Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Artikel Utama

Wayang Belum Dapat Perhatian Maksimal dari Pemerintah

31 Agustus 2012   05:58 Diperbarui: 25 Juni 2015   01:06 401 4

Ketika saya mengambil hadiah berkat tulisan ini dari lomba menulis 'Festival Dalang Bocah' oleh organisasi pewayangan independen Pepadi di Gedung Pewayangan yang terletak di kawasan TMII tepatnya dekat Masjid At Tin.

Saya merasa takjub dan tak menyangka bahwa wayang di Indonesia kini ada perlakuan khusus, dilihat dari gedungnya yang megah bertingkat, didalamnya ada berbagai ruangan untuk pertunjukan seperti teater wayang, panggung, hiasan dinding dengan berbagai karakter wayang serta perpustakaan online yang tersedia di kantor administrasi di lantai dua. Dengan fasilitas perangkat PC yang berjajar dua banjar.

Tetapi, rasa bangga saya agak terusik saat berbincang dengan Ibu Dewi Imira, bahwa organisasi Pepadi dan Senawangi juga Gedung Pewayangan itu tak mendapatkan subsidi tetap dari pemerintah RI. Bahkan untuk operasional kantor gedung pewayangan dibiayai sendiri oleh Organisasi Senawangi. Menurut Ibu Dewi, pemerintah ada perannya dalam mendukung keberadaan gedung pewayangan dan kegiatannya. Tapi belum mendukung sepenuhnya seperti pemerintah luar negeri terhadap wayangnya.

Saya pun bertanya pada Ibu Dewi, darimana sajakah biaya untuk penyelenggaraan berbagai event wayang selama ini, ttermasuk event tahunan Festival Dalang Bocah juga lomba Blog yang diadakan. Ternyata sebagian besar biaya event termasuk penyediaan hadiah didapat dari sponsor yang mendukung acara ini.

Bahkan para staff yang ada di gedung pewayangan itu semuanya volunteer, tak mendapat gaji. Kebanyakan adalah mantan diplomat di luar negeri dan para mantan pejabat pemerintahan yang masih punya kepedulian terhadap seni wayang. Selain ikut mengelola organisasi Pepadi dan Senawangi, Ibu Dewi Imira dan semua staff yang ada disitu kadang mengeluarkan dana juga untuk kegiatan yang ada di Gedung Pewayangan. Dari luar organisasi kerap ada yang meminta dana sponsorship, padahal ini adalah organisasi non-profit, ungkap Ibu Dewi.

Tetapi syukurlah, karena relationship kuat maka selalu saja ada jalan untuk tetap menghidupkan Gedung Pewayangan dan kegiatan-kegiatannya. Lanjut Ibu Dewi Optimis.

Saat ini, ada 8 orang PNS yang ditugaskan pemerintah untuk membantu pekerjaan di Gedung Pewayangan, kabarnya kemungkinan besar akan ditarik lagi karena tingkat kebutuhan pekerja PNS di pemerintahan juga sedang dibutuhkan.

Melihat fenomena tersebut saya sangat prihatin, merujuk pada berita-berita terkait pewayangan. Jika di Negeri Cina, Miyanmar, Malaysia, Thailand dan lain-lain, pemerintah mereka sangat antusias memperlakukan wayang sebagai budaya yang tak dianggap sepele. Mereka begitu bersemangat memajukan kegiatan dan kreativitasnya dengan memberi dukungan penuh terhadap keberadaan seni pewayangan yang dipunyanya. Sampai memasukkan dalam kurikulum pelajaran kesenian di sekolah-sekolah.

Ibu Dewi Imira pun mengungkapkan kekecewaannya bahwa proposal Pepadi dan Senawangi yang sudah di follow up bertahun-tahun untuk dimasukkan dalam kurikulum pelajaran disekolah masih belum ada tanggapan dari pemerintah. Kalau masalah ini, saya pun ikut kecewa. Karena kita artinya mulai lengah dan anggap sepele lagi urusan budaya ini.

Kenapa seni wayang patut masuk dalam kurikulum pelajaran di sekolah? Karena seni pewayangan indonesia bukan sekedar media hiburan tanpa arti, seni wayang Indonesia punya nilai historis yang punya filosofi mendalam. Baik terhadap kehidupan sehari-hari, etika, moral serta sosial buadaya. Banyak inspirasi yang layak didapat dari seni pewayangan. Seperti dari tokoh Semar yang bijaksana, Gareng yang biarpun jelek tapi punya filosopi lebih dalam jika dikaji secara teliti.

Seni pewayangan tak harus dispesialisasikan sebagai pelajaran seni wayang atau perdalangan. Seni wayang bisa dimasukkan dalam kurikulum pelajaran kesenian atau seni rupa. Dan seni wayang bukan kebudayaan Jawa tapi kebudayaan Indonesia. Wayang pun bukan hanya berasal dari Jawa, Palembang, Bali, Sumatera dan pulau lainpun punya wayang. Dalam masing-masing asal wayang punya filosopi dan edukasi yang baik.

Jadi sangat patut untuk dimasukkan sebagai kurikulum pelajaran di sekolah.

Pemerintah sering menganjurkan agar kita juga anak-anak Indonesia cinta budaya sendiri, jika anak-anak tak diperkenalkan terhadap seni wayang sebagai budaya bangsanya mana mungkin mereka tahu dan langsung tertarik terhadap seni wayang? Jika anak-anak mengenal lebih dalam seni wayang serta tokoh-tokohnya, bukan mustahil antusiasme mereka bisa bagus responnya terhadap tontonan wayang. Tayangan di televisi wayang sering ditampilkan malam menjelang subuh saat anak-anak sudah tidur. Jadi media pengenalan seni wayang kurang dukungannya makanya sekali lagi perlu sekali pengenalan seni wayang ini dalam pelajaran di sekolah.

Jangan sampai kita lengah lagi, kita harus hargai kerja keras organisasi Pepadi dan Senawangi yang telah melakukan kajian, riset dan membuat pengajuan sampai diakui oleh UNESCO, perjuangan untuk mempertahankan warisan leluhur ini perlu kesinambungan dan keberlanjutan. Jangan sampai mentang-mentang sudah diakui di UNESCO, cukup sampai disitu dukungannya yang masih jauh dari cukup. Lihatlah negara-negara lain yang punya antusiasme tinggi terhadap kekayaan budayanya yang bandingan kualitasnya masih dibawah kita. Mereka pandai menghargainya. Kita pun harus bisa pandai menghargai dan menjaganya dengan dukungan penuh serta melakukan berbagai upaya agar seni pewayangan tetap lestari. Jika mengharumkan nama bangsa, siapa lagi yang bangga kan? Upaya kita sebagai orangtua pun bisa mengenalkan wayang melalui dongeng pada anak kita dengan mengenalkan tokoh-tokoh wayang yang inspiratif.

KEMBALI KE ARTIKEL