Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Monolog Cermin

9 September 2021   09:12 Diperbarui: 9 September 2021   09:17 384 67
Fajar menyinsing, tak pernah kulewatkan berbincang dengannya kala pagi. Dengan sebuah cermin untuk berkaca menemani. Jangan engkau menertawai. Bahwa cermin ini hanya benda mati. Dia sangat memahami lahir pun batin diri.

Cermin memuji walau rambut acak-acakan didepannya. Masih menempel tahi mata. Cantik alami, sembur cermin menggoda. Kala aku berdandan kau mulai terlihat cemburu dan bertanya. Mau ke mana? Bibirku mulai bergincu, dan dirimu merajuk tak bicara.

Ah jangan engkau memarahiku. Aku akan selalu kembali padamu. Bukankah engkau sebagai penghiburan saat mendung menggantung di mata. Engkau yang selalu ada saat mata mulai berkaca-kaca. Jangan menangis lagi bisikmu dalam lara.

Aku semakin tua, keluhku pada suatu ketika. Sambil meraba kontur muka yang mulai keriput. Engkau tetap masih memuji, kecantikan itu dari jiwa nan elok, jujur dalam kebaikan. Wahai cermin, walau warnamu mulai kusam kita berdua menua. Kita saling berkaca dalam cahaya buram sepanjang masa. Suatu saat kau akan retak berderai, kita akan bercerai. Aku pun pasti pergi tanpa bisa dilerai.

FS, 09 September 2021

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun