Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

Dear MU, Jangan Jadikan Ronaldo "Pak Luhut" seperti di Juventus!

12 September 2021   11:15 Diperbarui: 12 September 2021   11:28 249 3

"Juventus telah membeli senjata nuklir paling mematikan, namun sayangnya, mereka tak tahu cara menggunakannya."

Komentar bernada sarkasme dari Jose Mourinho tadi, setidaknya menggambarkan betapa Juventus telah sangat memubazirkan Ronaldo, selama 3 musim kebersamaannya di Italia.

Merekrut Ronaldo, tidak ujug-ujug membuat sebuah tim menjadi pemenang. Sepakbola ialah permainan kolektif 11 pemain, yang meski di sana ada Ronaldo, tidak akan berbuah apa-apa, jika pemain sekelas Federico Bernardeschi yang menjadi penopangnya.

Tanpa bermaksud mengecilkan peran seorang Bernardeschi, namun jika sebuah tim memiliki pemain sekaliber Ronaldo. Mereka setidak-tidaknya juga harus memiliki pemain yang mampu menerjemahkan gerak-gerik Ronaldo, di manapun ia bermain.

Sederhananya, saat Ronaldo mengaktifkan mode sebagai seorang "target man" di depan. Pemain lain haruslah bisa menciptakan umpan-umpan matang, sekaligus membuka ruang bagi pergerakan Ronaldo.

Bukan malah memaksa Ronaldo mencari bola, kemudian membiarkannya membuka ruang bagi dirinya sendiri. Ronaldo tidak se-superman itu.

Di musim pertamanya di Juventus, Ronaldo memang bisa membawa Juve menjadi kampiun di Serie A. Kiprahnya saat melawan Atletico di Liga Champions musim itu, menjadi salah satu momen paling heroik Ronaldo. Namun dari sana sebetulnya kita sudah bisa melihat sebuah ironi, bahwa gap antar pemain di Juventus memang sangat kasat mata dan memprihatikan.

Punya Ronaldo di depan, namun lini tengah mereka hanya diisi oleh pemain sekelas Matuidi & Khedira. Keduanya memang bukan pemain ecek-ecek, namun perlu diakui, masa prima dari kedua pemain ini sudah lewat.

Matuidi & Khedira tak mungkin bisa menjadi penyokong Ronaldo yang sempurna. Keduanya ialah lubang yang mesti segera ditambal oleh Juve. Sialnya, jangankan menambal, Juve malah membuat lubang-lubang kecil baru, yang menjadikan mereka ibarat ban bocor halus, namun menyebar sekeliling.

Tidak ada pebalap yang mampu memenangkan balapan dengan kendaraan bocor. Itulah mengapa, Juventus di era Ronaldo sampai harus mengganti 3 pelatih. Tetapi tak ada satupun yang memuaskan. Sebab kebocorannya tak pernah diatasi.

Statistik berbicara, bahwa Ronaldo menjadi pemain yang paling berkeringat di Juventus. Ironisnya, tak ada pemain lain yang jumlah takaran keringatnya menyamai, atau paling tidak, mendekati keringat Ronaldo.

Kesenjangan nilai rapor ini, sayangnya cuma diartikan sebagai buah dari sistem yang tak berjalan baik. Seolah skema pelatih sebelumnya sudah usang, sehingga ia layak dijadikan satu-satunya kambing hitam. Padahal kita tahu, persoalannya bukan di situ.

Itulah mengapa, Juventus memilih jalan pintas. Menggonta-ganti sistem mereka lewat pergantian pelatih, namun menutup mata pada lubang-lubang yang semestinya dihilangkan terlebih dulu.

Sistemnya diganti, namun penyokong sistemnya tidak ditingkatkan. Ya apa bedanya dengan ban bocor, tapi yang diperbaiki malah spion yang kendor?

Untuk menyerang, Juventus mengandalkan Ronaldo. Mencetak gol, mengandalkan Ronaldo. Bertahan, Ronaldo. Serangan balik, Ronaldo.

Ronaldo tidak hanya menjadi pemain kunci, Ronaldo adalah Pak Luhut bagi Juventus. Apa-apa diserahkan kepada Ronaldo. Sementara pucuk pimpinan tertinggi di Juventus, hanya bisa melengos ngeles tiap kali dipertanyakan kinerjanya, seraya menjawab; "Ya ndak tau, kok tanya saya?"

Hari ini Ronaldo sudah tak lagi berseragam hitam-putih. Ia telah pulang ke Manchester, setelah sedekade lebih berpetualang dari menang ke menang.

Bukan tilikan rekor yang membuatnya pulang, bukan pula iming-iming soal masa depan. Ronaldo pulang, murni ditenagai oleh cinta. Sesuatu yang tak membuatnya harus berpikir dua kali, meski menerima pinangan klub yang bermusim-musim tengah pincang.

Debut kepulangannya semalam, tidak hanya suguhan manis bagi para penggemarnya. Tetapi juga ironis bagi klub yang ditinggalkannya. Sebab sepeninggal Ronaldo, Juventus kini memiliki lubang yang lebih besar lagi.

Ronaldo tampak amat menikmati pertandingannya semalam. Ada gairah besar yang hangatnya bisa menembus layar gawai, entah bagaimana menjelaskannya. Efektifitas serangan yang optimal, permainan satu-dua yang cepat. Sebuah suguhan yang amat menyenangkan dinikmati.

MU sendiri terlihat lebih padu semalam, seolah mereka telah menemukan lagi kepingan dari tubuhnya yang hilang, yakni sosok kepemimpinan. Sesuatu yang tak bisa diisi oleh pemain manapun, dan rupanya hanya bisa dilengkapi oleh Ronaldo seorang.

Seolah MU telah menambal lubang terbesarnya di musim-musim terdahulu, dengan mendatangkan Ronaldo. Sebuah kontradiksi dari apa yang telah dilakukan Juventus terhadap Ronaldo, memaksanya berjuang sendirian. Kemudian menyalahkannya, atas segala kegagalan Juventus. Menyedihkan.

Ah, padahal kalau saja dulu, Juventus mau pelan-pelan memperbaiki skuadnya, mengisi lubang-lubang kosong dengan pemain-pemain yang sesuai dengan kebutuhan. Juventus tidak hanya mampu berlari kencang, melainkan juga bisa terbang. Bersama kepak sayap kebhinekaan, yang tidak bergantung pada Ronaldo seorang.

Semoga MU tak sebodoh Juventus. Sukses selalu, Ronaldo!

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan