Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Indonesia, Tanah Tumpah Darah

20 Maret 2010   01:30 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:19 867 0

Julukan Indonesia beraneka ragam. Sebagai sebuah negara yang terletak di daerah khatulistiwa, Indonesia disebut sebagai zamrud dari khatulistiwa. Mengapa tidak disebut sebagai safir dari khatulistiwa mungkin karena Indonesia adalah negeri yang subur hijau royo-royo.

Karena  terdiri lebih dari 17.500 pulau, Indonesia juga disebut sebagai negara kepulauan atau terkenal sebagai nusantara. Saking banyaknya pulau, ada beberapa pulau yang baru disadari kemudian bahwa pulau itu milik Indonesia setelah diklaim oleh negara lain. Bahkan, baru diketahui setelah dihebohkan bahwa ada pulau yang disewakan dan dijual kepada orang asing.

Data mengenai jumlah persisnya pulau yang dimiliki oleh Indonesia, sebagaimana biasanya, sampai kini tidak ada. Jumlah 17.500 itupun tampaknya angka perkiraan yang belum tentu benar adanya. Mungkin ada belasan ribu pulau lainnya yang belum diberi nama karena lokasinya  sulit dijangkau. Demikianlah, Indonesia kaya akan pulau tapi rakyatnya masih miskin.

Indonesia adalah tanah air kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga, 2002, halaman 1132 tanah airadalah negeri tempat kelahiran. Sayangnya, sebagian tanahnya sudah dikuasai oleh orang asing. Minyak, emas, tembaga, perak, nikel sudah dieksploitasi oleh perusahaan asing. Indonesia hanya kebagian airnya saja.

Istilah lain yang cukup populer adalah Ibu Pertiwi. Menurut KBBI halaman 864 pertiwiadalah 1. bumi ; 2. dewi yang menguasai bumi ; 3. tanah tumpah darah ; ibu pertiwi. Sekarang, ada yang menyatakan Ibu Pertiwi sedang menangis melihat keadaan Indonesia yang masih semrawut seperti benang kusut dan terseok-seok menuju masyarakat adil dan makmur. Rakyat masih melarat, korupsi dimana-mana, pengangguran terus meningkat, keadilan dan kebenaran terus diperkosa, legislatif dan eksekutif ribut melulu, dan presidennya juga tidak berdaya.

Tetapi yang patut diwaspadai adalah pengertian ketiga yaitu pertiwi sebagai tanah tumpah darah. Saya masih ingat sekitar tahun 1990an,  Permadi pernah mengatakan bahwa setiap kali terjadi suksesi kepemimpinan di Indonesia akan terjadi pertumpahan darah karena Indonesia disebut sebagai  tanah tumpah darah kita.

Misalnya, ketika terjadi suksesi dari Bung Karno ke Pak Harto terjadi pertumpahaan darah yang memakan korban ratusan ribu, bahkan ada yang menyebutkan lebih dari satu juta orang. Sekali lagi, tidak ada angka yang benar-benar akurat. Demikian pula, pada saat perebutan kemerdekaan dari Belanda,  terjadi pertumpahan darah yang juga memakan banyak korban.

Ramalan itu terbukti ketika terjadi suksesi kepemimpinan dari Pak Harto ke BJ Habibie. Kerusuhan hebat terjadi di Jakarta. Mahasisiwa melakukan demonstrasi besar-besaran. Darah pun tumpah lagi. Bebarapa orang mahasiswa menjadi korban yang sampai sekarang belum diketahui siapa yang bertanggungjawab. Sementara itu, penjarahan terjadi dimana-mana. Pembakaran, perusakan gedung dan perkosaan pun merajalela. Korban pun berjatuhan. Darah pun ikut tertumpah.

Karena itu, janganlah sampai terjadi siklus sejarah kelam Indonesia terulang kembali. Semoga saja ramalan Permadi hanya sampai di suksesi presiden Soeharto saja. Darah jangan tertumpah lagi. Rakyat masih mempunyai harapan. Janganlah harapan ini dipupuskan oleh kepentingan politik sesaat. Janganlah karena sikap yang picik serta tidak bertanggungjawab mengundang pihak militer untuk campur tangan lagi. Karena ternyata setelah berselang 12 tahun pihak sipil tidak becus mengurus negara kita tercinta : Indonesia, tanah tumpah darah kita. Hampir 65 tahun merdeka, rakyat masih belum makmur dan sejahtera. Ini adalah kenyataan, bukan ?

KEMBALI KE ARTIKEL