Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

Perempat Final Liga Champions 2021 dalam Skenario Ideal dan Rasional

20 Maret 2021   00:42 Diperbarui: 20 Maret 2021   11:25 329 27

Undian babak 8 besar alias perempat final untuk Liga Champions musim 2020/21 sudah ada hasilnya. Semuanya merupakan laga sengit, dengan dua diantaranya adalah Bayern Munchen vs Paris Saint Germain dan Real Madrid vs Liverpool.

Dua laga itu mengingatkan kita pada dua final yang berbeda. Laga Bayern Munchen vs PSG adalah "replika" final musim 2019/20, alias musim lalu. Kemudian, laga Real Madrid vs Liverpool adalah "replika" final musim 2017/18.

Artinya pertemuan ulang di perempat final akan memberikan ingatan yang masih segar. Bahkan, Real Madrid dan Liverpool masih mempertemukan dua "kepala" yang sama, Zinedine Zidane dan Jurgen Klopp.

Pada final 2017/18, Zidane berhasil menjadi yang sumringah setelah peluit tanda berakhirnya laga terdengar. Namun, kali ini Zidane patut waspada, karena selain laga ini masih belum dekat dengan trofi juara, Klopp juga pasti memberikan hal yang berbeda dari sebelumnya.

Kemudian, untuk laga Bayern Munchen vs PSG bisa dikatakan masih segar di ingatan banyak orang. Momen di mana pemain seperti Neymar Jr. sangat ingin membuktikan diri, bahwa dirinya juga bisa selangkah lebih dekat dengan trofi Liga Champions tanpa harus bersama klub besar klasik seperti Barcelona.

Suatu hal yang bisa disebut mirip, jika melihat keberadaan Angel Di Maria dan Keylor Navas di PSG. Mereka notabene merupakan mantan pemain Real Madrid yang tentunya pernah merasakan hebatnya mengangkat trofi Liga Champions.

Hanya saja, harapan itu sirna, karena Munchen masih lebih kuat dan cerdas. Munchen yang sangat produktif selama kampanye menuju final, rupanya tidak serta-merta menguasai bola dan menyerang habis-habisan PSG.

Mereka justru lebih memilih bermain dengan ketepatan waktu (timing), alias momentum. Ketika ada momen yang pas untuk memukul semangat dan asa lawan, maka di situlah mereka dapat membangun serangan, peluang, dan tentunya gol.

Mereka juga tidak anti untuk bertahan, yang seringkali dianggap sebagai wajahnya klub kuda hitam juga semenjana. Misalnya, menganggap biang kerok kegagalan Atletico Madrid melangkah jauh musim ini dikarenakan taktik Colismho.

Dua laga "final ulang" ini kemudian menjadi perhatian penting selain Manchester City vs Borussia Dortmund dan Chelsea vs FC Porto. Dua laga yang juga menarik untuk menghasilkan siapa yang akan menjadi tim kejutan di partai final.

Namun, sebelum membicarakan tentang calon pengisi panggung final, akan lebih baik jika kita menerka dulu tentang bagaimana laju 8 klub hebat ini saat di perempat final. Penulis punya sedikit gambaran tentang siapa yang bakal menjadi jagoan di masing-masing pertandingan.

Laga pertama, Bayern Munchen vs PSG. Pada laga ini, peluang menang Bayern Munchen sebenarnya banyak. Tetapi, untuk lolos, kemungkinannya masih 50-50.

Alasannya, laga perempat final bukan laga final yang "hanya" ditentukan dalam satu kali pertandingan. Entah, 90 menit, 120 menit, atau jika kedua tim sangat alot saat permainan terbuka, maka penentuan pemenangnya lewat adu penalti.

Artinya, laga final hitung-hitungannya sedikit kurang kompleks, dibandingkan dengan laga fase gugur yang mempunyai 2 laga per tahap. Seperti, babak 16 besar, perempat final, dan semifinal.

Lewat dua laga per fase, tim yang lolos ke fase selanjutnya juga belum tentu yang berhasil memenangkan dua laga itu. Tim yang lolos bisa saja hanya memenangkan satu laga dan satunya lagi imbang, atau bahkan kalah.

Hal itu bisa terjadi, kalau hitung-hitungan agregatnya masih unggul. Kalaupun, ternyata agregatnya sama, maka yang membuat berbeda adalah jumlah gol tandang.

Contoh tim yang mengandalkan keunggulan gol tandang adalah FC Porto. Mereka berhasil menyingkirkan Juventus, sekalipun agregatnya 4-4.

Dari sini, paham kan bahwa hal inilah yang bakal membuat kedua tim ini punya peluang sama besar untuk menang. Ini cukup berbeda dengan final, karena mental tim yang kebobolan dua gol di babak pertama--sisa 45 menit--akan cepat anjlok dibandingkan kebobolan tiga gol saat ada jatah 90 menit di laga kedua.

Misalnya, jika di final tertinggal satu gol dengan sisa waktu 10-15 menit, tim tersebut sudah mulai frustrasi. Ini berbeda jika tim tersebut tertinggal 2-3 gol, namun masih ada laga kedua.

Khusus pada musim 2020/21 ini, kita sedikit mengabaikan faktor bermain di kandang. Karena, bermain kandang atau tandang sama saja tanpa penonton.

Namun, poin penting yang masih bertahan adalah kemampuan mencetak gol tandang dan memastikan timnya juga tidak bobrok banget dalam bertahan. Ini yang kemudian membuat Bayern Munchen bisa saja tersingkir jika gagal memanfaatkan kelebihannya selama musim kemarin dan musim ini di Liga Champions.

Kelebihan mereka adalah produktivitas. Di fase grup saja, Munchen sudah mengumpulkan 18 gol, yang menjadikan mereka sebagai tim terproduktif.

Manuel Neuer dkk. juga hanya kebobolan 5 gol selama fase grup. Hanya kalah dari FC Porto (3), Liverpool (3), Chelsea (2), dan Manchester City (1).

Artinya, kunci Bayern Munchen untuk menang dan lolos dari fase 8 besar adalah mencetak gol sebanyak mungkin, yang sekiranya tidak mampu dikejar PSG. Karena, PSG pasti bisa mencetak gol ke gawang Munchen, mengingat pertahanan Munchen musim ini terlihat "ramah" untuk lawan.

Secara konsep atau skenario ideal, Munchen akan menjadi pengisi kotak semifinal 1. Mereka akan menantang pemenang duel Manchester City vs Borussia Dortmund.

Tetapi, secara skenario rasional, PSG bisa lolos. Selama mereka pandai mengukur kemampuan mereka, maka peluang lolos akan terbuka.

KEMBALI KE ARTIKEL