Mohon tunggu...
KOMENTAR
Olahraga

Sandro Rossell : Barca Tetap 1 Diantara 4 Klub Terbaik Eropa

2 Mei 2013   14:02 Diperbarui: 24 Juni 2015   14:15 540 0

Tak ada seorangpun yang menyangka Los Azulgranas Barcelona akan berakhir seperti ini. Kekalahan mereka di semifinal Liga Champions Eropa 2011/2012 sempat dianggap sebuah kebetulan oleh beberapa pihak. Fanspun masih bisa bernyanyi lantang setelah gol Fernando Torres memastikan Barca berhenti di semifinal tahun lalu. Tapi malam ini kerongkongan para Cules seperti tersumbat. Mereka hanya bisa bernyanyi terbata-bata, sebab agregat kekalahan 7-0 dari Die Roten Bayern Munchen tentu bukan sebuah kekalahan biasa. Apa artinya bukan sebuah kekalahan biasa ? Almarhum Wiel Coerver, penemu Coerver Method, sebuah metode kepelatihan yang umum diterapkan di Eropa dan menjadi referensi tiki-taka Barca, mengatakan,”Dalam sepakbola kekalahan telak disebabkan oleh faktor yang begitu kompleks.” Faktor yang begitu kompleks dalam kurikulum Coerver terdiri dari strategi (visi bermain), taktik (misi bermain), teknis (praktikal di lapangan), fisik (kondisi jasmani pemain) dan mental (kondisi rohani pemain).  Uniknya, dari kelima faktor tersebut, satu saja bermasalah akan merembet dan melemahkan empat faktor lainnya. Bila Coerver Method menjawab penyebab sebuah kekalahan luar biasa dari sudut teoretik, maka Marcos Lopez, reporter dan kolumnis El Periodico mengungkapkan data dan fakta penyebab kekalahan tragis tersebut, dari hasil riset dan investigasi mendalamnya terhadap kinerja Barca pasca Tito Villanova cuti sakit. Catatan Lopez menunjukkan bahwasanya keterpurukan Barca berlangsung sistematik semenjak kursi kepelatihan sementara diisi oleh Jordi Roura. Selama Villanova sakit, Roura sebetulnya menjalin komunikasi dalam hal pengelolaan tim dan strategi saat bertanding.  Maklum saja, berkonsultasi dengan seseorang yang bugar tentu berbeda dengan seseorang yang tengah menderita sakit. Menimbang penyakit yang diidap Villanova, wajar saja jika pada akhirnya dalam hal strategis, taktis dan teknis, Roura dituntut untuk mengambil porsi pemikiran yang lebih besar dan berat. Roura tidak beruntung ketika dalam perjalanannya sebagai care taker tiba-tiba saja badai cedera melanda pemain-pemain Barca. Dampaknya, strategi, taktik dan teknis permainan Barca kemudian tersentralisasi pada sosok Lionel Messi. Dilain pihak, rotasi pemainpun berlangsung setengah hati, mengingat tuntutan kemenangan demi kemenangan di ajang La Liga, Copa Del Rey dan UEFA Champions League. Sulit dan serba salah bagi Roura sebagai care taker untuk mengambil resiko dengan menurunkan pemain-pemain cadangan. Ditinggalkan pelatih utama, dilanda badai cedera, ketergantungan pada satu sosok pemain, meletakkan Los Azulgranas pada posisi penuh tekanan. Dilain pihak cara bermain mereka dibahas secara rutin dan detil oleh calon lawan-lawannya. Lawan-lawan merekapun kemudian menemukan strategi yang jitu untuk mengatasi skuad Los Fantasticos. Alhasil, Real Madrid, sang musuh bebuyutan, membuat mereka tersingkir dari ajang Copa Del Rey dan kalah pada El Classico dilanjutan La Liga. Setelah itu, AC Milan sempat mengejutkan mereka dengan 2 gol tanpa balas di 16 besar Liga Champions, Paris Saint Germain dua kali menahan mereka di 8 besar, dan puncaknya kekalahan telak yang menusuk jantung tiki-taka Barca dari Bayern Munchen pada 4 besar Liga Champions dengan agregat 0-7. Skuad Barcelona sendiri sebetulnya telah kalah sebelum bertanding dan kehilangan asa untuk membalikkan keadaan dalam leg ke 2 di Nou Camp. Awalnya adalah rekomendasi dari psikolog tim yang menyarankan agar Lionel Messi, bintang mereka sebaiknya tidak diturunkan dalam duel leg ke 2 tersebut. Tito Villanova menyatakan pada Harian ARA, bahwasanya setelah ia dan psikolog tim berbicara dengan Messi pasca duel dengan Athletic Bilbao, ia memutuskan untuk tidak menurunkan Messi terkait kondisi psikisnya yang dicekam stres berat. Stressor Psikososial Messi berdampak besar pada skuad Barca, mengingat posisinya yang vital sebagai intinya pemain inti. Maka, dengan langkah berat skuad yang pernah berjaya dengan treble winner musim 2008/2009 itupun menjejaki rumput Nou Camp Stadium, untuk kemudian pulang dengan kepala tunduk pada semifinal Liga Champions 2012/2013. Sandro Rossell, presiden klub, walau prihatin menyaksikan performa Barcelona, namun tetap merasa bangga dengan perjuangan Xavi Hernandez dan kawan-kawan. Rossell beralasan, dengan kendala-kendala berat skuad ini toh tetap bisa menjadi satu diantara empat klub terbaik Eropa, juga tetap memelihara peluang besar untuk mengembalikan tahta La Liga yang tahun sebelumnya diboyong sang musuh bebuyutan, Real Madrid. ”Sejauh ini saya tetap bangga dengan kinerja tim. Sekarang kami akan fokus pada trofi La Liga. Rencana kedepan baru akan kami tentukan setelah evaluasi diakhir musim.”ungkap Rossell dalam situs resmi FC Barcelona. Pernyataan dan konfidensi seorang Rossell itu adalah indikator dan isyarat bahwasanya era FC Barcelona belum akan berakhir. Terlalu naif jika perjuangan menjadi klub terbaik dunia yang diawali Johan Cruyff  duapuluh tahun lalu itu dianggap berakhir, hanya karena kekalahan menyakitkan yang terjadi dibabak semifinal Liga Champions musim ini. “Kalah dari Bayern bukan akhir bagi Barca. Ini hanya sebuah siklus yang akan diambil sebagai pelajaran oleh mereka.”komentar kolumnis sepakbola kenamaan Inggris, Martin Rogers. Kolumnis yang menjadi redaktur ahli salah satu portal sosialita terkemuka dunia itu bahkan memprediksi, Neymar, bintang Brazil, dan Gareth Bale, bintang Irlandia, akan merumput di Nou Camp dan mengembalikan treble winner ke bumi Catalan tahun depan. (aea)

KEMBALI KE ARTIKEL