Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Sejarah Situ Buleud Purwakarta

19 April 2019   04:35 Diperbarui: 3 Mei 2019   23:50 118 0

Padahal untuk menuju ke sana harus terlebih dahulu menyeberangi beberapa sungai besar dan kecil. Pastilah badak yang pintar akan lebih memilih sungai yang terdekat saja untuk mandi dan dijamin belum banyak terpolusi seperti pada masa sekarang. Misalnya badak yang berasal dari Simpeureum (Jatiluhur) tentu akan memilih mandi di sungai Citarum, sungai Cinangka, sungai Cikembang, sungai Cilangkahan atau sungai Cikao dan badak yang berasal dari Cikumpay (Campaka) akan lebih memilih mandi di sungai Cilamaya atau sungai Ciherang.

Daerah sekitar Situ Buleud, boleh jadi juga dihuni oleh banteng Sunda (Bos sondaicus), kijang (Muntiacus muncak), babi hutan (Sus scrofa), harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), macan tutul (Phantera pardus melas), monyet (Macaca fascicularis), ular piton (Python reticulatus) dan biawak (Veranus salvator)  sewaktu Purwakarta dulu masih berupa hutan belantara (leuweung geledegan - gung liwang liwung -loba badak loba maung).

Selama masa pemerintahannya, Dalem Shalawat telah memerintahkan membuat sebuah saluran air, yaitu Solokan Gede dari Parakan Salam ke kota Purwakarta (dari Parakan Salam lewat Cihuni, Pasawahan - sebelah utara stasiun keretaapi Purwakarta sekarang, Kampung Bojong, Kampung Baru, Babakan Anyar, Situ Buleud, masuk kota Purwakarta, pabuen (penjara, Lembaga Pemasyarakatan), keluar kota Purwakarta di bawah pengawasan R. Soerakoesoema, dengan maksud untuk mengkultivasi tanah-tanah yang masih penuh hutan belukar antara Parakan Salam dan Cipaisan dan sekalian mengairi membersihkan kota sebagai saluran saniter. Bahkan konon ada yang disebut dengan Solokan Ciraden.

Adapun bangunan kabupaten yang mula pertama, letaknya di sebelah timur dari bangunan kabupaten yang sekarang atau dengan kata lain berada di sebelah barat Situ Buleud. Sedangkan tanah pekarangan karesidenan yang sekarang  pada waktu itu sama sekali tidak bisa dipergunakan untuk keperluan pembangunan.

Dalam usaha Dalem Shalawat untuk membangun kota, maka tanah-tanah pekarangan kabupaten dan karesidenan itu kemudian diarug dengan tanah-tanah galian dari Balekambang dan dari pinggiran-pinggiran situ. 

KEMBALI KE ARTIKEL