Mohon tunggu...
KOMENTAR
Ekonomi Pilihan

Siapa Bilang Pengusaha Daerah Tak Bisa Sukses

29 Oktober 2014   21:27 Diperbarui: 17 Juni 2015   19:15 328 2

[caption id="attachment_1148" align="alignleft" width="300" caption="Sumber Gambar: AninBakrie.com"][/caption] Semenjak menjadi pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie semakin sering berkunjung ke berbagai daerah. Maklum, posisinya saat ini adalah Wakil Ketua Umum bidang Organisasi, Keanggotaan, Pemberdayaan Daerah dan Tata Kelola Perusahaan. Salah satunya, seperti yang dilakukan pada tahun 2010, Anindya Bakrie terbang ke Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana, Anindya Bakrie bukan melantik pengurus daerah, sebagaimana biasa dilakukannya. Hari itu beliau diminta menjadi narasumber pada acara “Forum Bisnis Kadin NTB”. Seperti biasa beliau telah menyiapkan naskah presentasi. Judulnya; “Peran dan Kontribusi Wirausahawan Muda dalam Pembangunan Ekonomi Daerah dan Nasional”. Namun beliau tidak menggunakan makalahnya. Anindya Bakrie bercerita saja, membagi pengalaman dengan suasana yang lebih santai. Menurut Anindya Bakrie, soal makalah bisa diperbanyak dan dipelajari di rumah. Lebih baik berbicara dengan cara sharing dalam suasana cair. Menurutnya itu lebih mudah berkomunikasi dengan hadirin. Apalagi, dalam diskusi tersebut ada juga mahasiswa yang hadir. Intinya, Anindya Bakrie bicara mengenai bagaimana generasi muda dan orang daerah mau menjadi pengusaha dan sukses berusaha. Kemudian disampaikan materi diskusi dengan bahasa yang mudah dipahami, terutama mengenai kiat-kiat berusaha. Kebetulan, Kadin memiliki program menciptakan pengusaha-pengusaha baru, terutama pengusaha muda, di Indonesia. [caption id="attachment_1151" align="alignright" width="300" caption="Sumber Gambar: AninBakrie.com"][/caption] Selama ini ada semacam anggapan keliru bahwa anak muda dan orang daerah susah menjadi pengusaha sukses. Ini tentu keliru jika kita lihat kenyataannya. Kalau kita baca majalah Forbes, ada 40 orang atau pengusaha terkaya di Indonesia, yang menikmati PDB sebesar USD700. Dari 40 orang itu, 90 persen kegiatan bisnisnya ada di daerah, yang meliputi bidang pertambangan, perkebunan, dan lain-lain. Kelompok Usaha Bakrie juga lahir di daerah. Pendirinya kakek dari Anindya Bakrie,  Ahmad Bakrie, yang lahir di Kalianda, Lampung, tidak bisa sekolah karena tidak punya uang. Pada usia 19 tahun, dia pergi ke Teluk Betung, di sana dia berdagang hasil bumi. Dari situ, Ahmad Bakrie berpikir, “Kalau dari situ saja, saya hanya dapat komisi. Bagaimana kalau saya masuk ke industrinya?” Masuklah Beliau ke industri, yakni industri kawat. Lalu, berkembang lagi ke industri pipa, dan lain-lain. Jadi, pengusaha daerah terbukti bisa sukses. Soal pengusaha muda. Kalau kita melihat dunia usaha sekarang, banyak pengusaha baru. Dari anggota Kadin atau Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), banyak juga yang membanggakan. Banyak yang umurnya masih di bawah 40 tahun atau 50 tahun, sudah sukses. Jadi, anak muda juga punya peluang dan bukan tidak mungkin menciptakan pengusaha-pengusaha baru ke depan. Pengusaha baru harus terus diciptakan. Dari data terakhir, jumlah pengusaha Indonesia mencapai 250 ribu orang, atau sekitar 0,3 persen. Padahal, idealnya adalah 2 persen dari jumlah penduduk, atau 4-juta pengusaha. Jadi, menurut Anindya Bakrie, tidak usah takut untuk mengambil risiko. Kita harus pandai-pandai melihat peluang usaha. Apalagi, kalau kita lihat dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang berusia di bawah 40 tahun ada sekitar 42 persen. Artinya, yang muda-muda ini lebih memiliki peluang besar untuk menjadi pengusaha. Lalu apa yang harus dilakukan saat memulai usaha? Pertama adalah kekuatan ide. Kekuatan ide itu lebih besar daripada uang. Kadang-kadang orang ragu untuk memulai usaha karena belum apa-apa sudah melihat kendala, tantangan, kekurangan, dan kelemahan di sana-sini. Padahal kalau soal kendala, sudah pasti akan ada. Kakek Anindya dulu bahkan mengembangkan bisnisnya tiga tahun sebelum kemerdekaan. Ini tentu tidak mudah dan besar kendalanya. Jadi, kalau orang sekarang bilang menjadi pengusaha itu banyak kendala, apalagi pada tahun 1942, tentu lebih banyak lagi kendalanya. Tentu saja, kendala zaman kakek dan zamannya tentu berbeda, namun secara umum sama. Kendala yang biasanya sering dikeluhkan adalah belum adanya aturan atau regulasi. Tetapi, coba kita lihat, misalnya, Es Teler 77. Untuk bikin Es Teler 77 tidak perlu menunggu regulasi bahwa orang harus minum es teler, kan? Kalau mau bikin usaha, ya, bikin saja. Jika menarik pasti disukai dan sukses. Nah ini bedanya, antara pengusaha dan bukan pengusaha. Kalau pengusaha itu bisa membaca peluang untuk diuangkan, untuk dibisniskan. [caption id="attachment_1157" align="alignleft" width="192" caption="Sumber Gambar: AninBakrie.com"][/caption] Lebih penting lagi, ide usaha itu juga harus jelas dan simpel. Ide usaha yang beik harus mampu dituangkan dalam satu kalimat. Kalau ditanya, “Apa business plan Anda?” Kalau Anda ngomongnya, “Oh, begini, bisa begini, bisa begitu, bla-bla-bla…” berarti itu tidak jelas. Kalau Anda ditanya investor “apa bussines plan Anda?” jawabannya harus cepat. Kalau bisa cukup dalam satu kalimat. Harus cepat; tidak lebih lebih dari 15 detik. Misalnya jika orang bertanya soal Bakrie Telecom, Anindya Bakrie bisa jelaskan dengan mudah dalam satu kalimat: “Air Asia-nya telekomunikasi Indonesia.” Orang tahu Air Asia, dengan demikian akan langsung tahu bahwa bisnis saya adalah membuat operator telekomunikasi murah, seperti yang dilakukan Air Asia di bisnis penerbangan. Hal penting kedua adalah fokus. Anindya Bakrie mengambil contoh tvOne. Waktu pertama kali dimulai, kami tidak mengatakan “tvOne akan bisa begini, bisa begitu, bisa mengembangkan di sini dan di situ, bla-bla-bla,” Itu tidak ada fokus. Padahal, fokus itu penting. Saya hanya bilang: news dan sport saja. Kemudian ada yang menyanggah, “Wah, nggak mungkin. Masa nggak ada sinetronnya, masa nggak ada reality show-nya, masa nggak ada kuisnya, dan lain-lain.” Saya katakan, fokus itu mahal, dan butuh keberanian. Kenapa? Yang susah bukan memperbesar keinginan, tetapi justru memperkecil keinginan. Maksudnya, yang penting low cost (berbiaya rendah) seperti Air Asia. Bisa terbang, penumpang selamat sampai tujuan, aman dan nyaman. Sudah, selesai. Itu saja. Yang lain, biarin saja, biar orang lain yang urus. Begitu juga dengan kasus tvOne atau Esia. Yang penting low cost, murah, terjangkau dan bisa bekerja. Sudah. Itu saja yang penting. Fokus pada itu saja bukan berpikir muluk-muluk yang belum tentu berguna. Fokus itu bisa mengurangi kompleksitas. Dengan mengurangi kompleksitas, biaya operasional juga bisa dikurangi, karena tidak terlalu banyak yang harus dikerjakan atau harus dipenuhi. Kompleksitas itu tidak hanya masalah uang, tetapi juga, sumber daya yang tersedia atau hal-hal lain yang harus dipenuhi. Hal ketiga yang penting lagi adalah mengenai nilai tambah. Analogi pembuatan film bisa dijadikan penjelasan di sini. Penulisan skenario, penting. Syuting atau pengambilan gambarnya, penting. Post editing-nya, juga penting. Tetapi, di mana sesungguhnya letak nilai tambahnya? Jawabannya: di penulisan skenario dan post editing. Itu yang paling penting. Syuting atau pengambilan gambarnya juga penting, tetapi tidak banyak nilai tambahnya. Kalau di penulisan skenario, kan harus ada ide yang jelas, dan fokusnya juga jelas. Di post editiing semua kerja sebelumnya ditentukan bagus atau tidak, bernilai atau tidak. Dalam kerja ini yang paling sedikit waktunya adalah di penulisan skenario dan post editing. Artinya, di sini biaya produksinya juga lebih sedikit dibanding pada proses pengambilan gambarnya. Tetapi, nilai tambahnya justru paling banyak di situ. Sedangkan pada proses pembuatan film atau pengambilan gambar paling lama dan paling tinggi biaya produksinya. Banyak orang menganggap, makin banyak kerja, makin tinggi nilainya. Sama juga dengan di bisnis. Kita harus tahu bagaimana investor itu berpikir, untuk mendapatkan dana. Ingat, dana itu mengejar ide, bukan sebaliknya. Kalau ditanya bisnis apa yang prospek sekarang dan di masa mendatang? Menurut Anindya bakrie adalah bisnis di bidang agriculture dan marineculture. Kenapa? Karena di situ sifatnya berkelanjutan dan sustainability-nya jelas. Kalau kita bisnis di kedua bidang itu, misal, harga tanah pasti akan terus naik. Selain itu, negara ini juga negara yang subur. Kekayaan laut kita juga sangat melimpah. Apa pun bisa tumbuh di sini, dan bisa sepanjang tahun. Berbeda kalau kita berbisnis di bidang pertambangan. Di satu titik, ketika terus dieksploitasi, pasti akhirnya akan habis juga. Lalu hal penting keempat, kita harus tahu di mana uang itu berada. Dalam analogi pembuatan film tadi, juga bisa dijadikan penjelasan dalam hal ini. Yang paling sedikit waktunya adalah di penulisan skenario dan post editing. Di sini, biaya produksinya lebih sedikit dibanding pada proses pengambilan gambarnya. Tetapi, justru nilai tambahnya paling banyak di situ. Sedangkan pada proses pembuatan film atau pengambilan gambar, paling lama dan paling tinggi biaya produksinya. [caption id="attachment_1154" align="alignright" width="300" caption="Sumber Gambar: AninBakrie.com"][/caption] Terakhir, kita harus mengetahui kelemahan. Memang tidak semua pengusaha memiliki kemampuan mengelola risiko. Tetapi, ini bisa diakali dengan mencari orang lain yang punya kemampuan di situ. Cari orang yang telaten, yang sabar, yang bisa membangun perusahaan menjadi lebih baik. Kembali ke soal tantangan, kalau kita bicara tantangan, pasti ada di semua level. Jangan kita berpikir, makin besar bisnis kita, makin kecil tantangannya. Grup Bakrie sudah sering hampir bangkrut. Serangan terhadap kami banyak sekali. Saya tidak bicara aspek politisnya. Tetapi, lihatlah di media massa. Misalnya, urusan Lumpur Sidoarjo, urusan perpajakan, dan sebagainya. Panjang dan banyak sekali. Anindya tidak mau mendebat mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi, beliau hanya mau katakan, mungkin hal itu tidak akan terjadi kalau Kelompok Usaha Bakrie bukan merupakan perusahaan besar. Intinya, kita jangan takut pada tantangan. Tantangan pasti ada, di mana-mana, dan itu harus kita hadapi. Pengusaha, 75 persen melihat peluang usaha, dan 25 persennya manajemen risiko usaha. Yang penting melihat dan mengisi peluang usaha. Selebihnya, menjaga atau mengurangi risikonya. Tapi, kalau dibalik, malah bahaya. Pengusaha itu kesukaannya membaca peluang, menciptakan usaha, membangun jaringan, dan bekerja sama dengan investor. Singkat kata, jika kita punya ide usaha yang jelas, fokus usaha yang pasti, mengetahui dan memahami letak nilai tambah, tahu di mana uang itu berada, berani mengambil risiko dan tantangan serta mampu mengatasinya, maka jangan ragu untuk memulai. Siapa bilang pengusaha muda dan pengusaha daerah tak bisa sukses? Makin banyak pengusaha di Indonesia, makin baik, ekonomi kita akan terus tumbuh. Makin banyak pengusaha di daerah, pasti akan makin menambah manfaat untuk masyarakat. ------

Kunjungi blog resmi Anindya Bakrie:www.aninbakrie.com

Like Fans Page Facebook resmi Anindya Bakrie:https://www.facebook.com/bakrie.anindya

Follow twitter resmi Anindya Bakrie:https://twitter.com/anindyabakrie

KEMBALI KE ARTIKEL