Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Dia Adalah Dia

21 Maret 2014   11:29 Diperbarui: 3 November 2015   23:22 317 4

Dia dicari semua orang, Dia dibicarakan dimana-mana, bahkan Dia dipertentangkan banyak orang, namun Dia tetap Dia, dan Dialah yang telah menghadirkan semua makhluk, mengkreasi alam semesta. Status dan IdentitasNya selalu didamba, wujud-Nya tiada dua, tidak ada yang mampu menandingi-Nya, sebab Dia satu dan mandiri dalam kesendirian-Nya. Dia telah membuktikan kehadiran-Nya dan wujud-Nya pada semua makhluk, Dia tak terlihat oleh kasaf mata, namun bisa dirasakan kehadiran-Nya didalam hati semua manusia tanpa terkecuali, dari manakah Dia dan siapa Dia, masih banyak manusia mencari-Nya dan mencoba dengan segala macam bentuk keyakinan agar bisa mempercayai adanya Dia, dan menyakini wujud-Nya sebagai sang Pencipta dan Penata segala-galanya.

Dia disebut dan dipanggil dengan berbagai macam istilah, Istilah yang paling sering disebut dan semua agama sepakat mengatakan-Nya Tuhan, tanpa ada pertentangan, bahkan bila ditanya siapa Tuhan? jawaban Pencipta (bahasa Indonesia) The Creator (English) masih sepakat, bila ditanya nama dari Tuhan (Pencipta) disinilah terjadinya perbedaan dan perdebatan, bagi mereka umat Budha mengatakan-Nya Sang Hyang Widhi (Budha) bagi umat Kristiani menyebut-Nya (Jesus) bagi umat Islam Allah. Anehnya umat Kristian masih berbeda-beda untuk mengistilahkan Tuhan mereka, sebab agama mereka sudah terjadi pertentangan dan aliran yang masing-masing mengistilahkan Tuhan dengan istilah mereka. Perpecahan di umat Islam juga terjadi namun hanya cara dan tatanannya yang berbeda, namun istilah untuk Tuhannya tetap sama الله (Allah).

Kalau ditanya mengapa umat Islam berbeda dalam menjalankan keyakinannya terhadap DIa atau Tuhan, jawaban sederhananya" sebab masih terjebak dengan budaya dan kepentingannya masing-masing. Padahal kalaulah kita menyadari hasil dari kerja dan karya Dia atau Tuhan pasti sama dilihat dan dirasakan oleh seluruh manusia, maka kalaulah bisa sama melihat dan merasakan hasil karya-Nya, mengapa terjebak dan tidak bijak dalam mengistilahkan nama untuk Tuhan, sementara karya-Nya bisa sama dirasakan dan diyakini, jawaban saya" karena ego dan malu untuk mengakui yang benar.

Sedikit contoh perbedaan dalam istilah. Sakit(Indonesian) Sick(English) Suka(Indonesian) Like(English) Senang = Happy, istilah berbeda namun yang dirasakan oleh semua orang didalam dirinya pasti sama, kalaupun terjadi perbedaan hanya dalam menjelaskannya. Lalu mengapa begitu istilah untuk menamakan Tuhan terlalu sulit di selaraskan? kalau kita meyakini Tuhan ada maka pasti ada Istilah untuk Dia, pasti ada nama yang benar untuk Dia, sebab tidak mungkin Dia menciptakan dan membiarkan makhluk-Nya berbeda dalam menyebutkan dan mengistilahkan Dia, layaknya sarana yang ada pada tubuh manusia yang telah Dia cipta, mulai dari mata, telinga dan hidung, hanya berbeda dalam sebutan namun wujud-Nya tetap sama terlihat dan dirasakan oleh manusia, begitu pula istilah Tuhan pasti ada jawaban yang benar, tinggal kita saja mau jujur mengakui dan menyadari sebelum terlambat, sebab agama dan keyakinan yang dibuat oleh manusia bisa banyak cara dan banyak istilah, maka kembalilah pada keyakinan hati anda layaknya bahasa suara hati nurani manusia dan perasaan yang mendalam dari diri seorang makhluk, pasti tak mungkin berbeda.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun