Mohon tunggu...
KOMENTAR
Edukasi Artikel Utama

Menulis itu Dunia Warga Biasa

16 November 2013   03:06 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:07 365 19

Judul Buku:Kompasiana Etalase Warga Biasa

Penulis:Pepih Nugraha

Penerbit:PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun :I, Oktober 2013

ISBN:978-979-22-9987-8

Tebal:xi+268

Harga:Rp80.000,00

Kompasiana sebagai etalase warga biasa, memungkinkan siapapun untuk melihat, membaca, dan menikmati setiap tulisan warga yang tampil. Siapapun bisa berbagi, tersambung dan berjejaring satu dengan anggota lainnya di etalase bernama Kompasiana ini. Pengguna tidak hanya sebatas melihat, membaca, dan menikmati, tetapi diharapkan juga mengisi etalase itu dengan tulisan yang sama, apapun jenisnya. Siapapun ketika sudah menjadi bagian dari etalase warga itu, “keajaiban” segera ditemukan dan didapatkan, setidak-tidaknya kecanduan menulis dan membaca serta berteman. (hlmn. xi)

"Keajaiban" itu bukan hanya terjadi pada saya tetapi juga ratusan ribu orang lain. Saat bab terakhir buku ditulis September 2013, jumlah anggota Kompasiana sudah di atas 200.000 orang. Demikian tercetak pada halaman 251. Disebut pula bahwa telah lahir dan tayangnya 866.767 tulisan dengan hampir 9 juta komentar. Wow, luar biasa riwayat Kompasiana kini! Blog sosial di bawah payung Kompas Cyber Media yang beralamat di http://kompasiana.com itu, sekarang ini telah menjadi besar dan disegani.

Tunggu! Nama besar Kompasiana bukan serta-merta ada. Semenjak kelahirannya, Mei 2008, ternyata blog bersama itu telah melewati perjalanan berat bahkan sempat tertatih seakan hampir mati. Kira-kira seperti itulah yang tertangkap lewat sebagian paparan buku Kompasiana Etalase Warga Biasa. Meski penulis tidak menganggap karyanya ini sebagai buku sejarah Kompasiana, nyatanya kisah kelahiran berikut perjalanan Kompasiana hingga tahun ke-5 tertuang relatif detail dalam buku yang terdiri atas 22 bab ini.

Pada bab pertama, Kang Pepih—sapaan akrab untuk Pepih Nugraha, wartawan Kompas pendiri Kompasiana—menyinggung betapa pada awal keberadaannya, Kompasiana dipandang sebelah mata dan dipertanyakan sebagian orang. Tak hanya pertanyaan apa dan mengapa, namun semacam gugatan pun pernah bergaung di ruang rapat Redaksi Harian Kompas. “Kalau tidak ada manfaatnya, bahkan keberadaannya malah merusak citra Harian Kompas, tutup saja Kompasiana.” (hlmn. 3) Namun, seperti hidup yang penuh pro-kontra, tak sedikit rekan jurnalis dan editor yang mendukung. Pepih yang membidani lahirnya Kompasiana pun tak bosan menjelaskan dan memperjuangkan eksistensi Kompasiana. The show must go on! Ia kukuh meneladan para pendiri Harian Kompas—yang dahulu pun sempat digugat dan dicemooh—dengan menegarkan hati dan meyakinkan diri bahwa pada masa sekarang “Kompasiana sebagai media warga adalah suatu keniscayaan” (hlmn. 7).

Selanjutnya, bab demi bab, penulis merunut perjalanan blog yang namanya diambil dari kolom bertajuk “Kompasiana” ciptaan pendiri Harian Kompas, Petrus Kanisius Ojong. Perjalanan Kompasiana dimulai sebagai blog para jurnalis Kompas yang juga mengundang penulis tamu (guest blogger)—umumnya para pesohor, seperti Jusuf Kalla dan Faisal Basri. Tak disangka, tulisan para jurnalis profesional yang tak termuat Kompas cetak menangguk antusiasme pembaca hingga mereka pun ramai berkomentar. Antusiasme itu lalu diapresiasi dengan dihadirkannya rubrik Gelar Komentar yang berisi postingan komentar para pembaca. Puncak “sejarah” terjadi saat Kompasiana dibuka untuk publik dan kemudian dikenal sebagai blog sosial (social blog), di manasiapapun yang teregistrasi berhak untuk tidak sekadar berkomentar tetapi juga mengirimkan tulisan.

Dalam Bab 9 (Berikutnya: Berani Tampil Beda) penulis mengungkap bahwa blog sosial Kompasiana tumbuh besar tak lepas dari keunikannya. Ide Pepih menjadikan Kompasiana “berbeda” dan “tampil beda” berangkat dari slogan “Think Different” milik perusahaan Apple Computer yang sangat menginspirasinya. Awalnya, kekhasan Kompasianayang signifikan adalah statusnya sebagai journalist blog yang cenderung mengangkat cerita menarik di balik berita (behind the story). Hal yang juga sangat membedakan Kompasiana dari blog sosial lain yaitu tidak menggaji penulisnya; setiap penulis tampil dengan gayanya tanpa sentuhan editor; dan adanya tradisi pengintegrasian dengan Kompas versi cetak.

Blog gratisan sering dipandang sebelah mata, juga dianggap murahan dan kurang bermanfaat. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Kompasiana. Bahkan buku ini mengungkap setidaknya enam alasan mengapa Kompasiana sebagai “etalase” bagi Kompasianerperlu dimanfaatkan (hlmn. 146–148). Pertama, tulisan yang ditayangkan dijamin akan dibaca banyak orang karena Kompasianamemiliki jutaan pembaca setia. Kedua, potensi hadirnya komentar akan memicu semangat menulis. Ketiga, lewat tulisan yang ditayangkan dimungkinkan berjumpa dengan teman seminat dan membentuk komunitas. Keempat, tulisan menarik berpotensi menjadi investasi untuk kelak diterbitkan sebagai buku. Kelima, menulis di Kompasiana secara tak langsung mengantisipasi kepikunan karena otak terus-menerus diajak berpikir. Menulis juga bentuk terapi. Keenam, secara tak langsung menciptakan segmented personal branding yang diperlukan di zaman serba online.

Dahsyatnya keuntungan memanfaatkan Kompasiana bukan hanya iming-iming, sebab pengelola/admin juga membantu mewujudkan. Misalnya dengan menerbitkan topik tulisan tertentu sebagai buku. Admin juga mengupayakan pengelolaan tulisan Kompasianer dengan menciptakan jembatan dari online ke print dalam bentuk freez—majalah gratis yang bisa diperoleh atau dibaca di tempat-tempat tertentu seperti café, lobi hotel, atau tempat aktivitas menunggu lain (hlmn. 169). Meski sempat kandas, freez terealisasi sebagai lembaran “suplemen” Harian Kompas mulai 28 Juli 2011. Tak hanya itu! Lewat konsep jurnalisme hibrida (hybrid journalism), admin memperluas jangkauan pembaca Kompasianadengan menampilkan tulisan Kompasianer—setelah mendapat sentuhan editor—pada platform online lain, dalam hal ini Kompas.com.

Kompasiana Etalase Warga Biasa bukan buku panduan praktis menggunakan Kompasiana. Bukan! Demikian pengakuan penulis. Namun pembaca boleh menyangkalnya, sebab dengan membaca buku ini secara utuh kita bisa memahami seluk-beluk Kompasiana dan bagaimana seharusnya menjadi Kompasianer. Catat beberapa di antaranya! Platform Kompasiana adalah MENULIS, dengan semboyan “SHARING, CONNECTING”. Siapa pun yang telah teregistrasi (menjadi Kompasianer) boleh menulis apa pun—opini, jurnal, fiksi, juga berita—dengan mengedepankan semangat berbagi tanpa pamrih. Orisinalitas konten serta larangan mengklaim tulisan orang lain adalah mutlak. Lewat komentar atau pertemanan para Kompasianer akan tersambung dengan siapa saja yang diinginkan. Pembaca bisa mengenal Kompasianer yang populer di balik suatu tulisan atau memecahkan suatu rekor. Tak ketinggalan Kompasianer yang mula-mula meramaikan Kompasiana (hlmn. 252-263). Dalam berbagai bagian juga disinggung sopan santun berinternet (netiket) bahkan diangkat pula 9 poin Sianatiquette—bersopan-santun di Kompasiana—ala seorang Kompasianer (hlmn. 143). Pengalaman Kompasianer terkait tulisan yang ditayangkan juga bisa menjadi pembelajaran terutama saat bersentuhan dengan ranah hukum. Tak ketinggalan informasi mengenai berbagai even yang diadakan, seperti gathering/kopdar (Nangkring Kompasiana, Kompasianival, dll.), komunitas, blogshop, berbagai lomba, dan sebagainya.

Buku yang diakui penulisnya sebagai sharing pengalaman dalam membangun dan mengembangkan media sosial khas Indonesia ini, juga bisa terasa sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanah yang diterimanya. Kang Pepih—sebagai founder sekaligus admin Kompasiana—telah menyerahkan tongkat estafet pada generasi berikut dan pamit undur diri. Kelak ia tak lagi mengurus Kompasiana, sebab tugas baru telah menanti. Konon ia ingin menyaksikan dari jauh terwujudnya banyak mimpi atas social blog yang sangat dicintainya itu.

Saya masih ingin menyaksikan mimpi-mimpi besar Kompasiana lainnya mewujud, termasuk membentuk komunitas warga Kompasianer yang solid di berbagai wilayah dan belahan dunia melalui kegiatan blogshop dan kopi darat lainnya. Saya masih ingin menyaksikan lahirnya para penulis besar dan berbakat dari Kompasiana lewat buku-buku mereka. … . (hlmn. 243)

Impian seorang Pepih Nugraha tidaklah berlebihan. Sesungguhnya, menulis bukan monopoli jurnalis atau kolomnis. Menulis adalah "pekerjaan" orang-orang biasa, warga pada umumnya yang bukan berprofesi sebagai jurnalis atau penulis (hlmn. 6). Menulis itu dunia warga biasa. (@dwiklarasari)

KEMBALI KE ARTIKEL