Mohon tunggu...
KOMENTAR
Money

Era Baru Terbentang

14 Juli 2014   08:43 Diperbarui: 18 Juni 2015   06:23 128 8
Hiruk-pikuk politik sudah mencapai puncak. Rakyat telah menentukan pilihan pasangan presiden mereka pada 9 Juli lalu. Kita tinggal menunggu penetapan akhir soal hasil pemilihan presiden oleh Komisi Pemilihan Umum pada 22 Juli 2014 minggu depan. Setelah itu adalah kerja keras memenuhi janji kampanye, mewujudkan harapan rakyat yang menggelora bagi perubahan mendasar. Era baru terbentang.

Tidak ada kerusuhan. Tak setetes darah pun menitik di bumi pertiwi karena bentrok antar-pendukung. Media cetak, televisi, dan media sosial berjasa sebagai kanalisasi konflik, sumpah serapah, ancaman, dan saling klaim kemenangan. Semua pelaku bermanuver di arena terbuka.

Tidak ada kekuatan berarti yang melakukan gerakan bawah tanah. Sedikit kejanggalan, selalu ada yang berteriak. Dalam keterbukaan seperti itu, praktis tidak ada rongga, tidak ada ruang untuk melakukan kecurangan masif.

Itulah kemenangan rakyat yang telah dalam genggaman. Sepatutnya momentum ini terjaga hingga pemerintah baru nanti menjalankan mandat rakyat.

Proses pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden yang damai merupakan modal utama menjaga stabilitas makroekonomi di negeri ini.

Dalam hal memberikan kepastian usaha, proses politik di Indonesia jauh lebih menjanjikan ketimbang di negara tetangga ataupun di negara emerging markets. Bertolak dari keunggulan relatif itu, kita harus mampu memanfaatkan peluang emas yang mungkin tak akan berlangsung lama.

Penanaman modal asing langsung berpeluang naik menembus 20 miliar dollar AS tahun ini. Sementara itu, arus masuk modal portofolio neto diperkirakan bakal mencapai rekor baru mengingat selama triwulan pertama tahun ini saja sudah mencapai 9 miliar dollar AS. Rekor tahunan sebelumnya sebesar 13,2 miliar dollar AS terjadi pada tahun 2010.

Arus modal asing menjadi sangat penting karena penanaman modal dalam negeri tak bisa terlalu banyak diharapkan naik signifikan tahun ini, kecuali Bank Indonesia mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

Bank Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan perubahan kebijakan Bank Sentral AS yang sudah hampir pasti akan menghapuskan stimulus pada Oktober mendatang.

Sejauh ini, pasar Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Sampai Rabu pekan lalu, pasar saham telah memberikan imbal hasil dalam dollar AS sebesar 23,1 persen, tertinggi keempat  dengan perbedaan tipis dibandingkan di atasnya yang ditempati India, Pakistan, dan Argentina.

Imbal hasil pasar saham Indonesia jauh lebih tinggi ketimbang indeks Dow Jones Industrial Average di New York Stock Exchange (Wall Streeat), Amerika Serikat, yang hanya 2,5 persen dan di kawasan euro 1,5 persen.

Arus masuk investasi asing diperkirakan dapat menutup defisit akun lancar (current account) sehingga tekanan terhadap rupiah mereda. Pemerintah dan Bank Indonesia jangan lagi cepat nyinyir kalau nilai tukar rupiah menguat. Jangan hanya mengandalkan kemerosotan nilai rupiah untuk mendongkrak ekspor.

Struktur industri dan perdagangan membuat pemelahan nilai rupiah terhadap dollar AS lebih banyak berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah baru nanti yang harus melakukan reformasi struktural untuk membenahi kerapuhan struktur perdagangan luar negeri di hampir segala lini, baik perdagangan barang maupun perdagangan jasa.

Agenda jangka menengah ini harus beriringan dengan akselerasi industrialisasi dan pengintegrasian pasar domestik Indonesia lewat perwujudan konsep Pendulum Nusantara.

Bank Indonesia bisa menambahkan energi kepada presiden baru untuk mengakselerasikan kembali pertumbuhan ekonomi. Tumbuh sekadar 6 persen akan membuat hari tua mayoritas rakyat jauh dari sejahtera.

Jika pertumbuhan rerata pada periode tahun 2013-2030 hanya 6 persen, pendapatan per kapita Indonesia tahun 2030—berdasarkan nilai dollar AS tahun 2012—hanya 8.532 dollar AS. Tiada kata lain kecuali harus bergegas.

Kontrak politik baru akan terasa hambar kalau keadilan tidak ditegakkan. Memberangus mafia yang telah banyak mendistorsi kebijakan ekonomi selama ini merupakan wujud nyata dari era politik baru Indonesia. Jangan pernah berkompromi dengan mereka, para mafia ini.

Pemerintah baru mendatang tidak boleh berkompromi dengan kekuatan yang nyata-nyata telah melemahkan sendi-sendi perekonomian.

Ketimpangan yang kian menganga selama dua periode pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus dihentikan. Saatnya kejujuran yang memimpin negeri ini.

[Dimuat di harian Kompas, 14 Juli 2014, hal. 15.]

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun