Mohon tunggu...
KOMENTAR
Film Pilihan

Menilik Kondisi Perfilman Nasional Masa 70an

6 Juni 2021   21:15 Diperbarui: 6 Juni 2021   21:24 151 4

Pada tahun 70an perfilman nasional memiliki beberapa catatan penting. Dari penyelenggaraan Festival Film Indonesia kali pertama, meningkatnya jumlah penonton film nasional, hingga film Indonesia yang diputar di negara-negara tetangga. Catatan-catatan tersebut tersaji dalam bentuk kliping artikel dalam "Wajah Perfilman Indonesia 70an" yang dirilis oleh Pusat Data dan Analisa Tempo.

Buku ini menarik dan patut dibaca oleh para pecinta film dan mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang sejarah perfilman nasional. Hanya bentuknya seperti kliping koran yang dipotong-potong agar pas dengan halaman buku. Alhasil ada beberapa artikel yang agak membingungkan letak sambungan artikelnya.

Ada 18 artikel dalam bentuk klipingan dalam buku ini dalam rentang tahun 1973-1974. Tema besarnya adalah kondisi perfilman nasional, menyambut penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) dan situasi industri perfilman masa itu, seperti kru filmnya itu-itu saja dan harapan Menteri Penerangan saat itu, Mashuri agar industri perfilman bisa memproduksi lebih dari 500 film dalam setahun.

Dalam artikel pertama dikisahkan FFI pertama ditetapkan pada April 1973. Memang pada tahun 1955, 1960, dan 1967 telah ada acara penganugerahan piala bagi sineas perfilman. Namun karena tidak berjalan secara berkelanjutan, waktu penyelenggaraannya terkesan semaunya, maka masa sebelum tahun 1973 disebut sebagai Pra FFI.

Ada cerita menarik di balik penyelenggaraan FFI 1973. Rupanya ada persaingan antara PWI Jaya Seksi Film dan Yayasan Nasional Film Indonesia. PWI kecewa tak dilibatkan dalam ajang tersebut padahal mereka selama tiga tahun sebelummya berturut-turut memberikan apresiasi kepada para pekerja film.

Salah satu alasan tidak dilibatkan pihak PWI dikarenakan pihak panitia kuatir mereka tidak obyektif. Sebab, setiap hari mereka meneropong perfilman dan sineasnya tersebut. Namun, karena tidak ada pembahasan sebelumnya di antara dua pihak tentang event ini maka kemudian muncul ketegangan.

Tentang pemilihan pemenang dan juri FFI juga jadi sorotan. Ada saja pihak yang meragukan kualitas juri dalam menilai, sistem penilaian yang dinilai kurang pas, juga alasan-alasan di balik pemilihan aktor A atau aktris B sebagai pemenang.

Dari segi kualitas dan produktivitas, pada tahun 70an keduanya sama-sama meningkat, meskipun juga masih ada saja produser yang ingin filmnya asal laris manis, mengesampingkan mutu. Tak sedikit yang menjiplak film luar seperti film Hongkong dan India.

Pada masa itu sutradara yang produktif dan terkenal di antaranya Wim Umboh, Nja Abbas Acup, Teguh Karya, dan Syuman Djaya. Sedangkan para bintang film yang beken di antaranya Benyamien Sueb, Sophaan Sophiaan, Widyawaty, Fifi Young, Rima Melati, Sukarno M. Noor, W.D Mochtar, Suzzanna, Titiek Sandhora, Muchsin, Christine Hakim, dan Dicky Zulkarnaen.

Wim Umboh dikenal sebagai sutradara pelopor. Ia yang membuat film Indonesia berwarna kali pertama dan menjadi pelopor penggunaan film 70 mm dengan lensa panvision ketika membuat film "Mama".

Film-film yang masa tersebut yang sukses dari sisi mutu dan komersil di antaranya "Mama", "Pengantin Remaja", "Si Pitung", "Ratapan Anak Tiri", dan "Bernafas dalam Lumpur".

Film Indonesia Jadi Tuan Rumah
Yang menggembirakan pada masa 70an, industri film nasional naik pesat. Film-film Indonesia banyak mendapatkan layar. Penonton juga menyukainya sehingga banyak yang bisa bertahan tayang dalam beberapa pekan.

Pada masa tersebut film Indonesia sedang mengalami masa panen. Film impor sedang lemah dan posisinya tak lagi mengancam. Industri film Malaysia, Hongkong, dan Taiwan pun lesu. Bioskop pun jumlahnya lumayan banyak. Totalnya 645 bioskop, dengan 119 di antaranya berada di Jakarta pada tahun 1973. Jumlah ini menurun dibandingkan tahun 1957 yang mencapai 800an gedung.

Alhasil melihat kondisi yang cerah tersebut Menteri pun menargetkan produksi film mencapai 100 film per tahun. Tapi apa di  kata jumlah SDM perfilman terbatas. Kru filmnya itu-itu saja.

Sarana prasarana juga kurang. Studio filmnya sudah bangunan lama. Lokasi syuting juga ada kalanya memanfaatkan gedung-gedung perkantoran, bahkan rumah para sineas film.

Teknologi pengeditan film yang dimiliki juga terbatas. Sampai ada yang mengedit film dengan menggunakan tangan. Wah wah wah.

Masih banyak hal menarik lainnya pada tahun 70an yang dibahas dalam buku ini. Seperti film pertama dengan unsur lesbian di Indonesia berjudul "Tiada Maaf Bagimu", uang koleksi SK 71 yang memberatkan dan kurang jelas peruntukannya, mulainya pengarsipan film, dan masih banyak lagi.

Sebuah buku yang mendokumentasikan banyak hal tentang kondisi perfilman nasional pada masa 70an. Buku ini bisa dipinjam di aplikasi iPusnas.

KEMBALI KE ARTIKEL