Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Siapakah Kita Setelah Kematian? Belajar dari Almarhum BJ Habibie

14 September 2019   12:31 Diperbarui: 14 September 2019   13:17 33 1


Kematian mantan presiden Indonesia almarhum Bpk. BJ. Habibie beberapa hari yang lalu menyisahkan aneka kesan dan kisah yang mendalam dan menarik. Ragam kesan mengenai kisah tentang almarhum menyeruak di pelbagai media sosial.

Setiap orang dari latar belakang yang berbeda-beda berusaha membangkitkan ingatan mereka tentang sosok yang terkenal pandai ini. Ingatan mereka mengarah pada satu garis hidup tentang almarhum.

Garis hidup itu menggambarkan tentang almarhum sebagai seorang yang baik. Almarhum adalah orang baik, tidak hanya sebagai suami dan bapak keluarga, tetapi juga bapak dan pemimpin bangsa. Sinar kebaikannya di keluarga merambat luas dalam pelayanannya sebagai seorang pemimpin bangsa.

Dari sekian banyak kisah tentang almarhum, satu hal yang bisa menjadi benang marah tentang kehidupannya adalah orang baik akan selalu dikenang setelah meninggal dunia. Almarhum dikenang tidak semata-mata karena prestasi dan statusnya, tetapi karena kebaikan yang telah dilakukannya lewat prestasi dan status sepanjang hidupnya.

Kisah kematian almarhum Bpk. Habibie mengingatkan tentang siapa diri kita setelah kita menghadapi kematian kita. Kisahnya serupa panggilan hati untuk kita yang masih hidup di dunia ini.

Tentunya, kita ingin seperti beliau. Kita ingin agar banyak orang mengenal dan mengenang kita setelah kematian kita. Yang paling penting adalah kita dikenal dan dikenang sebagai orang baik.

Dikenal dan dikenang sebagai orang baik bergantung pada hidup kita sekarang ini. Kita tidak boleh menunggu menjadi orang baik saat mendekati ajal hidup kita. Sebaliknya kita mesti menulis kebaikan kita saat ini tanpa menanti kapan ajal akan datang. Intinya akhir hidup kita pasti akan tiba. Karenanya, kita perlu fokus melakukan kebaikan tanpa peduli kapan tibanya akhir hidup kita.

Kebaikan yang kita tulis sekarang ini bisa menjadi lembaran mendalam di hati orang lain. Lembaran itu akan kembali dibuka saat kita pergi.

Atau seperti yang dialami oleh almarhum Bpk. Habibie dalam mana banyak orang membuka lembaran-lembaran kebaikannya di masa silam.

Lembaran kebaikannya tertulis dalam rupa kasih tak bertepi kepada sang istri, almarhum Ibu Ainun. Rupa kecintaannya pada penelitian dan ilmu untuk bangsa ini. Rupa kebaikannya dalam pengorbanannya memimpin bangsa ini.

Ada begitu banyak kebaikan yang telah dituliskan almarhum semasa hidupnya. Kebaikan-kebaikan itu mekar dan kian harum mewangi saat beliau telah pergi ke pangkuan ilahi.

Tentunya kita bisa belajar banyak hal dari almarhum. Pertama-tama, kita belajar melakukan kebaikan. Melakukan kebaikan tidak mengenal status dan latar belakang hidup kita. Malahan semakin mentereng status kita, kita pun mesti berpacu diri untuk melakukan kebaikan bagi sesama.  

Melakukan kebaikan adalah sebuah pilihan mutlak untuk hidup kita. Kita melakukan kebaikan agar kita mendapat tempat di hati setiap yang hidup bersama kita. Dan kita melakukan kebaikan agar kita dikenal dan dikenang saat kita menghadapi hari akhir hidup kita.

Kita mesti dikenang sebagai orang baik saat kita telah pergi. Marilah kita belajar dari banyak tokoh bangsa, salah satunya almarhum Bpk. BJ Habibie yang telah berpulang beberapa hari lalu.

KEMBALI KE ARTIKEL