Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Suara Hilang

20 September 2019   12:24 Diperbarui: 20 September 2019   21:37 15 3

Reynaldi Reza Valius bangun dengan semangat dan kegembiraan. Dia adalah seorang anak kelas 5 yang bersekolah di Sekolah Citra Bangsa, reputasi dia lumayan terkenal sebagai anak SD yang nakal. Teman-teman dia tidak jauh nakal dari dia, mereka adalah Novi Angela dan Pascal Setiawan. Mereka bertiga selalu melakukan hal-hal yang bisa dibilang tidak sopan, kurang ajar, atau illegal. Maupun menggores mobil-mobil orang, mewarnai patung-patung didepan sekolah, menyuri permen-permen di toko permen, dan mengejek murid-murid seangkatan atau adik kelas mereka, itu merupakan hal yang biasa untuk mereka. Wajar sekali karena mereka hanya anak kelas 5 yang tidak mengerti apapun tentang pertemanan,tingkah laku, dan hidup.

POV Reza
Hari ini saya bangun dengan muka yang senang dan segera mandi. Mengapa saya sangat senang hari ini? Karena hari ini adalah hari ulang tahun saya. Setelah mandi, saya berjalan ke sekolah dan bertemu dengan Pascal dan Novi. "Selamat Ulang Tahun Reza" teriak mereka berdua, "Ayo kita melompat ke sungai kecil di sebelah ruman Novi nanti sore untuk merayakannya," kata Pascal. "Tentu saja! Pasti akan sangat seru!" Lalu saat kita bertiga memasuki kelas kita, teman-teman kami memberikan aku sebuah kejutan ulang tahun. Saya sangat senang, saya bisa mendapatkan perhatian semua orang hari ini. Dulu saya tidak mempunyai teman sama sekali, melihat orang lain bersenang-senang membuat saya sangat iri hati, namun saya menyadari kalau tindakan nakal itu membuat orang lebih perhatian kepada saya, jadi saya menjadi anak yang nakal supaya saya juga bisa mencari teman baru. Akhirnya saya bisa berteman dengan Novi dan Pascal karena kita mempunyai satu hal yang sama, kita anak-anak yang mempunyai tingkah laku buruk.

Namun setelah saya diucapkan ulang tahun saya melihat seorang gadis yang sedang berdiri di luar kelas saya. "Siapa gadis itu?" Tanya saya "Saya tidak tahu, mungkin dia adik kelas baru di sekolah ini," kata Pascal. Lalu saat pelajaran dimulai, Pak Sudirman, wakil kelas kita, berdiri di depan kelas dan berkata, "Hari ini adalah hari spesial untuk Reza karena hari ini adalah ulang tahun dia, tolong ucapkan ulang tahun kepada dia jika kalian belum melakukannya. Tetapi hari ini juga hari spesial untuk kita semua karena kita mendapat seorang murid baru yang akan bergabung dengan kita." Lalu saya melihat gadis yang berdiri didepan kelas saya masuk dengan muka yang gembira. "Perkenalkan Diandra, murid pindahan dari sekolah Selamat Riyadi, Diandra mempunyai sebuah kesulitan untuk belajar karena dia bisu. Tolong jadilah contoh dan teman yang baik untuk dia dan bantulah dia saat dia kesulitan." Teman-teman saya lalu menghampiri dia dan mengajak dia berteman. Selama waktu pelajaran di sekolah, teman-teman saya menaruh semua perhatian kepada dia. Saya merasa dilupakan, ini adalah hari ulang tahun saya, tetapi mengapa saya merasa sepi dan iri kepada dia?

POV Diandra
Saat pulang sekolah saya berjalan ke rumah saya dengan hati yang gembira, bertemu dengan teman-teman baru membuat hati saya bergeloncang dengan senang. Di tengah perjalanan pulang, saya melihat tiga murid yang sekelas dengan saya di pinggir sungai. Saya menulis sebuah pesan di catatan saya dan menunjukannya kepada mereka, "Halo teman-teman, apa yang sedang kalian lakukan?" "Oh, kami ingin merayakan ulang tahun Reza di sini. Oh ya, perkenalkan saya, Novi, kedua teman saya itu adalah Reza dan Pascal." "Halo! Selamat bergabung di angkatan kelas lima," pekik Pascal. Novi dan Pascal terlihat baik kepada saya, tetapi Reza hanya melihat saya dengan muka yang cemburut dan kusam. Saya menghampiri dia dan menulis pesan lagi "Selamat ulang tahun Reza!" "Kamu seharusnya pergi saja," kata dia. Muka dia terlihat sangat kesal dan marah terhadap saya, tetapi saya tidak mengerti apa yang membuat dia sangat kesal kepada saya. Jadi saya berpamit kepada mereka bertiga dan berjalan pulang.

Saat malam tiba, saya keluar dari rumah saya untuk mencari peralatan warna. Lalu saya melihat Reza sedang lewat jadi saya menghampiri dia dan berbicara kepada dia melewati buku tulis saya "Halo, kamu sedang melakukan apa malam ini?" Dia lalu menghampiri saya dan berbisik kepada saya "Diam saja, jangan berbicara kepada saya dan pergi dari hadapan saya." Saya lalu mengikuti dia untuk menanyakan dia mengapa dia sangat membenci saya tetapi sebelum saya bisa bertanya, dia melemparkan debu tanah dan berjalan keluar dari pandangan mata saya. Setelah pulang dari tokoh peralatan warna, saya mencoba untuk membersihkan pikiran saya tetapi Reza selalu muncul lagi dan lagi. Saya ingin semua orang untuk bisa berteman dengan saya dan saya tidak ingin bermusuhan dengan orang lain. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, "Apakah dia membenci saya karena saya murid pindahan? Apakah dia membenci saya karena saya bisu? Apa yang sudah saya lakukan agar dia membenci saya sedalam ini?" Hal itu selalu terulang-ulang di benih pikiran saya.

POV Reza
Setelah hari ulang tahun saya, saya berjalan ke sekolah keesokan paginya. Ingatan kejadian ulang tahun itu selalu membuat saya berkata kepada diri saya sendiri "Mungkin saya seharusnya berteman dengan dia," tetapi dia adalah orang bisu dan dia mempunyai banyak kekurangan, dia juga mendapatkan lebih banyak perhatian daripada saya dan itu membuat saya kesal. Jadi saya akan selalu membenci dia setiap saat. Hari ini saya melemparkan bola besi ke mata dia dan membuat mata dia biru, dengan sarkastik, saya berkata "Aduh, saya tidak bermaksud mengenai mata kamu, saya ingin mengenai kaca dibelakang itu." Lalu saat pulang sekolah saya menyirami baju dia dengan air sampai seluruh tubuh dia basah kuyup. Teman-teman saya melihat kejadian itu tetapi mereka cuman memandang dari jauh saja, bahkan ada yang tertawa. Sejak hari itu, saya melakukan hal-hal yang buruk kepada dia, membully dia membuat saya senang . Lama-kelamaan semua orang sudah meninggalkan dia dan dia terlihat stres, setiap hari dia terlihat seperti mayat yang berjalan, muka dia selalu terlihat pucat dan tidak berekspresi. Bahkan teman-teman saya seperti Pascal dan Novi ikutan membully dia.

Beberapa bulan sudah berlalu, saya memandang keluar dari jendela saya sambil memikirkan apa yang harus saya lakukan kepada Diandra hari ini, lalu Pak Sudirman masuk dengan muka yang terlihat marah. Dia lalu menyuruh semua murid untuk keluar dari kelas kecuali saya, Novi, dan Pascal. "Saya mendapat complain dari orang tua Diandra, saya tahu bahwa kamu melakukan hal-hal buruk kepada dia karena saya mengamati kamu selama satu minggu ini." Dia lalu bertanya kepada kedua teman terdekat saya supaya bisa memastikannya, "Saya sudah berusaha untuk menghentikan dia, tetapi dia tidak mau mendengarkan," kata Novi. "Saya menyuruh dia untuk berhenti juga, tetapi dia tidak peduli sama sekali," kata Pascal. Saya lalu berkata "Menggapa hanya saya yang disalahkan? Teman-teman lain saya juga melakukannya, mengapa tidak menghukum mereka juga?" Lalu Pak Sudirman memarahi saya, saya hanya bisa menunduk karena saya tidak berani untuk menjawab balik.

Saat perjalanan pulang, Novi dan Pascal menghampiri saya dan menarik saya ke belakang sekolah, mereka memukul saya habis-habisan sampai darah keluar dari mulut saya dan tulang rusuk saya terasa seperti mau patah. Lalu mereka meninggalkan saya dan melempar tas saya ke lumpur. Keesokan harinya, mereka berdua menyebarkan cerita-cerita tentang tindakan saya kepada Puteri ke semua angkatan kelas lima. Orang-orang mulai menjauh dari saya dan saya merasa sangat sepi, Pascal dan Novi juga menjauhi saya dan tidak menjadi teman saya lagi. Saat pulang sekolah, saya menghampiri Diandra dan mendorong dia ke tembok karena dia yang membuat saya jadi begini, lalu pada saat itu saya melihat ekspresi muka dia. Saya merasakan rasa bersalah secara tiba-tiba, Diandra lalu mendorong saya dan lari meninggalkan saya. Saya mulai memikirkan mengapa dia saya merasa bersalah saat saya melihat ekspresi muka dia, biasanya mendorong dia dan membully dia itu normal untuk saya, tetapi hati saya malah memberi tahu saya kalu itu salah.

POV Diandra
Saya berlari pulang sambil mengangis. Semua teman saya meninggalkan saya karena Reza menyebarkan gossip gossip tentang saya dan karena saya bisu. Setiap hari di sekolah terasa seperti neraka, terkadang saya tidak berani masuk sekolah karena saya takut diejek jadi saya bolos. Jika saya melaporkan dia kepada pihak sekolah atau orang tuanya, teman-teman dia akan lebih membully saya. Saya sudah berusaha untuk berteman dengan Reza tetapi dia tidak mau mendengarkan, tetapi semua perkataan saya hanya menjadi sebuah suara hilang yang tidak dianggapi oleh dia.

POV Reza
lima tahun berlalu, saya adalah seorang murid SMA sekarang. Mengingat kejadian-kejadian itu lima tahun lalu membuat pala saya sakit. Saya sekarang sadar tentang mengapa saya bisa merasa bersalah pada hari itu, karena saat saya melihat muka dia, saya melihat semua kesedihan dan penyiksaan yang dia alami. Saya menyeseal karena melihat Diandra dari kekurangannya dan membencinya karena rasa iri. Saya seharusnya bersahabat dengan orang-orang yang lebih baik daripada Novi dan Pascal, jika mereka memang sahabat saya, mereka seharusnya tetap menyuruh saya untuk berhenti, tetapi mereka malah meninggalkan saya, memukuli saya, mengajak saya melakukan yang tidak benar, dan merusaki reputasi saya. Walaupun terasa mustahil, saya bersumpah untuk memperbaiki segala hal yang saya lakukan kepada Diandra 5 tahun yang lalu. Jadi apa yang saya lakukan? Saya menjauhi dia sampai sekarang. Saya ingin berbicara kepada Diandra lagi tetapi entah mengapa saya tidak berani melakukannya. Walaupun dia terlihat lebih senang sekarang, saya merasa dia pasti sangat membenci saya.

POV Diandra
lima tahun berlalu, angkatan kita sekarang adalah murid-murid kelas sepuluh. Reza yang dulunya membully saya setiap kali di sekolah berubah saat dia mendorong saya ke dinding pada hari itu. Setelah dia mendorong saya ke dinding itu, muka dia yang marah berubah menjadi muka yang ketakutan dan menyesal, saya tidak tahu jadi saya mendorong dia dan lari dari dia. Dia mulai menjauhi saya sejak hari itu juga, dia terlihat sangat kesepian dan sedih. Saya berusaha untuk bertanya kepada dia tentang mengapa dia sangat membenci saya dan membully dulu. Tidak lama setelah saya menhampiri dan menunjukan  dia pertanyaan itu di buku tulis saya kepada dia, Reza akan membuang mukanya dan berkata "Maafkan aku." Saya selalu berusaha bertanya kepada dia sampai sekarang dan respon dia selalu sama.

Saya sedang berjalan pulang setelah hari yang melelahkan di sekolah, seluruh tubuh saya terasa kaku dan lemas setelah olahraga yang berlebihan. Saya lalu duduk di bangku taman untuk beristirahat, lalu tanpa saya sadari, Reza duduk di bangku di belakang saya. Saya lalu duduk di samping dia dan mengeluarkan buku tulis saya supaya saya bisa berkomunikasi dengannya. Lalu Reza menatap saya dan berkata "Permisi, saya harus pergi." Tetapi sebelum dia bisa kabur, saya menahan tangan dia. Saya lalu menunjukan pertanyaan itu kepadanya, muka Reza terlihat sangat pucat dan matanya melebar. Reza lalu menarik tangannya dan pergi meninggalkan saya sendiri. Saya sekarang mengerti penyebab dibalik tingkah laku dia yang berubah, dia merasa bersalah karena membully saya jadi dia menjauhi saya.  

POV Reza
Seminggu setelah saya bertemu Puteri di taman, saya menyesali keputusan saya, seharusnya saya menjawab pertanyaan itu. Saya sudah muak menjadi orang yang kabur dari masa lalu saya, saya memutuskan untuk menghadapi kenyataan. Saat pulang sekolah, saya menarik tangan Diandra dan membawa dia ke bangku taman. Lalu saya berkata kepada dia "Sudah lima tahun sejak saya membully kamu, saya membenci diri saya sendiri karena semua perbuatan yang saya lakukan terhadap kamu. Hari ini saya akan menerima kenyataan dengan seadanya, saya tidak akan marah atau kaget jika kamu membenci saya, saya ingin meminta pengampunan darimu." Diandra lalu menunjukan pertanyaan itu kepada saya, lalu saya menjawab "Saya iri, kamu yang bisu bisa mendapatkan lebih banyak teman dan perhatian dari orang-orang lain sedangkan saya dilupakan. Jadi saya ingin membuat hidup kamu sengsara. Saya sadar kalau saya sudah terlalu berlebihan saat saya melihat ekspresi mukamu dan saat kamu tidak mempunyai teman sama sekali." Diandra lalu memegang tangan saya dan menulis sesuatu di buku catatannya "Kita harus berteman." Saya lalu mengangguk dan kita berdua tersenyum. Sejak hari itu, pertemanan saya dengan Diandra terbentuk.

POV Diandra
Sudah lima bulan setelah Reza berteman dengan saya. Reza akan selalu berjalan pulang bersamaku dan mengajakku bermain ke rumahnya. Jika dia mempunyai waktu bebas, dia akan mengajak aku dan teman-temannya untuk hangout. Teman-teman Reza sangat baik kepadaku dan menerimaku dengan sepenuh hati mereka. Terkadang Reza akan bercurhat tentang masalah-masalah yang dia alami kepadaku dan memintaku untuk memberi sebuah saran, saya menyadari bahwa sekarang dia sangat mempercayai aku dan sudah menerima kekuranganku. Dia sudah menjadi teman yang terpercaya bagiku juga, dia akan selalu menenangkan aku saat stres dan membantuku saat masa-masa yang bermasalah. Setelah penderitaan dan masalah-masalah yang aku hadapi, akhirnya suaraku terdengar oleh Reza dan dia menjadikanku teman dia.

POV Reza
Melakukan hal-hal yang seru dengan Diandra dan teman-temanku membuatku sangat senang. Saya sekarang memahami kata dibalik pertemanan. Pertemanan adalah hubungan kita dengan orang lain yang saling mendukung dan membantu. Perubahan yang saya alami 5 tahun yang lalu sampai sekarang sangat keren, perubahan sikap saya membuat saya lebih baik. Saya tidak menyangka bahwa saya bisa menjadi teman dekatnya setelah semua penderitaan yang dia alami, hatiku terharu saat dia menerimaku sebagai temannya. Pertualangan kami untuk waktu yang mendatang sedang menunggu, saya tidak sabar untuk melakukan hal-hal yang baru bersama dia.

KEMBALI KE ARTIKEL