Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Buddha dalam Lingkaran Multilingualism

27 Mei 2021   10:59 Diperbarui: 27 Mei 2021   11:10 628 4
Selama 45 tahun membabarkan ajaran-Nya Buddha bertemu, berinteraksi dan berkomunikasi dengan berbagai manusia yang berasal dari berbagai komunitas, suku, adat kerajaan dan afiliasi berbahasa. Oleh karena itu, sangat tidak beralasan jika mengatakan Buddha adalah seorang monolingualist (berkemampuan berbicara hanya satu bahasa saja). Terlebih tidak ada satupun sumber dalam kanon Pali yang menyebutkan dengan eksplisit bahwa Buddha hanya berbicara menggunakan satu bahasa saja.
.
.
Di luar konteks Buddha sebagai seorang tantidhara (penerus tradisi Samasambuddha sebelumnya) yang memiliki kemampuan berbahasa/berkomunikasi dengan bahasa apapun (mla-bhs) termasuk non-manusia (dewa, peta, asura, binatang), Buddha dengan tubuh temporalnya juga memiliki ortography dan kapasitas linguistik yang sama dengan manusia biasa pada umumnya. Kapasitas inilah yang membuat Buddha dapat berbicara dengan manusia biasa dari suku, ras, intelektual, latar belakang, kerajaan dan kasta apapun saat itu.
.
.
Secara historis, Buddha membesut ajaran-Nya melalui metode tradisi lisan bukan tulisan, oleh karena itu perspektif harus diarahkan pada konteks bahasa lisan bukan bahasa tertulis. Kompilasi ajaran Buddha dalam bentuk tulis terjadi setelah Buddha tutup usia dengan pendekatan transkripsi oleh siswa-siswanya ke dalam kodifikasi bahasa yang dipakai saat itu. Perbedaan interpretasi tentang perkembangan Buddhisme Awal ini sering menyebabkan kanalisasi, sikap intoleran, diskriminasi, sekterianisme bahkan perpecahan intern umat beragama Buddha. Apakah sikap seperti ini yang diharapkan dari berlatih praktek Dhamma? Tentu TIDAK.
.
.
Kondisi Latar Bahasa:

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun