Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora Pilihan

Generasi Covid-19, (Jadi) Generasi Liar?

18 November 2021   16:44 Diperbarui: 18 November 2021   17:03 171 8
Beberapa waktu yang lalu, seorang Ustadz yang mengajar di salah satu pesantren terkemuka di Sumatera Utara, mengeluhkan karakter anak-anak asuhnya yang baru masuk kelas satu SMP pada pertengahan tahun ini kepada Umminya Aqyla dan Faqih.

Karakter mereka sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka umumnya jadi susah diatur, cuekan, dan sebagian malah suka melawan.

Apa mungkin karena dampak dari model pengelolaan pandemi yang diterapkan oleh pemerintah terhadap sistem pendidikan anak sekolahan?

Bukan, dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud menyalahkan cara-cara yang digunakan oleh pemerintah dalam menangani dampak pandemi Covid-19. Sebaliknya, saya cukup mengapresiasi pemerintah.

Aqyla, putri kami, masuk SMP pesantren sekitar tiga-empat bulan setelah pemerintah mengumumkan adanya kasus Covid-19 di negara kita. Sehingga tidak begitu lama merasakan bagaimana keadaan generasinya di luar pesantren. Sedangkan AA Faqih, putra kami, masuk SMP pada pertengahan tahun ini. Jadi, Faqih sempat merasakan dampak penanganan pandemi secara langsung selama setahun lebih.

Kami orangtuanya, cukup merasakan adanya perbedaan karakter antara Aqyla dan Faqih. Aqyla cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya, betah malah. Sedangkan adiknya, agak berbeda. Terasa agak susah dinasehati dan menunjukkan sejumlah tanda-tanda stres.

Saya coba mengingat-ingat kembali bagaimana keadaan Faqih setahun sebelum masuk pesantren. Hidupnya cenderung tidak teratur selama masa pandemi.

Tidak sebagaimana biasanya sebelum status pandemi ditetapkan oleh WHO pada tanggal 9 Maret 2020 dan ditetapkan sebagai bencana nasional oleh pemerintah pada tanggal 14 April 2020, dimana setiap pagi sekitar jam tujuh kegiatan rutinnya berupa mandi, sarapan, mengenakan seragam sekolah dan berangkat ke sekolah. Setelah mengikuti kegiatan pendidikan, pulang sekitar jam tiga. Pada malam harinya mengerjakan PR atau melakukan persiapan sekolah untuk keesokan harinya.

Kegiatan-kegiatannya tersebut, sifatnya membentuk karakter kedisiplinan anak sekolahan.

Sedangkan di masa pandemi, keadaanya bisa dikatakan jadi berubah total.

Belajar online dari rumah dengan metode pembelajaran yang absurd melalui gadget yang memancarkan radiasi dan waktunya relatif singkat. Selanjutnya main hape, nonton tivi, sesekali membaca buku, komik atau majalah. Hampir tidak ada kegiatan-kegiatan sosial bersama teman-teman sebayanya.

Keluhan Ustad dan keluhan kami, memang tidak cukup dijadikan sebagai bukti sahih bahwa generasi Covid-19 ini, khususnya anak sekolahan tahun 2020-2021, jadi "liar" karena pandemi. Paling tidak, cerita kami sudah cukup dijadikan sebagai dasar sebuah hipotesis.

Para pemangku sistem pendidikan, nampaknya memang sangat menyadari hal ini dan berusaha untuk mencegah atau menangani dampak negatif pandemi terhadap anak-anak didiknya.

Seiring dengan relatif suksesnya program vaksinasi massal Covid-19, semoga status pandemi segera dicabut oleh WHO pada akhir tahun ini atau selambat-lambatnya di awal tahun depan. Dan semoga belum terlambat untuk memperbaiki karakter generasi-generasi muda kita dari dampak negatif pandemi tersebut.

(Rahmad Agus Koto. Medan, 18/11/2021).

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun