Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Intelegensi

25 September 2017   17:59 Diperbarui: 25 September 2017   18:36 1914 1

  • Intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan masalah serta beradaptasi dan belajar dari pengalaman. Fokus terhadap intelegensi adalah perbedaan dan penilaian individual. Perbedaan individual adalah cara yang stabil dan konsiten yang berbeda individu yang satu dengan individu yang lain.

  • Jenis-jenis intelegensi
  • Intelegensi analitik : yang merujuk pada kemampuan menganalisis, menilai, mengevaluasi, membandingakan, dan membedakan.
  • Intelegensi kreatif : yang terdiri dari kemampuan berkreasi, merancang, menemukan, melalui sesuatu, dan membayangkan.
  • Intelegensi praktis : intelegensi ini mencangkup kemampuan untuk menggunakan, mengaplikasikan, mengimplementasikan, dan menerapkan gagasan-gagasan ke dalam praktik.

  • Mengevaluasi pendekatan intelegensi majemuk
  • Pendekatan ini telah menstimulasi para guru untuk berfikir secara lebih luas mengenai hal-hal yang dapat membangun kompetensi anak. Pendekatan ini juga telah memotivasi para pendidik untuk mengembangkan program-program yang mengajarkan para siswa didalam berbagai bidang. Pendekatan ini juga memberi sumbangan dalam meningkatkan minat untuk membuat penilaian terhadap intelegensi dan pengajaran di kelas melalui cara inovatif, seperti mengevaluasi portofolio siswa.

  • Budaya dan inteligensi
  • Perbedaan konsepsi mengenai intelegensi tidak hanya terjadi di kalangan psikolog namun juga pada budaya. Apa yang di anggap intelegensi pada suatu budaya tertentu, bisa jadi tidak dianggap inteligensi di budaya lainnya. Sebagai contoh, orang budaya barat cenderung memandang inteligensi dari sudut keterampilan bernalar dan berfikir, orang yang berasal dari budaya timur memandang inteligensi sebagai suatu cara bagi para anggota dari suatu komunitas agar berhasil melakukan peran sosial.

  • Menginterprestasikan perbedaan skor IQ
  • Skor IQ yang diperoleh dari tes seperti stanford-binet dan skala Wechsler memberikan informasi mengenai kemampuan mental anak-anak. Meskipun demikian hingga kini masih terdapat perdebatan dari para peneliti dalam hal menginterprestasikan perfoma dalam tes inteligensi. Satu strategi untuk mempelajari peran hereditas dalam inteligensi adalah dengan membandingkan IQ kembar identik dan fraternal. Ingatlah bahwa kembar identik memilki komponen genetis yang sama persis, namun kembar fraternal tidak. Jika inteligensi dapat ditentukan secara genetik, menurut beberapa peneliti, IQ kembar identik seharusnya lebih mirip dibandingkan inteligensi kembar fraternal.

  • Pengaruh lingkungan
  • Para peneliti mengunjungi rumah-rumah dan mengobservasi seberapa ekstensifkah orang tua dari keluarga yang sejahtera dan profesional dengan penghasilan menengah, berbicara dan berkomunikasi kepada anak-anaknya yang masih kecil. Mereka menemukan bahwa orang tua dengan penghasilan menengah cenderung lebih banyak berkomunikasi dengan anak-anaknya dari pada para orang tua yang sejahtera. Sekolah juga mempengaruhi inteligensi. Efek terbesar ditemukan jika sekelompok besar anak-anak yang sangat kekurangan pendidikan formal dalam jangka panjang berdampak pada penurunan inteligensi.

  • Kini para peneliti makin berniat untuk meningkatkan lingkungan kehidupan awal anak-anak yang beresiko mengalami pemiskinan inteligensi. Banyak orang tua dengan pnghasilan rendah kesulitan memberikan lingkungan yang dapat menstimulasi intelektual anak-anaknya. Program-program yang bertujuan mendidik para orang tua agar dapat bertindak sebagai pengasuh yang sensitif maupun guru yang lebih baik, maupun berbagai layanan dukungan seperti program-progam kualitas perawatan anak, dapat memberi sumbangan yang berarti bagi perkembangan inteligensi anak. Sehingga, usaha untuk membendung dampak kekurangan lingkungan terhadap inteligensi menekankan pencegahan dari pada pengobatan.

  • Menciptakan tes bebas budaya
  • Tes inteligensi yang dirancang sedemikian rupa agar bebas dari bias budaya. Terdapat tipe tes bebas budaya yang telah dikembangkan. Pertama, tes yang mencangkup item-item yang telah dikenal oleh anak-anak dari semua latar belakang sosial ekonomi dan etnik, atau item-item yang paling tidak di kenal oleh anak-anak yang menjalani tes itu.
  • Tipe kedua dari tes bebas budaya adalah tidak mengandung pertanyaan verbal. Meskipun tes-tes semacam itu dirancang untuk bebas budaya, orang dengan level pendidikan yang lebih tinggi cenderung memperoleh skor yang tinggi dibandingkan orang level pendidikan yang lebih rendah. Jika tes memiliki batas waktu, maka tes tersebut memiliki bias terhadap kelompok yang tidak menganggap waktu sebagai hal yang penting. Jika bahasanya berbeda, maka kata-kata yang sama dapat memiliki arti yang berbeda bagi kelompok bahasa yang berbeda. Bahkan gambar dapat menghasilkan bias karena terdapat beberapa budaya yang tidak terbiasa dengan gambar dan foto.

  • Menggunakan tes inteligensi
  • Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai IQ, agar tidak terperangkap secara negatif dalam memanfaatkan informasi menngenai inteligensi anak :
  • Menghindari stereotip dan ekspektasi
  • Skor yang diperoleh dari tes IQ dengan mudah dapat menggiring kita untuk mengembangkan stereotip dan ekspektasi terhadap siswa. Skor IQ bukanlah sebuah ukuran mengenai potensi yang menetap. Perubahan kematangan dan pengayaan lingkungan dapat meningkatkan inteligensi siswa.

  • Mengetahui bahwa IQ bukanlah indikator tunggal kopetensi
  • Perhatian lainnya sehubung dengan tes IQ adalah jika tes itu digunakan sebagai indikator utama atau tunggal dalam menilai kompetisi seseorang. Skor IQ yang tinggi bukanlah nilai manusia yang mutlak.

  • Hati-hati dalam menginterprestasian keseluruhan skor IQ
  • Dalam mengevaluasi inteligensi seorang anak, kita perlu ingat bahwa inteligensi terdiri dari sejumlah domain.
  • Intelegensi yang ekstrem
  • Tes-tes inteligensi yang digunakan untuk menemukan indikasi dari retardisi mental atau bakat intelektual, sebagai inteligensi yang ekstrem. Sering kali, tes inteligensi disalahgunakan untuk tujuan ini. Ingatlah bahwa tes inteligensi seharusnya tidak digunakan sebagai indikator tunggal untuk retardisi mental atau bakat.

  • Retardisi mental
  • Kondisi keterbatasan kemampuan mental dimana individu memiliki IQ yang rendah, biasanya di bawah 70 jika diukur dengan tes inteligensi tradisional, individu ini biasanya juga kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari. Retardasi mental dapat disebabkan oleh faktor organik maupun sosial budaya:

  • Retardisi organik
  • Retardisi organik yang disebabkan oleh gangguan genetik atau kerusakan otak, kata organik merujuk pada jaringan atau organ dari tubuh, yang mengidentifikasikan kerusakan fisik

  • Retardisi budaya familial
  • Difisit mental dimana tidak terdapat kerusakan organik otak, IQ individu dapat berkisar antara 50 hingga 70. Para psikolog menduga bahwa defisit mental semacam itu adalah akibat dari variasi normal.
  • Bakat
  • Di antara kita selalu terdapat orang yang kemampuan dan pencapaiannya tampak cemerlang dibandingkan orang-orang lain, anak pintar di sekolah, atlet berprestasi, musisi berbakat. Orang yang berbakat memiliki inteligensi di atas rata-rata dan memiliki talenta yang superior di bidang tertentu.

  • Karakteristik
  • Meskipun terdapat spekulasi bahwa keberbakatan berkaitan dengan gangguan mental, pada kenyataannya tidak ditemukan terdapat relasi antara keberbakatan dengan gangguan mental. Anak-anak di dalam studi terman memiliki penyesuaian sosial yang baik, banyak di antara mereka yang menjadi dokter, pengacara, profesor, dan ilmuan yang berhasil. Ada tiga karakteristik dari anak-anak berbakat, baik di bidang seni, musik, atau akademik:

  • Kematangan
  • Anak-anak berbakat cepat matang, mereka menguasai sebuah bidang lebih awal dibandingkan kawan-kawan sebayanya. Dibandingkan anak-anak lain, mereka hampir tanpa usaha dalam mempelajari bidang mereka.
  • Berkembang menurut tempo dan caranya sendiri
  • Proses belajar anak-anak berbakat, secara kualitatif berbeda dari anak-anak kebanyakan. Mereka membutuhkan bantuan atau perancah lebih sedikit dari orang dewas agar dapat belajar.
  • Gairah untuk menguasai

KEMBALI KE ARTIKEL