Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Tentang Hidup Sederhana

21 Juni 2020   16:40 Diperbarui: 21 Juni 2020   16:42 350 55

Pada hari Minggu tanggal 21 Juni 2020, di kota kami berlaku pemadaman listrik total dari jam 06.00 wib - 15.00 wib. PLN sudah memberi pengumuman jauh hari sebelumnya. Kalau listrik padam, sinyal untuk internet atau HP juga ikut tenggelam. Jadi mohon maaf, di hari minggu ini saya tidak berkunjung ke artikel-artikel sahabat kompasiana.

Hari minggu adalah hari saya untuk berbelanja mingguan. Karena saya kadang WFH (Work From Home) dan kadang juga WFO (Work From Office), saya mesti masak pagi-pagi. Untuk itu harus selalu ada tersedia bahan makanan untuk dimasak. Mungkin bagi orang lain lebih praktis beli dari pada masak. Tapi saya tetap mengusahakan memasak tiap hari. Menu rumah makan, kebetulan disini banyak rumah makan Padang, menunya tetap itu-itu saja. Seperti rendang, dendeng, ikan bakar, gulai ikan, dll. Kalau terus-terusan beli membosankan juga.

Lagian di daerah kami terdapat ketersediaan bahan makanan yang beraneka ragam. Beraneka jenis ikan dari Danau Kerinci, ikan-ikan sungai, belut dari sawah (bukan budidaya), ikan-ikan laut dari pesisir juga banyak. Karena daerah kami bukan dipinggir laut, ikan-ikan laut didatangkan dari kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Pesisir Selatan/Prov. Sumatera Barat.

Nah dengan keanekaragaman bahan lauk pauk, begitu juga sayur mayur, mau masak apa saja rasanya lebih mudah. Memasak sendiri juga lebih menyehatkan, apalagi di masa pandemi ini. Jika kita memasak sendiri, kebersihannya terjamin, tanpa bumbu penyedap, garam mungkin bisa kita kurangi.

Ketika listrik padam, Ibu-ibu yang punya ketergantungan pada listrik resah. Kalau saya sih santai saja. Memasak lauk-pauk dan sayur bisa di kompor, tidak masalah. Memasak nasi saya menggunakan periuk/dandang/kukusan. Mencuci pakaian bisa direndam di baskom, dikucek lalu di bilas, selesai. Tidak perlu memakai mesin cuci. Menyetrika? Kalau dulu, orang-orang membakar tempurung lalu di masukan ke setrikaan manual. Namanya setrika arang. Dulu keluarga kami punya, tapi kini sudah rusak. Untuk menyetrika pakaian kita pending saja dulu.

Ketika pekerjaan rumah saya selesai, HP saya juga sudah terkapar kehabisan batere, saya bertandang kerumah tetangga. Keluarga muda, tapi punya anak empat. Saya tanya, sudah selesai masak apa belum. Dia bilang, beli saja lah. Listrik kan padam, tidak bisa masak nasi pakai magic com. Lho kan bisa masak nasi di kompor seperti saya. Tidak bisa katanya. Ya ampun, kenapa tidak bisa masak nasi?
Dengan 4 orang anak ditambah Ibu dan Bapak, totalnya enam orang jadi kalau beli 6 bungkus nasi dong. Itupun hanya untuk sekali makan.

Akhirnya saya turun kedapur, mengajari Ibu muda ini memasak nasi. Resepnya sederhana saja, setelah beras di bersihkan, dimasukkan ke dalam periuk dan ditambah air dengan ukuran dari permukaan.beras ke permukaan air jaraknya 1 ruas telunjuk. Dah itu sudah pas. Dimasak sampai mengering,  lalu di kukus sebentar. Di jamin nasinya ngga mentah. Beda kalau memasak beras ketan, beras dan air sejajar. Tidak berjarak sama sekali. Mudah-mudahan ngerti ya.

Akhirnya saya selesai membantu tetangga saya memasak nasi, menggoreng telor dadar, menggoreng ikan asin balado, dengan sayur genjer. Sederhana, murah dan sedap kan ya, dari pada beli nasi bungkus. Waktu saya masih kecil, ibu saya kalau di bulan puasa bangunnya jam 2 dini hari untuk masak nasi. Pakai kayu bakar pula. Dulu mana ada magic com.

Saya kalau ke kantor juga membawa nasi plus lauk sendiri. Karena saya punya gangguan pencernaan gastritis alias maag. Jadi mesti sering diisi dengan porsi sedikit. Makanya kalau saya beli nasi bungkus, saya akan membuang nasinya 2/3, karena yang saya makan hanya 1/3. Nah kan jadi mubazir. Perut saya tidak bisa diisi penuh, malah akan muntah jika dipaksa diisi penuh.

Apakah saya terlalu hemat atau pelit? Hingga tidak mau beli makanan jadi. Tidak juga, kalau saya tidak sempat memasak juga sering beli lauk pauknya. Tapi nasi tetap dimasak sendiri. Makan diluar juga sering, melepas selera kata orang.

Btw, memasak untuk keluarga itu kewajiban seorang Ibu. Memasak dan menyajikan makan sehat untuk keluarga. Saya kadang prihatin juga terhadap Ibu-ibu membiarkan anak-anaknya masak mie instan sendiri. Asal kenyang menurut saya. Hingga ada anak-anak yang tidak mau makan kalau tanpa mie instan. Nah ini kan tidak baik untuk kesehatan. Ibu-ibu muda yang arisan di cafe, makan enak tapi anak-anak dirumah disuruh masak mie instan sendiri atau disuruh jajan jajanan yang tidak sehat. Ibu-ibu boleh berkegiatan tapi urusan dapur dan lain-lainnya beres. Ada juga yang menjadi kritik saya terhadap Ibu-ibu yang mampu beli handphone atau gadget mahal untuk anaknya, tapi tak mau membiayai anaknya les. Penting otak apa penting gengsi sih. Harga gadgetnya belasan juta tapi bayar les anaknya yang cuma seratus ribu perbulan perhitungan. Ckckck....prihatin.

Kita sebagai Ibu, lebih baik menahan diri untuk tidak konsumtif. Yang tidak penting-penting jangan dilakukan. Keinginan ingin barang ini itu di.rem, hendaknya lebih mementingkan kebutuhan yang primer/yang penting banget daripada keinginan-keinginan tidak jelas. Mengikuti trend? Anda bukan sosialita kan? Lagian majangin foto memakai barang branded, kurang menarik lagi. Malah dicibir orang. Hidup sederhana itu lebih bahagia. Tanpa harus memikirkan orang lain seperti apa, tanpa harus berkeinginan seperti orang lain. Sangat membahagiakan jika kita menjadi diri sendiri. Ayo ngopi....

Simple life is better.....

FS, 21 Juni 2020

KEMBALI KE ARTIKEL