Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

Mampukah Timnas Indonesia Mengalahkan Vanuatu?

14 Juni 2019   17:52 Diperbarui: 15 Juni 2019   17:59 60 4

Kekalahan atas timnas Yordania (Jordan) memang masih bisa dimaklumi. Karena secara ranking di FIFA timnas Indonesia kalah jauh. Begitu pula dalam hal permainan, yang mana tim asal Timur Tengah itu mampu terus menekan pertahanan Indonesia secara konsisten sepanjang pertandingan.

Skor 4-1 juga bukanlah skor yang paling telak dialami oleh timnas Indonesia. Karena, timnas pernah dibekuk 1-7 oleh timnas Uruguay dalam laga ujicoba di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) beberapa tahun silam. Sehingga, secara hasil, timnas Indonesia tidak perlu terlalu panik. Mereka tetap harus fokus mengevaluasi dan membangun tim untuk semakin solid.

Sebelum laga melawan Yordania, Simon McMenemy (pelatih timnas Indonesia) juga sempat menyatakan bahwa targetnya bukanlah kemenangan dalam melakoni dua pertandingan tersebut. Timnas ingin mencari formulasi untuk membentuk tim yang kuat serta membangun mental bermain di luar Indonesia. Dua poin ini sangat penting di luar hasil kemenangan yang memang semua tim pasti menginginkannya. Namun, McMenemy ingin lebih realistis.

Jika bertandang ke markas Yordania sudah, maka, kini timnas Indonesia berkesempatan untuk menggelar pertandingan di Indonesia dengan menjamu timnas Vanuatu. Melihat secara ranking FIFA Indonesia berada di atas Vanuatu maka, hasil realistis timnas Garuda saat ini adalah kemenangan. Mampukah timnas menang?

Jika melihat formasi yang diturunkan timnas saat melawat ke Yordania, McMenemy menggunakan tiga bek tengah dan menempatkan dua pemain sebagai wing back, yaitu Rizky Pora dan Ruben Sanadi. Di laga tersebut peran Ruben kurang terlihat. Baik itu dalam hal bertahan dan menyerang. Karena, posisinya berada di kanan dan itu bukan posisi terbaik Ruben.

Sedangkan di laga yang akan digelar Sabtu nanti, timnas sebaiknya dapat kembali menggunakan formasi empat bek. Di sini timnas juga diharapkan mengistirahatkan dua bek tengah mereka, Yanto Basna dan Hansamu Yama. Mengapa?

Karena Yanto Basna sudah bekerja sangat keras menghentikan serangan-serangan dari Yordania di laga sebelumnya. Yanto Basna perlu istirahat sejenak agar dia tidak mengalami cedera dan merugikan si pemain serta klubnya yang notabene berasal dari Thailand. Timnas harus berbesar hati untuk tidak menggunakan jasa Yanto di laga melawan Vanuatu. Setidaknya di babak pertama. Sedangkan untuk babak kedua kehadiran Yanto mungkin diperlukan untuk penyegaran lini pertahanan timnas yang biasanya kendor di seperempat akhir pertandingan.

Sedangkan untuk Hansamu Yama, absen turun sebagai pemain di starting line-up adalah upaya untuk membuat Hansamu Yama mengevaluasi permainannya. Karena dalam beberapa pertandingan terakhirnya baik saat membela timnas maupun di level klub, dia seringkali melakukan blunder. Ini tidak boleh terjadi lagi apalagi saat melawan tim yang tidak diunggulkan untuk menang melawan timnas Indonesia. Timnas harus meminimalisir potensi lawan untuk percaya diri ketika melihat salah satu pemain di timnas tidak mampu bermain tenang dan kompak dalam menjaga pertahanan.

Peran Hansamu memang sangat penting di timnas level junior. Namun untuk timnas senior, peran Hansamu seharusnya tidaklah sangat vital. Karena, timnas masih memiliki banyak pilihan untuk mendapatkan bek tengah yang berpostur tinggi dan lugas dalam mengawal pertahanan. Permainan Hansamu memang bagus dan sudah memiliki banyak caps untuk timnas. Namun jika melihat permainan yang butuh perhitungan matang, maka Hansamu acapkali lalai dalam hal tersebut.

Ini yang perlu dan harus berani dilakukan oleh McMenemy. Yaitu tidak membiarkan seorang pemain merasa dirinya pasti bermain di skuad utama ketika dirinya tidak berada dalam performa terbaiknya. Di sini perlu adanya eksperimen yang lebih berani dan yakin, yaitu dengan menduetkan Ahmad Jufriyanto dan Ricky Fajrin.

Duet antara bek senior berpengalaman dengan bek muda yang jarang tampil dari menit pertama sangat perlu dicoba. Karena dengan pengalaman Jufriyanto, dia dapat membangun komunikasi yang baik dengan Ricky Fajrin. Hal ini yang kurang terlihat ketika Jufriyanto bermain dengan tiga bek yang dua diantaranya adalah dua bek yang lebih muda namun lebih banyak memiliki caps timnas dibandingkan dirinya.

Maka, yang terjadi adalah tiga bek ini bermain seolah sendiri-sendiri tanpa koordinasi yang jelas ditambah pula dengan minimnya back-up yang kuat dari lini tengah. Maka yang terjadi adalah kegugupan di lini pertahanan dan kemudian membuat kesalahan-kesalahan sendiri yang dapat dimanfaatkan oleh lawan.

Ini yang tidak boleh terjadi di laga menjamu Vanuatu nanti. Timnas harus meminimalisir kesalahan baik secara tim maupun individu. Selain itu, dengan formasi empat bek maka permainan bertahan Indonesia akan lebih lebih jelas tentang siapa akan menjaga siapa dan juga bagaimana caranya untuk menerapkan strategi off-side.

Strategi off-side itu perlu diperagakan tim yang diunggulkan. Karena mereka akan menaikkan garis pertahanannya. Namun, hal ini akan sedikit sulit dilakukan jika mereka menggunakan tiga bek. Mengapa?

Karena, dengan tiga bek, maka ada satu bek yang biasanya akan sangat fokus menjaga seorang penyerang yang dibiarkan sendirian di depan oleh tim yang dipaksa total bertahan. Inilah yang membedakan dengan formasi empat bek yang memberikan kesempatan dua bek untuk tetap awas dalam mengawasi zona (posisinya dan posisi antar rekannya) dan pemain lawan secara bersamaan.

Sedangkan untuk tiga bek, kasus yang sering terjadi adalah dua bek yang ada di masing-masing sisi akan lebih fokus mengawasi area flank yang biasanya akan dimasuki oleh pemain lawan. Ketika area flank ini jebol, maka koordinasi tiga bek ini pecah. Selain itu, formasi tiga bek ini sangat riskan ditaklukkan dengan serangan balik cepat. Maka, pilihan formasi ini harus dipertimbangkan oleh tim kepelatihan timnas dan McMenemy.

KEMBALI KE ARTIKEL