Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Kampung Hujan Bulan Juni

13 Juli 2021   21:03 Diperbarui: 13 Juli 2021   21:14 257 12
"Hujan bulan Juni."

"Iya, hujan bulan Juni dimana kau?"

"Hujan bulan Juni."

"Datanglah hujan bulan Juni, kami menantimu setiap waktu."

Teriak para warga sahut menyahut pada suatu pagi di bulan Juni tepatnya di musim dingin. Mereka terus berteriak, lalu teriakan-teriakan itu keluar beradu cepat dengan angin, sesekali teriakan itu terperosot masuk ke dalam fentilasi.

Sesekali lagi teriakan itu dengan bebas masuk ke pintu rumah dan jendela-jendela. Lalu menyusup masuk kedalam rongga terlinga setiap manusia. Anehnya, teriakan mereka tidak pernah putus apalagi habis.

Padalah teriakan itu mereka keluarkan sejak dini hari sampai saat senja terperosot masuk kedalam temaram. Teriakan itu mengema, bisa terdengan walau ribuan mil jaraknya. Teriakan itu lebih tajam dari anak pana yang dibidikkan.

"Hujan bulan Juni, guyurlah tanah kami. Suda kami sediakan drum besar dibawah langit."

Kalimat itu mereka teriaki saat mereka tinggal di atas bukit yang jaraknya dengan awan gemawan berkisar lima puluh meter. Saat senja kian temaram dan mendung menghinggapi cakrawala.

"Begitulah kisah kampung teriak hujan bulan Juni." Kata kakek Dahlan sembari menyulut kreteknya. Sementara aku masih serius menyimak ceritanya.

"Lantas, apa gerangan membuat mereka harus teriak seperti itu?" Tanyaku lagi.

"Lah karena waktu itu hujan bulan Juni tidak kunjung menguyur tanah mereka. Terakhir hujan bulan Juni itu menguyur tanah mereka empat puluh tahun lalu." Jawab kakek Dahlan.

Aku terdiam sesaat, pikiranku masih terjerambab masuk kedalam kaldera tanya yang membingungkan. Kenapa tidak hujan bulan Mei, atau April, bahkan September. Toh hujan kan sama saja.

"Kenapa tidak hujan di bulan lain, harus huja bulan Juni yang mereka harapi?" Tanyaku lagi.

Kakek Ahmad membaikkan posisinya lalu lanjut berkisah.

Dahulu di kampung yang belum diberi nama kampung teriak hujan bulan Juni, terdapat bendungan besar dengan irigasi yang baik. Puluhan tahun masyarakat di sana bergantung hidup pada bendungan tersebut, mulai dari makan minum sampai mengairi sawah dan ladang mereka.

Naas, suatu kejadian tidak terduga datang. Di suatu pagi di bulan Maret saat aram temaram kian hilang, hujan lebat trun dengan lebatnya, disertai juga dengan badai yang hebat. Tidak butuh lama, hujan bulan Maret itu menghantam semua. Bendungan dan irigasi pun rusak parah.

Disini awal mula penderitaan muncul. Para penduduk juga harus menuai derita yang mendalam saat pemerintah setempat tidak lagi membangun ulang bendungan dan saluran irigasi.

"Kenapa pemerintah tidak lagi membangun ulang bendungan dan saluran irigasi itu?" Tanya memotong pembicaraan.

"Ah kau ini, dengar dulu jangan dulu menyalami apalagi menyusup saat aku sedang berkisah." Kata kakek Dahlan lalu kembali melanjutkan.

Dikarenakan kepala adat tidak lagi menyumbangkan suara politik bagi kontestan politik yang telah membangun bendungan dan irigasi mereka. Mereka membelot, dan akhirnya mereka pun menuai segala kesengsaraan.

"Ah, lagi-lagi suara. Kenapa sih politik lebih identik dengan jual beli suara? Orang yang mengotori politik dengan pikiran mereka yang dipenuhi hasrat itu, seakan tidak pernah berpikir akan jadi apa generasi kemudian yang mencontohi mereka hari ini." Gumamku.

Kesengsarana tidak sampai disitu, berdasarkan pakar geofisika. Kondisi alam saat itu sedang di hantam hujan asam. Hal inilah membuat banyak tanaman mereka kurus kerontang kemudian mati.

Setiap hujan yang turun menyugur tanah mereka mengandung keasaman yang tinggi, membuat setiap tumbuhan tidak sanggup menyokong tengorokan mereka. Akar-akar, batang, ranting dan daun harus pasrah dengan nasib mereka yang di gerogoti asam.

Akhirnya ada seorang peneliti hujan yang kehebatannya tiada yang bisa menandinginya datang memberi secercah harapan. Dengan kehebatannya, dia bisa membela hujan menjadi beberapa bagian dengan klasifikasi unsurnya.

Sang peneliti itu meneleti hujan yang turun di setiap bulan. Butuh waktu tiga tahun lamanya batulah sang peneliti itu merampungkan penelitiannya. Sang peneliti itu menemukan ada satu hujan yang kualitasnya sangat baik di antara hujan lain.

Hujan itu adalah hujan yang turun di bulan Juni. Maka perburuan hujan bulan Juni itu di mulai. Setiap penduduk berlomba-lomba meletakan drum besar untuk menampung hujan bulan Juni yang turun itu.

Bahkan sebuah bukit yang jaraknya tiga kilo dari kampung pun mendadak jadi lautan manusia saat bulan Juni. Di bukit itu intensitas curah hujan bulan Juni diyakini lebih lebat dari pada di tempat-tempat lain.

Karena hujan bulan Juni langkah, maka hujan bulan Juni itu di kemas dengan rapi kemudian dijual bebas di toko-tokoh. Setiap orang yang tidak dapat bagian akan mencari dan membelinya sekali dipatok dengan harga yang mahal.

"Hujan bulan Juni, satu kemasan ukuran satu kilo seratus ribu rupiah."

"Mari, di jual murah hujan bulan Juni. Satu kemasan ukuran satu kilo tujuh puluh ribu."

"Hujan bulan Juni, satu kemasan ukuran tiga kilo tiga ratus ribuh."

Bagitulah teriak para penjual yang saling sahut menyahut di pasar. Disana bahkan emas dan nikel seperti tidak ada harganya. Padahal itu yang paling di cari dan diburuh manusia. Namun penderitaan seakan jadi sahabat karib mereka. Lagi-lagi, penderitaan itu menghampiri mereka. Penderitaan itu hadir menebar guyur resah, gelisa dan kepiluan disana.

Iya, selang empat tahun kemudian, hujan bulan Juni tidak lagi kunjung datang. Mereka selalu menanti dan terus menanti, hujan bulan Juni tidak pernah datang lagi. Sampai empat puluh tahun, mereka terus menanti dan selalu menanti.

"Jadi seperti itu kisah lengkapnya." Ujar kakek Dahlan menyudahi ceritanya.
                                ***
Suatu malam di musim dingin, aku sedang duduk di berandah toko buku. Tiba-tiba, seorang perempuan cantik mengenakan jacket tebal dengan khimar sofft grey masuk ke dalam tokoh. Lalu bertanya ke kasir,

"Disni jual hujan bulan Juni?"

Tanyanya itu buat aku kaget bukan main Kasir juga sama kagetnya. Lalu kasir itu menjawab.

"Kami tidak jual hujan bulan Juni disini mbak."

"Lantas, apa yang kalian jual?" Tanya perempuan itu sembari melihat tumpukan buku yang tersusun rapi di setiap rak.

"Kami hanya jual buku bacaan mbak."

Perempuan itu masih diam sembari mengamati juga membuka satu persatu buku yang tersusun rapi itu. Lalu di tariknya sebuah buku dan menujukan ke kasir.

"Ini mbak yang saya maksudkan. Buku hujan bulan Juni."

Si kasir lalu menarik napas panjang dan berkata, "Oh iya mbak, buku hujan bulan Juni karangan pak Sapardi Djoko Damono."

Mateketen, 12 Juli 2021

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun