Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary Pilihan

Indahnya Mengenang Masa Lalu

11 Maret 2021   00:52 Diperbarui: 11 Maret 2021   00:58 187 48

Aku dulu saat pertama kali ke Banjarmasin, tahun 1970 tak ada seorang pun yang aku kenal. Datang saja merantau. Tempat tujuan menerawang. Yang penting merubah penghidupan.

Partama kali kapal berlabuh, saat itu tengah hari. Aku kehausan. Aku lihat penjual es serut, aku pun mendekat. Minta segelas es. Aku minum. Sungguh segar rasanya.

Aku pun kemudian ingin memulai usaha dengan berjualan es serut. Dengan sisa uang yang ada, satu persatu peralatan aku beli.

Setelah mendapatkan ruang kontrakan alakadarnya, aku mulai berjualan es serut. Keliling kampung. Lumayan untungnya, jika pas nasib baik modal akan kembali dua kali lipat. Jadi untungnya sama sedang jumlah modalnya.

Karena masih perjaka, makanku seadanya. Yang penting ada simpanan. Maklum tinggal di perantauan. Harus sangat hemat.

Beberapa bulan jualan es serut sampailah pada suatu saat di mana es serut jatuh dalam perdagangan. Musim hujan.

Sebelum bangkrut, aku sempat melihat orang jualan sayur keliling menggunakan pikulan. Tampah kiri kanan, pasti untungnya besar. Pikirku dalam hati. Maka aku berniat pindah haluan. Aku ingin jualan sayur keliling.

Kebetulan ada pendatang baru. Perantau. Sama seperti aku dahulu, ia ingin jualan es serut. Mungkin karena haus dan segar setelah minum es serutku. Aku juallah gerobak es serutku beserta seluruh perlengkapannya.

Hasil penjualan itu aku belikan pikulan dan tampah bambu. Aku pilih yang paling tebal agar kuat dipikul dan tahan terhadap beban berat.

Esok harinya aku pun berjualan sayur keliling kampung. Untungnya lumayan, bisa tikel tiga kali lipat. Lebih mudah jualan sayur ketimbang jualan es serut.

Tabunganku sudah lumayan banyak. Maka aku pun menikah. Sambil perlahan-lahan mengumpulkan uang untuk membeli tanah dan membangun rumah.

Beberapa tahun berjalan. Aku sungguh menikmati berjualan sayur keliling kampung. Tapi, apa mungkin selamanya aku harus jadi penjual sayur keliling, padahal aku lulusan STM. Harusnya aku jadi pekerja bangunan, minimal jadi tukang batu atau tukang kayu.

Menjadi pekerja sama artinya menjadi buruh. Bekerja dengan perintah penuh.

Demi menjajal kehidupan baru, maka aku pun pindah profesi. Dari penjual sayur keliling naik jabatan jadi buruh bangunan.

Tingi mana sih buruh bangunan dengan penjual sayur? Ia bertanya.

Aku mendengarkan ceritanya tanpa berkomentar apa-apa. Hanya sesekali menanyakan bagaimana rasanya jadi pedagang es serut lalu pindah jadi penjual sayur keliling. Lantas mengapa pindah jadi buruh bangungan.

Orang itu terus saja dengaj bangga menceritakan masa lalunya.

Semenjak jualan es serut banyak pengalaman yang didapat. Hanya dengan bermodal gerobak dan keterampilan mengasah es batu lalu dicampur gula dan santan maka jadilah uang. Banyak untungnya.

Kemudian karena melihat ada orang yang lebih nyaman jualan sayur keliling, ia pun ingin mengikuti jejaknya. Menurutnya menjual sayur tidak tergantung musim. Setiap hari orang perlu makan. Dan teman makan adalah sayuran. Penjual sayur akan bertahan sepanjang masa. Selama masih ada orang makan, maka sayuran akan laku.

Jika berjualan sayuran begitu nyaman dan menghasilkan, mengapa pindah jadi buruh bangunan?

Karena ingin mempraktikkan pelajaran yang di dapat di bangku sekolah maka ia pun pindah pekerjaan. Nanti, katanya jika sudah punya pengalaman pasti akan naik jabatan. Mungkin suatu saat akan jadi mandor bangunan.

Setelah menggeluti dunia bangunan, ternyata bekerja di bawah perintah orang lain sangat tidak mengenakkan. Jangankan jadi mandor bangunan, yang ada ladang kontraktornya melarikan diri setelah bangunan selesai. Para pekerja banyak yanh tidak dibayar.

Jangankan ada tabungan, malah simpanan ludes termakan. Ini gara-gara ingin mempraktikkan ilmu dari bangku sekolah.

Ia pun kembali menjadi penjual sayuran. Kali ini sudah ada kemajuan. Tidak lagi dengan pikulan melainkan dengan sepeda pancal. Lebih ringan, jarak tempuh keliling juga bisa lebih jauh. Untungnya kian banyak, karena barang yang dibawa juga bertambah banyak.

Lantas mengapa berhenti jadi penjual sayuran?

Di mulai dengaj kerusuhan 98, malam atau menjelang pagi kondisi tidak memungkinkan untuk belanja ke pasar pagi. Kondisi ini berlangsung berminggu-minggu, maka aku mencoba berjualan mainan anak-anak.

Beli mainannya borongan. harganya sangat murah. Anak sekolahan sangat suka mainan. Jajannya hampir semua dibelanjakan mainan. Setiap hari mereka kerjanya hanya belanja mainan.

Dari penjualan ini aku mendapat untung banyak, hingga akhirnya rumahku selesai aku bangun. Anakku bisa sekolah. Kebutuhan rumah tangga tak ada yang kekurangan.

Salah satu jualan paling rame adalah berjualan di depan sekolah. Waktu yang diperlukan sangat sedikit tapi uuntungnya besar.

Lalu mengapa akhirnya berhenti jualan mainan?

Nah, inilah masalahnya. Anak sekolah sudah mengenal hp. Mereka tidak lagi suka mainan tradisional. Barang dagangan dilrik pun tidak. Jadi sehari demi sehari modal habis jadi tambal buat makan.

Akhirnya aku berhenti jualan mainan.

Ia terus saja bercerita segala macam pengalaman hidupnya. Sambil sekali-sekali ia bertanya tentang masa depan. Bagaimana nasibnya anak sekarang.

Setelah lulus sekolah, lulus kuliah mereka akan bekerja sebagai apa? Apakah akan menjadi buruh perusahaan atau berdikari. Berjualan seperti aku. Dan seterusnya....

Aku hanya menunduk diam, tak tau harus memberikan penjelasan apa.

Kini korona masih saja merajalela, banyak karyawan pabrik dan perusahaan bekerja terpisah dari keluarga. Terkurung di tempat kerjanya. Sementara kita tak tau kapan kondisi ini akan berakhir.

Sementara tahun ini ada sekian ribu bahkan sekian jula lulusan SMA dan perguruan tinggi. Kemana mereka akan bekerja? Apakah karena korona kemudian mereka jadi pengangguran? Entahlah.

Terlalu banyak pertanyaan yang tak bisa dijawab sekarang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok pagi. Hanya berdoa semoga kondisi kembali normal seperti biasa. Itu saja....

KEMBALI KE ARTIKEL