Mohon tunggu...
KOMENTAR
Olahraga

Belajar Menghargai Keberagaman dari Sepak Bola Eropa

21 Juni 2012   09:27 Diperbarui: 25 Juni 2015   03:42 1064 0

Banyak hal yang baik bisa dipelajari dari sepakbola Eropa, tidak hanya kualitas permainan sepakbola itu sendiri. Dalam perhelatan EURO 2012, ada nilai yang sangat penting diusung oleh UEFA dan para pemain sepakbola Eropa yang bisa dipelajari oleh masyarakat Indonesia untuk mengelola keberagaman dan menghilangkan sikap-sikap intoleran yang saat ini berkembang di masyarakat. Seperti kita ketahui, belakangan ini Indonesia dihadapkan pada tantangan isu intoleransi yang dipicu oleh tindakan-tindakan kekerasan berbau SARA khususnya agama yang dilakukan oleh sekelompok orang yang jumlahnya sangat kecil dan mengatasnamakan agama. Tindak kekerasan yang melibatkan kelompok kecil tapi sangat "berisik/noisy" ini tidak hanya menjadi permasalahan dalam negeri tetapi juga menjadi sorotan dunia internasional khususnya para pendukung penegakan HAM dan kebebasan beragama. Dan yang lebih memprihatinkan dari insiden-insiden kekerasan tersebut adalah absennya negara dalam menyelesaikan konflik horizontal di masyarakat.

Nilai tersebut adalah sikap saling menghargai yaitu "RESPECT". Apabila anda menonton pertandingan EURO 2012 maka anda akan melihat di lengan baju setiap pemain ada tulisan "RESPECT". Dalam beberapa kali kesempatan, tulisan ini juga ditampilkan dalam iklan di sekitar lapangan. Melalui sepakbola UEFA ingin mempromosikan nilai "RESPECT" dalam diri setiap orang dengan menekankan pada empat jenis "RESPECT", yaitu: RESPECT Diversity, RESPECT Fan Culture, RESPECT Inclusion, dan RESPECT your Health. Dengan sepakbola, UEFA ingin menyampaikan bahwa kita semua harus hidup rukun dan bersatu meskipun berbeda ras, agama, warna kulit, maupun jenis kelamin.

Inisiatif UEFA ini pada dasarnya didorong oleh banyaknya kejadian-kejadian rasis di liga-liga sepakbola Eropa belakangan ini seperti yang dilakukan oleh pemain Liverpool, Luis Suarez, serta penghinaan pemain Chelsea, John Terry, kepada Anton Ferdinand. Dengan inisiatif ini UEFA juga mencoba menghilangkan berbagai perilaku, simbol-simbol, dan nyanyian diskriminatif dari para fans maupun pemain. Bahkan wasit diberikan wewenang untuk memberhentikan pertandingan apabila ada pihak-pihak yang mulai melakukan tindakan-tindakan rasis dan sejenisnya.

Isu diskrimasi dan SARA juga tidak membatasi setiap timnas negara peserta EURO 2012 dalam memilih para pemainnya. Contoh nyata adalah Jerman yang pada Perang Dunia II terkenal dengan sikap rasis, saat ini hadir dengan pemain keturunan imigran dan bahkan menjadi andalan utama seperti Ozil, Khedira dan Boateng. Italia juga mengikutkan Balotelli dalam timnya yang notabene adalah keturunan  Nigeria dan kulit berwarna. Tim yang paling berwarna dengan pemain dari berbagai ras adalah Perancis. Hal ini memang bukan lagi sesuatu yang baru dalam persepakbolaan Eropa dimana perbedaan ras tidak lagi menjadi penghalang dalam bermain sepakbola. Pada Piala Dunia 1998, kita tentu masih ingat bagaimana Zinedine Zidane, seorang keturunan Alzajair menjadi aktor utama Perancis ketika menjadi juara dunia pada saat itu.

Akan tetapi, terlepas dari kedewasaan negara-negara Eropa dalam menghargai keberagaman, UEFA kembali mengingatkan komitmen mereka untuk selalu menghargai perbedaan yang belakangan mulai terganggu oleh aksi-aksi sekelompok fans maupun beberapa pemain. UEFA sangat tegas dalam menghukum para pihak yang sering menunjukkan tindakan-tindakan yang tidak menghargai keberagaman dan perbedaan. FA Inggris menghukum Luis Suarez  tujuh pertandingan karena mengucapkan kata-kata bernada rasis kepada Patrice Evra. UEFA juga secara konsisten menghukum klub yang fansnya terlibat dalam tindakan-tindakan rasis.

Nilai "RESPECT" yang dipromosikan UEFA melalui EURO 2012 bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia baik bagi masyarakat maupun penguasa untuk menghadapi tantangan-tantangan intoleransi dan sikap-sikap diskriminatif yang terjadi di negeri ini. Hal ini paling tidak dapat dimulai oleh masyarakat Indonesia pecinta sepakbola. Saya yakin para anggota kelompok kekerasan yang ada di negara ini juga ada yang menyukai sepakbola maka sudah saatnya mulai belajar dari mereka.

Penguasa Indonesia juga perlu belajar kepada UEFA yang selalu tegas dalam menghukum para pelaku tindakan rasis dan diskriminatif. Ketegasan ini perlu dicontoh untuk mencegah meluasnya konflik horizontal di masyarakat yang terjadi karena sekelompok orang yang tidak menghargai perbedaan. Penguasa harus selalu mengawasi dan hadir menjadi solusi dalam berbagai konflik horizontal di masyarakat sebagaimana yang dilakukan oleh UEFA.

Oleh karena itu, jadilah kita lebih baik dengan menonton EURO 2012 dan menyerap nilai-nilai baik yang ada dalam perhelatan sepakbola benua Eropa tersebut. Tidak ada salahnya Indonesia dengan struktur masyarakat yang sangat majemuk belajar juga dari UEFA. Untuk itu, para penguasa negeri ini baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, kalau mau studi banding maka pergilah ke markas UEFA.

Salam Sepakbola- Salam RESPECT

KEMBALI KE ARTIKEL