Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Hidup Memang Tak Gampang, Banjir Menggenang Tak Pupuskan Harapan

11 Januari 2021   09:47 Diperbarui: 11 Januari 2021   10:47 358 36
Tiga hari hujan berturut-turut benar-benar menyisakan genangan. Dan sangat dalam. Tak hanya di pelupuk mata. Tak juga di separo hati. Semua menggenang tak menyisakan kering lagi.

Tak hendak protes pada Tuhan. Katanya, hujan adalah berkah yang diturunkan dari langit. Berkah buat yang satu mungkin akan dimaknai sebagai petaka bagi yang lainnya.

Betapa tidak! Buruh sawit, terdiri dari ibu/bapak tua, muda hingga yang masih remaja. Menanti genangan air surut. Buat apa?

Di ujung nun jauh di sana, 5 - 6 km menanti kotak hitam bernama sidik jari. Dan nasib mereka tergantung kapan jempol itu menempel di sana. Jika kendaraan ditinggalkan dan berjalan kaki jam berapa mereka tiba di tempat tujuan?

Masker yang menutup separo wajah tak lagi mampu membedakan, apakah ada kesedihan atau senyuman saja. Mata-mata kosong menatap arus deras memotong jalan. Tak terlalu dalam mungkin, hanya sampai di ujung pangkal paha.

Mereka berharap untuk saat ini, surutlah wahai air sisakan sedengkul saja agar kendaraan butut napas kehidupan mereka mampu bertahan dan menyeberang.

Agar jempol ini mampu meraih kotak hitam sidik jari. Agar 67.500 rupiah bisa menjadi pendapatan hari ini.

Jangan kira setelah lepas dari penggalan jalan, mereka akan meluncur mengejar mimpi. Kubangan demi kubangan harus diterjang, lumpur tanah liat yang menyelimuti roda kendaraan tak seberapa menyiksa. Walaupun kadang setiap satu putaran rodanya macet dan harus dicungkil dahulu baru bisa berputar.

Tetap di depan mataku mereka berbaris seakan antri sembako, istimewanya kali ini tak ada perebutan. Juga tak ada antrian. Masing-masing berebut untuk menerjang paling belakang.

Maka satu persatu kendaraan nekad menyeberang. Ada yang selamat. Ada yang napasnya tersumbat. Jika sudah begitu, kendaraan harus disungsang. Busi harus dilepas dan dikeringkan. Syukur-syukur jika mesin tak lemas kemasukan air.

Bila mesin sudah kemasukan air, artinya hanya bengkel yang mampu mengeringkan dan mengganti olinya. Minimal kantong saku mereka yang telah bocor kian besar bocornya.

Setidaknya 50.000 rupiah untuk olinya dan 25 rupiah untuk servisnya. Artinya jika nekad kemudian gagal, mereka harus nombok 7.500 rupiah. Padahal hingga 8 jam ke depan mereka harus bertarung melawan duri sawit yang begitu menyakitkan.

Seakan begitu kejamnya Tuhan. Doa agar air surut segera tiba, malah yang terkabul adalah hujan kian deras. Mereka sudah tak peduli baju yang basah. Celana basah merupakan hal biasa. Bekerja dalam hujan pun disambi sambil bercanda.

Salahkah mereka? Keburukan apa yang telah mereka kerjakan hingga derita begitu rupa menjelma dalam kehidupan mereka?

Penonton yang menyaksikan akan mengelus dada. Tapi mereka? Hidup memang tak mudah, begitu kata sebagian dari mereka. Masih enakan kita yang berada di desa. Setelah pulang kerja, masih ada pohon sawit milik sendiri yang bisa dipanen. Atau ada beberapa puluh pohon karet yang siap disadap.

Mereka yang tak memiliki kebun karet dan sawit, masih punya sawah yang bisa ditanami padi alakadarnya. Walau banjir datang kadang memupuskan harapan mereka.

Tak sedikit yang ketika pulang kerja rehat sebentar kemudian iseng mancing di empang-empang sekitaran kiri kanan jalan menuju pulang. "Kadang saya dapat sampai 3 kilo ikan gabus," katanya.

Jika harga satu kilo 30 rupiah, berarti hari itu ia mengantongi pendapatan 90.000 rupiah. Tapi mengapa mereka masih bertahan dengan 67.500 yang kini sururnya air begitu dinanti?

Bekerja dengan penghasilan tetap, bagaimana pun sulitnya akan memberikan harapan yang besar daripada bekerja dengan penghasilan tidak menentu.

Aku kemudian berpikir, beginikah mengapa begitu banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi PNS? Orangtua, calon bertua, pacar, hingga isteri, maupun suami mengidolakan para NPS. Tentu saja karena penghasilan tetap dan menterengnya penampilan mereka. Entahlah....

Hujan semakin lama semakin lebat. Satu persatu kendaraan telah menyeberang. Perlahan tapi pasti genangan air merambat naik. Aku berteduh di bawah pohon pisang. Sambil menating jorang. Siapa tahu ada ikan kesasar yang nyidam umpan pancingku.

Orang juga tak tahu kalau aku juga sedang berjibaku, bagaimana lauk makan siangku nanti. Bagaimana kucing-kucing liar kesayangan harus tetap makan.

Ternyata dalam posisi apapun kita, bekerja di tempat seberapa pun indahnya. Perjuangannya sama, demi sesuap nasi ada keringat yang harus diperah. Ada sedih yang harus ditutupi. Hingga senyum dikulum mampu membuat lega seisi rumah. berikut para tetangga yang menyaksikan betapa dahsyatnya perjuang hidup dan bertahan. Demi anak isteri tercinta yang selalu setia menanti.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun