Mohon tunggu...
KOMENTAR
Edukasi

Mengapa Rektor UI Harus Profesor atau Guru Besar?

14 September 2019   08:12 Diperbarui: 14 September 2019   08:17 55 0

Pemilihan Rektor Universitas Indonesia menyisakan 20 kandidat yang tersisa. Dari jumlah tersebut, tujuh diantaranya bergelar Profesor, sedangkan sisanya bergelar Doktor.

Sebagai kampus terbaik di negeri ini, kita tentu saja menginginkan sosok yang kredibel dan mumpuni untuk memimpin UI. Apalagi, Universitas Indonesia disebut-sebut sebagai pemancar cita dari bangsa Indonesia di dunia Internasional.

Oleh karena itu, Rektor yang bergelar Profesor harusnya menjadi keniscayaan untuk kampus sebesar UI. Ini bukan soal gelarnya, tetapi soal nilai-nilai di baliknya.

Mengapa Rektor UI harus Profesor?

Pertama, Rektor adalah pemimpin tertinggi dalam suatu universitas. Dia membawahi pengajar dan pekerja akademik yang orientasinya adalah keilmuwan.

Maka sudah pantas dan selayaknya, bila pemimpin Universitas itu adalah seorang Profesor atau Guru Besar, yang juga menempati posisi tertinggi dalam kasta keilmuwan.

Profesor merupakan jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon Doktor. Dalam struktur keilmuwan di universitas, gelar Profesor ini berada di posisi puncak.

Kedua, Profesor adalah seorang Guru Besar dengan sisi keilmuwan yang mumpuni. Seorang Profesor biasanya sosok yang matang dalam cabang ilmu tertentu. Ia bukan amatiran lagi, tetapi sangat profesional.

Seseorang dengan kemampuan akademik seperti inilah yang seharusnya memimpin Universitas. Ia diharapkan akan mampu membawa visi kemajuan pada universitas tersebut.

Logikanya, bagaimana mungkin sosok yang tak kredibel secara keilmuwan akan memimpin lembaga pendidikan yang basisnya adalah ilmu? Tentu, tak masuk akal. Maka, sudah sangat tepat jika sebuah Universitas dipimpin oleh seorang Guru Besar.

Ketiga, Profesor bukan soal gelar akademik saja, melainkan juga cerminan kualifikasi pribadi. Sosok Profesor bisa dipastikan merupakan pribadi-pribadi yang telah memiliki rekam jejak panjang dalam aktivitas ilmiah, dan pengabdian di kampus.

Gambarannya, mereka itu sudah bertahun-tahun belajar, mendalami dunia riset, dan menemukan beberapa temuan yang berguna untuk masyarakat luas. Kapasitasnya tak diragukan lagi, baik dari segi ilmu maupun integritas personal.

Sosok Guru Besar yang bijak bestari sangat cocok bila memimpin Universitas. Hal ini sesuai dengan filosofi pendidikan itu sendiri.

Dari beberapa argumen di atas, maka sudah sepantasnya bila kita menginginkan sosok Profesor sebagai Rektor UI.

Dalam Peraturan Pemilihan Rektor, gelar Profesor memang bukan syarat mutlak bagi seorang kandidat. Yang dipersyaratkan adalah gelar akademik Doktor atau S3.

Namun dengan mempertimbangkan argumen di atas, memilih sosok Profesor sebagai Rektor UI juga bukan pelanggaran. Justru akan membawa kebaikan yang lebih banyak. Logikanya, jika ada sosok yang lebih mumpuni, mengapa memilih yang kurang?

Apalagi, dalam tradisi UI, seorang Rektor selalu bergelar Profesor. Hanya dua dari sekian banyak Rektor UI yang bukan Profesor. Tradisi ini pastinya mengandung nilai dan makna yang dalam, diantaranya seperti argumen di atas.

Itulah yang menjadi alasan bahwa Rektor UI sebaiknya adalah sosok yang bergelar Profesor. Setuju?

KEMBALI KE ARTIKEL