Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Teater dan Demokratisasi

13 Januari 2012   17:47 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:55 233 0
catatan: Tulisan ini juga termuat di http://catetansiboy.wordpress.com/2011/12/27/teater-dan-demokratisasi/ Berawal di pelataran parkir sebuah ruko di pinggir jalan kecil, sekelompok orang yang tergabung dalam Forum Experimëntal Teater [FEëT] mengadakan pementasan teater berjudul “HITLER FOR PRESIDENT” pada tanggal cantik 11-11-11 lalu. Pentas sederhana ditemani purnama ini berlangsung dalam suasana minimalis, disaksikan para seniman teater juga publik yang tahu dan juga yang tidak tahu tentang seni teater. Pementasan perdana ini menjadi sebuah tontonan dan mampu menyedot perhatian banyak orang yang lalu lalang di jalan tepian kali Sipon itu.  Terlihat banyaknya kendaraan bermotor yang menghentikan kendaraannya dan menyimak jalannya pementasan. Jalan kecil itu mendadak macet sepanjang durasi pentas. Ini menjadi indikasi betapa masyarakat membutuhkan tontonan berbeda dan menghibur pula. Itu pula yang menjadikan pentas ini menjadi penting untuk disaksikan masyarakat sebanyak mungkin. Pertautan dua unsur ini (publik dan teater) menemui jalannya pada malam itu. (Videonya bisa dilihat di youtube.com) Hal serupa juga terjadi pada pementasan “HITLER FOR PRESIDENT” di perkampungan nelayan Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang pada minggu 4 Desember 2011. Panggung yang didirikan di tepi jalan menuju Tempat Pelelangan Ikan tersebut mampu menarik massa yang lalu lalang untuk berhenti dan menyimak jalannya pertunjukan. Puluhan ibu-ibu yang tinggal di sekitar panggung tampak asyik menonton dari deretan warung-warung yang ada. Anak-anak malah lebih antusias lagi, mereka menyemut di depan panggung dan bahkan ikut bernyanyi lagu Indonesia Raya di atas panggung. Seakan panggung tidak hanya otonomi pengisi acara semata tetapi juga penonton pun ikut memilikinya.(Videonya bisa dilihat di youtube.com) Dalam pentas di ruang yang lain, Keluarga AnakLangit pada Sabtu 17 Desember 2011, HITLER FOR PRESIDENT tampil lugas dan penuh luapan sebagaimana Hitler dalam sejarah. Disaksikan anak-anak jalanan dan juga kawan-kawan dari beragam komunitas, meluncurlah hal-hal yang menjadi keseharian para penonton dengan problematika aktualnya. Ini dilakukan agar pertautan erat antara publik dan teater tetap menemui koneksinya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun