Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Silakan Nikah Muda Asal Jangan Merepotkan Orangtua!

27 Desember 2020   14:16 Diperbarui: 28 Desember 2020   17:42 342 40

Zaman sekarang nikah muda sedang jadi tren.  Banyak remaja-remaji berbondong-bondong duduk di pelaminan.  Kata "menghalalkan kamu" pun merebak di mana-mana bagai jamur yang tak tersentuh salep kulit yang bintang iklannya Om Jaja Miharja.

Kalo menurut saya sih mau nikah muda kek, nikah dini kek, seterah lah karena itu hak masing-masing hooman. Namun jangan sampai menyesal di belakang.  Ya, kalo dikejar anjing boleh lah menyesal di depan.

Oke deh menyesal mah urusan masing-masing juga, tapi jangan ngajak-ngajak orang lain buat ikut sengsara wabilkhusus orang tua.

Kemarin ini ada seorang ibu yang curhat bahwa semenjak putranya menikah bukannya kebahagiaan yang menghampiri malah kepuyengan yang menyambangi.

Putranya baru menginjak usia 22 tahun ketika meminang gadis yang ia pacari dengan durasi waktu sekitar 6 bulanan. Dan yang membuat saya ternganga adalah motivasi sang bocah eh anak tersebut menikah yaitu karena mantan pacarnya sudah move on duluan dengan naik ke pelaminan bersama pria pujaan hatinya.  Dia julid, kakak!

Lha ... lha ... ini nikah apa dolanan sih? Herman Felani eh hemran iissh heran hamba ya Tuhan.

Sebagai orang tua tunggal, ibunya tak kuasa melarang karena sang anak keuhkeuh pateukeuh dengan berbekal argumen-argumen "ideal"-nya

Akhirnya perayaan pernikahan pun dihelat yang tentu saja dananya dari orang tua kedua mempelai.  Suka ria bagai raja dan ratu sehari dengan iringan orkes dangdut yang biduannya tampil seksoy geboy asoy melehoy.

Kedua pengantin baru itu pun tinggal dengan ibu si anak pria. Beberapa bulan berlalu dengan kebahagiaan namun tibalah saat di mana masalah rumah tangga mulai muncul.

Keadaan finansial sang imam keluarga yang belum mapan pun menjadi biang keroknya. Ya, sumber keuangan si anak selama tidak menghasilkan uang adalah ibunya. Gak punya uang tapi keinginannya segudang.

Mau makan, jajan, rokokan, piknik, minta ke sang ibu. Saya bilang, jangan diberi, dia kan sudah punya istri, sepantasnya lah untuk mecari solusi dan memeras keringatnya sendiri.  Namun sang ibu tak tega melihat anaknya bercucuran air mata sambil menghiba. "Hiba Hamba"-nya Beatheaven keren, lha ini hiba bocah minta uang, ya meneketehe!

Masalah pun semakin menumpuk ketika sang menantu melahirkan anak pertamanya. Jeng .. jeng... jeng...

Apa yang terjadi? Bisa ditebak ibunya pun harus meng-cover semua biaya dari lahiran sampai tetek bengek lainnya.  Dan selanjutnya? Sang ibu itu pun curhat misuh-misuh di hadapan saya.  Yawalah, apa salah hamba sampe harus mendengar curhatan yang bikin emosi jiwa gara-gara duo bucin yang ngebet nikah tapi gak mikir konsekuensinya.  

Kasus menikah muda lumayan banyak di daerah sekitar saya dengan berbagai varian masalahnya. Tak ayal, gedung pengadilan agama selalu penuh sesak oleh pasangan-pasangan muda yang ingin bercerai.  

Pertinyiinnyi, kenapa sih banyak remaja kinyis-kinyis yang ngebet banget menikah walau belum mampu secara finansial maupun mental?

Alasan pertama karena romantis,  rokok makan gratis keleeeuusss.  Banyak orang menggilai keromatisan apalagi bila didukung senja atau rintik hujan, eh.  Iyak, romantis bisa serumah berdua tanpa ditemani syaitonirrojim. Melakukan semua hal berdua, pokoknya hanya berdua, sisanya sapi semua.

Hal-hal indah pun muncul di pelupuk mata,  jauh dari dosa karena hubungan kasih sudah halal dan punya anak-anak yang lucu setelahnya.  Pokoknya memiliki keluarga bahagia bagai keluarganya ughtea Mega.

Mereka gak kebayang bila setelah berumah tangga ada banyak hal yang harus dilalui.
Selain masalah ekonomi. Masalah lain pun akan gercep mendekati seperti konflik dengan pasangan, keluarga, bahkan tetangga.  Belum lagi masalah kebosanan, pengasuhan dan biaya sekolah anak, serta tentu saja pekerjaan.  Ribet kan?  Mikirin diri sendiri aja masih ruwet.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa gak punya cita-cita ingin meneruskan sekolah yang lebih tinggi kek,  mencari pekerjaan yang mapan atau sekedar menseriusi hobi sampai menggapai prestasi? Bagaimana dengan membahagiakan orang tua? Lha ini alih-alih membahagiakan malah jatuhnya menyengsarakan.

Bila sekiranya orang tuanya sultan sih gak masalah walaupun gak dibenarkan juga sih karena urusannya bukan hanya harta.  Lha kalo pas-pasan? Ya bikin masalah di atas masalah itu mah.

Jadi ya para pemuda-pemudi harapan bangsa, menikah muda silakan saja tapi harus memikirkan hal-hal yang mengikutinya.  Jangan membayangkan yang indah-indahnya saja, bagian buruknya pun harus ikut dipikirkan, diresapi, dan diselami karena sejatinya hidup berumah tangga itu gak hanya untuk ena-ena semata.

Selagi usia masih muda, sibukan lah diri sambil menyusun bekal masa depan yang menanti. Namun bila sudah kebelet ingin menikah tapi ekonomi pas-pasan,  tunda dulu memiliki momongan.  

Jangan sampai dedek bayi yang dilahirkan menjadi tanggungan kakek neneknya karena orang tuanya tak sanggup membiayai semua kebutuhannya.  Itu sih namanya ngerepotin pangkat dua ribu tahun cahaya.  Mosok sudah jadi orang tua masih minta disuapin oleh orang tua, apa kata dunia?


Sekian.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan