Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Komunikasi Damai

4 November 2010   00:36 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:51 32 0

Tulisan saya kali ini sebagian besar kopas saja dari tulisan orang lain. Jelas asalnya dan saya kira bahkan dengan ini saya menyebarkannya dengan apa adanya, Tetapi tentu tidak tanpa maksud. Apa itu semoga jelas juga akhirnya.

Dari rekan @ninaninut : http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/05/menghentikan-perdebatan-agama/ ... saya menangkap suatu harapan komunikasi damai. Tulisan rekan @ninaninut yang dipublikasikan itu mendapat tanggapan antara lain seperti dari rekan@ Setyawan Triatmojo sebagai berikut:

...."Prinsipnya saya setuju dgn Penulis. Tapi bila ternyata selalu terjadi lagi , kita tak harus pesimis. Kita tampaknya mmg akan dan musti melalui proses itu. Bahwa cara pandang kita masih sperti di eropa abad² yg lalu. Lebih baik terjadi sekarang, supaya kita bisa memulai proses memperbaiki diri drpd terjadi nanti 10 atau 20 thn yg akan dtg. Apa boleh buat, biar segala yg buruk keluar lebih cepat, krn mmg hrs "dikeluarkan" dr pda dicegah "keluar" trs jadi problem potensial yg jauh lebih berbahaya.

Syaratnya: kita meladeni dgn sabar dengan terlibat langsung dlm diskusi, sembari memasukkan ide² ttg damai dan cinta atau ya tak jemu²nya menulis seperti tulisan ini: cuma tidak bisa dipastikan apakah yg bersangkutan ikut membaca. Tapi saya masih yakin: bahwa semua akan saling belajar, krn baik berdebat maupun berdiskusi mau ga mau memaksa org utk berlomba meningkatkan kualitas argumentasinya. Adalah sulit utk meminta org bisa tiba² mengerti pikiran kita atau maksud hati kita yg baik, tanpa kita memberi banyak penjelasan.

Saya sdh mengikutinya dr tahun lalu. Dari pengalaman sdh banyak kog yg "bertobat". Tapi selalu ada pendatang baru dg idealisme baru. Dan tentu akan mulai lagi. Biarkan saja: moga² ga harus sampe dua tahun di kompasiana, mereka sdh "bertobat" pula. Kita mmg hrs menjaga rumah sehat ini, tp tentu tak melarang org yg "sakit" masuk, tp dgn harapan ikut menjadi sehat......"

Saya sendiri memberi tanggapan seperti ini :  "Saya mampir karena tulisan saya sudah anda kunjungi, semoga kunjungan persahabatan.... saya setuju dengan pemikiran "kedamaian", masalahnya adalah kebersamaan kita. Untuk itu jangan "hitam-putih" melihatnya, debat-> sengketa, tidak debat -> damai. Saya melihat komunikasi sharing arahnya. Silahka periksa semua tulisan saya lebih2 bln Ramadhan kemarin, sehingga paling berani tulisan terakhir saya yang anda tlh kunjungi. Setuju hentikan perdebatan agama, tapi ciptakan komunikasi damai demi kebersamaan dan realita pluralitas negri ini. makasih..."

Setelah saya merenungkan hal kedamaian dan ketulusan yang saya postingkan kemarin pagi ini (2010/11/03), saya kepengin menyampaikan tulisan ini. Mengenai kopas dari tulisan dan komentarnya rekan-rekan @ninaninut dan @Setyawan Triatmojo, saya sudah "memberi tahu" pagi tadi, saya mengambil izin "licentia praesumpta" yaitu mengandaikan mestinya diizinkan karena fakta dan tidak merugikan justru menambah publikasi. Saya anggap ini pengalaman indah di Kompasiana.

Saya melihat di Kompasiana ada "pengamat dinamika". Saya yakin semua bermaksud baik. Mungkin seperti saya sekedar belajar, tanpa mau mempengaruhi apalagi mengubah arah Kompasiana. Namun saya membaca realita tersebut. Misalnya dengan penggunaan ikon siluman. Juga pasti diawali dengan pengamatan atas sesama rekan kompasianer, ketika orang mau merekrutnya kedalam groep penulis. Semua itu sah-sah saja sepanjang memang dalam alur Tatib Admin Kompasiana yang kita sama-sama tahu.

Terhadap lingkungan luas yang dinilai belum ideal diperlukan beberapa pertimbangan dan kearifan. Atau laporkan saja pada Admin...

Kedamaian memang harus diawali dari hati sendiri, didasarkan pada nurani yang jernih. Kedamaian diamalkan dalam komunikasi tanpa prasangka buruk terhadap komunikannya..

Wassalam...damai.

Tulisan saya sebelumnya  (tidak pas bidangnya/salah penempatan) :

http://ekonomi.kompasiana.com/group/manajemen/2010/11/03/kedamaian-di-kompasiana/

Tulisan rekan tolong mampir:  @Dwiarko dalam : http://ekonomi.kompasiana.com/group/manajemen/2010/11/03/personal-branding-why/

KEMBALI KE ARTIKEL