Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen Pilihan

Makanya Cari Pacar

11 Mei 2022   22:35 Diperbarui: 11 Mei 2022   22:43 397 4
"Aku mesti bagaimana ya, dibilang bosan aku masih mau hidup, dibilang cukup aku ga puas?"Satu menit lebih lama, hidungku kalah telak dengan otak yang masih belum keisi nyawanya. Bisa-bisanya lamunan tentang indahnya hidup orang lain merusak cita-cita ngopi ditemani wangi tanah peninggalan hujan semalam.

Gosong. Kopiku gosong.
Kalau saja pagi ini aku tidak sendiri, mungkin sedang sama-sama tertawa. Melahap satu persatu bakwan kemudian mengulang kembali didihkan air dan menunggu kopi pahit tersaji di meja, menuangkan sedikit gula aren dan kecupan hangat di pagi hari.

Lamunan yang cantik. Sayangnya hanya mengisi bagian-bagian otak yang berlomba untuk tampil paling depan menjelang jam delapan tiba.

Kubenahi rambut kusutku, kutarik perlahan dengan ujung jari yang kukunya sempat sobek karena terlalu semangat membuka tutup galon tanpa bantuan pisau.
Entah sudah berapa lama lupa menyimpan sisir. Atau mungkin sebenarnya aku sudah tak punya sisir. Lepas mandi, kugosok sebentar dengan handuk yang warnanya sudah tidak jelas, kukibaskan sebentar di depan kipas angin sambal bercengkrama sebentar berharap kipas angin mampu mengurai helaian rambutku dengan baik.

Oke, rambutku sudah rapi.
Kujepitkan di balik telinga, kutata sedikit lalu kurapikan wajahku dengan seulas bedak bayi dan seoles lip tint.
Tak pintar berdandan, yang penting mukaku tak berjerawat sudah jadi kelebihan buatku.
Hebat para wanita di luar sana, mereka bisa membentuk alis dengan sempurna, melentikkan bulu mata dengan dahsyatnya, membuat bibir mereka tampil seksi dan pipi merona sangat indah.

Aku, berjam-jam di depan kaca saja hasilnya cuma mengeluh, menangis dan kemudian mentertawakan diri sendiri.

Alarm meeting sudah mulai bersahutan. Rasanya aku lupa dengan semangat yang sudah bertahun-tahun aku bangun. Saat ini bisa bangun, mandi dan kemudian duduk di depan laptop saja sudah bersyukur.
Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mau aku jawab diakhiri dengan haha dan hehe saja sudah sangat hebat buatku.

Ya, aku paham setidaknya mencoba memahami, alasan yang menyebabkan orang lain dapat tersenyum lebar di setiap harinya.

Lima menit lalu, Bara lewat di depan hidung mungilku. Sekadar formalitas dia lambaikan tangan sekejap. Tidak persilakan duduk atau meminta izin duduk denganku. Dia lewat begitu saja. Wajahnya berbinar, hidungnya kembang kempis, mata sedikit terbelalak lalu di kejauhan kudengar.
"Woi Bro, omset gue tembus nih. Malam nanti kita jalan ya!"

Kemudian tidak lama, Cindy dengan outfit simple namun tetap elegan, tertawa kecil dan sesekali jingkrak jingkrak.
"Dru, lagi apa di situ. Sini ngopi denganku. Aku mau cerita deh!"

Agak ragu mendekati Cindy. Karena memang tidak terlalu dekat juga dan aku sudah ngopi gosong tadi di kost-an.
"Druuuu, ihhhhh kamu ya susah amat. Sini ah!"

Baiklah, kuhabiskan sisa roti sisir di tanganku. Kulap ke ujung bajuku. Kukibaskan biar agak sedikit sombong dan kudatangi Cindy dengan muka dibuat berbinar padahal aku lagi ga mood sama sekali dengar cerita siapapun.

"Happy banget deh kayanya. Sehat Cyn?"
"Ya ampun Dru, sehat dong. Kapan sih aku ga sehat?"
"Iya lupa aku. Kamu kan sehat terus ya, sampai BPJS aja kesal tidak pernah dipakai. Bagus sih, artinya kamu gotong royonh untuk menyehatkan masyarakat Indonesia."
"Ih Dru apaan sih. Aku sehat karena aku happy terus. Kaya kamu lah Dru. Kapan kamu sakit coba? Seingatku sejak kenal kamu, kamu selalu hadir. Yakan?"
"Ya, bukan karena sehat sih. Lebih karena uang cutinya biar jadi satu unit mobil CX5 aja sih Cyn"
"Haha kocak, ya kale bisa jadi CX5 Dru."

Jam Sembilan lewat lima.
Rasanya Cyndi ga ada maksud cerita. Hanya mau pamer bahwa dia sedang Bahagia.
Hmm, apa ya penyebabnya. Ko bisa mukanya sesumringah itu, semanis itu dia menghabiskan cappuccino hangat dan sepiring kecil kentang goreng.

"Cyn, jam Sembilan lewat nih. Aku naik ya."
"Ga asik sumpah Dru. Biasanya kamu kan bawa laptop kemana-mana. Kerja di mana saja. Bahkan jiwa multitaskingmu rasanya belum ada tandingannya."
"Aku lagi ga asik Dru. Cuma mau ngelamun sambal kerja aja."
"Dih, orang gila. Ngelamun sambal kerja. Makanya punya pacar Dru, biar happy."

Kecut.
Kata penutupnya asik banget. Makanya punya pacar.

Kuusap wajahku. Kupastikan air keran dapat menambah satu level kesegaran wajahku.

Kusut.
Bara dan Cyndi bisa sehappy itu. Seharusnya akupun bisa. Pekerjaanku baik-baik saja.
Mukaku juga tidak terlalu jelek. Kalau kutarik sedikit sudut bibirku, aku saja bisa jatuh cinta dengan senyumku.
Apa sebab kemrusung setiap hari?

Malam ini kubiarkan larut. Aku tak meminta bulan berhenti bersinar. Aku tak meminta matahari terlambat pulang bahkan aku tak meminta awan dan angin berlomba pertaruhkan kemampuannya.

Aku mau alam apa adanya. Aku biarkan Tuhan mengatur semesta malam ini seperti yang seharusnya. Aku ingin menikmati apapun yang Tuhan kasih malam ini.

Sepi. Walau di ujung taman gerombolan gamer sedang berteriak dengan segala istilahnya. Di ujung lainnya, perempuan-perempuan kece sedang berdecak kagum dengan kegantengan opa opa yang dipertontonkan dan di sudut mataku ada air yang tergenang yang sedang kutahan agar tak terjatuh sembarangan.

Tuhan, kumohon jangan ada satu orangpun yang memanggil namaku malam ini,
Aku ingin melamun dengan khusyu.

Lupa top up e-Moneyku. Hasrat untuk ke minimarket, atau membuka M-Bangkingku sama sekali tidak ada.
Anggap saja, malam ini nasibku adalah berjalan menyusuri trotoar. Pemandangan abang-abang Ojol lebih hijau dibandingkan dengan daun dan rumput yang lupa dipotong di sepanjang  jalan.

"Dru..."

Kuhentikan langkahku. Ada suara yang kurindukan memanggilku.
Kusiapkan pandanganku dengan begitu cantiknya. Satu, dua dan tiiiiii...

"Ko Jalan. Cape ya naik kereta? Atau cape nunggu bis?"
"Eh, engga kok. Sengaja aja pingin olah raga."
"Oh, kirain..."

Ini siapa aku tidak tahu. Kok hafal namaku ya.
"Aku temani boleh Dru?"

Ragu untuk aku jawab iya. Apakah dia memang kenal aku? Atau dia adalah laki-laki yang menguntitku beberapa minggu ini? Tapi maksud dan tujuannya aku tidak paham.

"Hei, kok diam? Boleh aku temani tidak? Malam-malam dan sedikit gerimis tidak baik lo untuk kamu jalan sendirian"
"Aku biasa kok sendiri"
"Kalau mulai mala mini tidak dibuat biasa bisa kan Dru?"
"Maksudnya?"

Jantungku berdegup kencang. Rabun mataku setiap malam, hingga aku sampai ke kost-an pun aku tidak tahu dia itu siapa.

Wanginya aku tidak hafal, suaranya mirip dengan Bram namun gaya bicaranya jauh sekali dari Bram yang kukenal.
Berkali-kali mencoba pegang tanganku. Dari caranya seperti Bram saat mencoba menenangkan aku. Tapi apa mungkin itu Bram?

Entah berapa kilometer jarak aku berlari tadi. Ketakutan tapi tetap membuatku penasaran.

"Hei sayang, ko aku ditinggal sih. Tega ya kamu Dru"

Sebaris kata yang tidak aku harapkan. Notifikasi yang tidak mau aku buka. Aku benci.
Ingin rasanya aku marah, berteriak hingga dunia mohon ampun agar aku berhenti mengeluh.

"Stop Dru. Cuci mukamu. Cukup sekali daunku berguguran. Bunga berhenti mekar. Tersenyumlah, kasihan udara yang ingin beri kau kesegaran, kasihan bungaku yang ingin membuatmu tersenyum"
"Kalian repot ya. Aku tidak perlu apapun, aku tak peduli apapun. Aku punya hidupku sendiri. Kalian enyah pun aku akan baik-baik saja"

"Dru, sekelilingmu hanya ingin buatmu tersenyum. Aku pun demikian. Susah payah aku temani kamu dari jauh. Kau tinggalkan begitu saja. Hilang rasamu untukku Dru?"

Basi.
Sudah tak bisa bandingkan mana rasa dan mana dusta.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun