktif belaka, kesamaan nama, tokoh dan tempat hanyalah kebetulan semata.

Penulis: Dian Albatami untuk Inspirasiana.

KEMBALI KE ARTIKEL