Mohon tunggu...
KOMENTAR
Travel Story

Monas, Wisata Sejarah Indonesia dan Pemandangan Jakarta

20 Desember 2011   04:28 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:01 1422 0
Monas (Monumen Nasional) adalah salah satu pilihan wisata di Jakarta yang memberikan pengetahuan tentang sejarah Indonesia. Monumen yang berdiri tegak setinggi 132 meter dengan puncak berbentuk lidah api yang berlapis emas  ini memang selalu menjadi pusat perhatian bagi pengunjung maupun orang Jakarta sendiri. Begitupula dengan saya,kakak dan adik saya tertarik untuk mengunjungi Monas pada hari libur sekolah tepatnya tanggal 19 desember 2o11. Perjalanan dari rumah kami yang berada di Tangerang dimulai dari pukul 9.30 wib. Perjalanan ditempuh melalui kendaraan umum dengan rute dari Cileduk ke Blok M menaiki metro mini 69 lalu dari halte Blok M  ke Halte Monas menaiki Busway TransJakarta. Perjalan cukup menghabiskan banyak waktu karena perjalanan dari Cileduk menuju Blok M sangat macet dan panas. Namun, sedikit terbalaskan dengan lancarnya perjalanan busway dengan AC yang agak sejuk. Sampailah kami di Monas sekitar pukul 11.30 wib. Dari Halte Monas kami harus berjalan kaki cukup jauh menuju pintu gerbang Monas . Beruntumg perjalanan yang melelahkan ini ditemani oleh cuaca Jakarta yang mulai mendung.  Tak lupa kami mengambil beberapa foto sebelum memasuki dalam Monas. [caption id="attachment_150012" align="aligncenter" width="664" caption="Monas (Monumen Nasional). pict by Claudy Yusuf"][/caption] Setelah puas memandangi Monas dari luar dan mengambil beberapa foto maka kami segera memasuki Monas melewati lorong. Sebelum masuk kami membeli tiket terlebih dahulu, untuk anak-anak, pelajar dan mahasiswa dikenai biaya Rp. 1000 sedangkan untuk dewasa Rp. 2500. Saat memasuki Monas yang pertama terlihat adalah Museum Sejarah Nasional yang terletak dibawah permukaan tanah. Pada Museum ini kita dapat melihat diorama sejarah Indonesia mulai dari zaman pra-sejarah hingga Orde Baru. Mengeliling diorama ini harus dimulai dari timur laut menelusuri searah jarum jam agar diorama yang dilihat sesuai dengan perjalanan sejarah Indonesia. Setelah puas mengunjungi Museum Sejarah Indonesia kami penasaran untuk melihat megahnya Jakarta dari pelataran puncak Monas. Untuk mengunjungi pelataran puncak kami harus membeli tiket lagi sebesar Rp. 3.500 untuk anak-anak dan pelajar sedangkan untuk dewasa dikenai biaya sebesar Rp. 7500. Setelah membeli tiket ternyata kami harus mengantri cukup panjang untuk menaiki lift. Kami mengantri dari pukul 11.45 wib hingga pukul 12.00 wib. Lebih dari satu jam lamanya kami mengantri membuat kaki ini sangat pegal. Tapi, itu bukan masalah karena untuk menggapai puncak memang perlu kerja keras, bukan? Perasaan sangat senang saat kami sampai didepan lift. Saat pintu lift terbuka segera kami memasuki lift. Lift ini hanya dapat menampung maksimal sebelas orang sekali angkut. Bagusnya lift ini sangat nyaman karena tidak membuat rasa tertekan atau melayang  dan lift ini sangat cepat. Sesampainya di pelataran puncak Monas langsung ada wisatawan luar negeri yang berkata "it's small". Memang pelataran Puncak Monas cukup kecil dan hanya dapat menampung sekitar 50 orang dan inilah alasan mengapa saya perlu mengantri untuk sampai kesini. Dari pelataran puncak Monas kita dapat melihat pemandangan megahnya Jakarta dari ketinggian sekiatr 115 meter. Segera kami melihat Jakarta dari sisi selatan, utara, barat dan timur. Dari sisi utara kita dapat melihat laut jawa dan beberapa pulau kecil. Sisi selatan menyuguhkan pemandnagan gedung-gedung tinggi salah satunya gedung Wisma BNI 46. Pemandangan lainnya seperti Masjid Istiqlal, Gereja Katedral, Istana Presiden, gedung Pertamina dan lainnya. [caption id="attachment_150021" align="aligncenter" width="655" caption="Pemandangan Jakarta dari pelataran Puncak Monas. Pict by Claudy Yusuf"][/caption] Untuk menikmati pemandangan Jakarta dari pelataran puncak Monas dengan lebih jelas kita dapat menyewa teropong dengan membayar Rp 2000. Jika ingin mengetahui bangunan apa saja yang terlihat dari pelataran Monas maka kita dapat melihat gambar disisi atas dan nama gedungnya terdapat di bawah. Ruang yang terbuka membuat angin dapat masuk kedalam pelataran puncak sehingga saya merasakan angin pada ketinggian yang cukup kencang. Setidaknya jangan lama-lama di pelataran puncak Monas karena bisa membuat masuk angin dan lagipula kita perlu memberi ruang untuk pengunjung lainnya. Maka dari itu segera saya turun menggunakan lift. Keluar dari Monas dan menuju halaman luar Monas kami melihat Relief Sejarah Indonesia. Relief timbul berwarna putih ini menggambarkan sejarah Indonesia. Untuk menikmatinya secara kronologis harus dimulai dari sudut timur laut lalu mengelilinginya searah jarum jam. [caption id="attachment_150027" align="aligncenter" width="655" caption="Relief Sejarah Indonesia. pict by Claudy Yusuf"][/caption] Setela melihat-lihat relief sejarah Indonesia kami keluar dari Monas Lalu kami menaiki kereta wisata yang gratis menuju depan gerbang. Namun sebelum pulang kami duduk di kursi taman Medan Merdeka sambil menyantap makanan yang sudah kami bawa dari rumah. Taman Medan Merdeka ini sangat hijau serta banyak bunyi suara burung dengan pemandangan kokohnya Monas.Setelah berisitirahat maka kami segera bergegas pulang. Saat di Busway perasaan senang dan lelah bercampur aduk. Tiba-tiba, saya teringat ada ruang yang belum saya kunjungi yaitu Ruang Kemerdekaan. Saya sungguh menyesal tapi itu bisa saya jadikan alasan untuk mengunjungi Monas dilain hari.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun