Mohon tunggu...
KOMENTAR
Novel Pilihan

Pendekar Pedang Sunyi

26 Maret 2020   08:18 Diperbarui: 26 Maret 2020   08:31 40 2

PENDEKAR PEDANG SUNYI - CERITA SILAT BERSAMBUNG

Sebuah gendewa (anak panah) meluncur menembus angin. Desingannya melibas daun-daun dahan pohon sawo hingga merobek tepinya. Anak panah itu menghujam dalam kesebuah papan perguruan silat yang semula kokoh tergantung di dinding sebuah sudut mirip altar. Ujung gendewa yang menancap ditengah  tampak meleleh, cairan merah darah meretas celah kayu yang terhujam melumuri sebagian tengah bawah papan itu.

"Gendewa ini menjadi saksi bahwa 'Perguruan Pedang Sunyi' tak akan pernah ada lagi di bumi Hindia timur. Darah diujung gendewa dari telinga guru yang kalian agung-agungkan juga menjadi saksi siapapun yang akan mendirikan perguruan tak boleh satupun tanpa ijin aku, Klabang Ireng,  dan hanya boleh berlatih di waktu Lingsir wengi!"  serbuan mendadak diwaktu 'sirapwong' oleh segerombolan pendekar berpakaian hitam dan merah meluluh lantakkan seluruh perguruan seluas selaksa meter persegi itu.

Tubuh dari sosok berpakaian abu-abu nampak tergeletak dimuka meja besar, ia dikelilingi lima sampai enam anak-anak muda yang nampak menahan tangis. Racun dari bisa yang terseruput dari gelas tempurung kelapa merobohkan pertahanan guru perguruan sesaat jamuan  siang dilaksanakan oleh tamu yang mengaku mewakili  pemerintah Hindia timur. 

KEMBALI KE ARTIKEL