Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Balada Marmut dalam Kotak

12 Juni 2014   00:12 Diperbarui: 20 Juni 2015   04:10 944 1

Dalam gerbong Koalisi Merah-Putih, Partai Amanat Nasional (PAN) menjadi mitra paling istimewa karena ketua umum partai pengusung sekularisme ini dipinang menjadi Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto. Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais yang disebut-sebut menjadi salah satu tokoh sentral refromasi yang dahulu berseteru dengan militer pada tahun 1998, kini mendukung penuh eks Danjen Kopassus, Prabowo Subianto.

Kenapa Amien Rais akhirnya memberikan dukungan untuk Prabowo? Tak lain demi ambisi pribadinya untuk menumpangi kekuasaan dan mengamankan trah politiknya di partai. Amien tengah meretas belukar politik untuk membuka lahan bagi suksesornya Hanafi Rais, putra sulung kebanggan Amien yang terpilih menjadi anggota DPR periode 2014-2019 dari PAN. Hanafi digadang-gadang untuk meneruskan tongkat estafet politik dari Amien, dan Pilpres 2014 ini akan menjadi awal momentum yang tepat. Selain itu, dengan putrinya Hanum Rais yang berkarier di media, akan semakin mengokohkan ambisi Amien untuk membangun dinasti politik keluarga.

Amien Rais yang dulu menjadi salah satu ikon politik nasional kini telah kehilangan taji. Bahkan kalangan internal PAN dan Muhammadiyah sendiri sudah banyak yang berseberangan dengan Amien. Singkatnya, karier politik Amien mendekati expired. Di awal penentuan sikap politiknya yang mendukung Prabowo, banyak kritik dialamatkan kepada Amien. Seorang ikon reformasi dianggap tidak pantas berada satu barisan dengan musuh utamanya dalam peristiwa 1998. Namun ibarat pepatah, anjing menggonggong, Amien berlalu.

Amien Rais pernah sesumbar akan jalan kaki Jakarta-Yogyakarta PP jika ada yang berhasil menemukan bukti bahwa ia pernah mengeluarkan pernyataan negatif terkait Prabowo di masa lalu. Bayangkan, orang seuzur Amien yang kini berusia 70 tahun membelah setengah pulau Jawa dari Jakarta ke Yogyakarta kemudian kembali lagi berjalan kaki ke Ibu Kota sejauh 1000an kilometer... Kasihan.

Untuk itulah, ia akan makin merapat secara intim dengan Gerindra jika Prabowo memenangkan kontestasi Pilpres ini. Bila diperlukan, kelak ia akan menjadi tungku untuk memanasi hubungan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa jika keduanya terpilih. Apakah Amien sanggup melakukan hal semacam ini? Melihat rekam jejaknya, sangat sanggup. Dari mulai mendorong Gus Dur menjadi presiden lalu di tengah jalan menjungkalkan beliau, sampai merestui Soetrisno Bachir menjadi Ketua Umum PAN yang ternyata hanya untuk mengeruk isi kantongnya untuk kepentingan Amien sendiri. Padahal, pengorbanan finansial Soetrisno Bachir sejak kelahiran PAN hingga menjadi Ketua Umum sungguh besar. Hal semacam ini bisa terjadi lagi kepada penerus Soetrisno, yaitu Hatta Rajasa.

Bagi Hatta Rajasa, faktor finansial bukan sebuah persoalan. Alasan Prabowo menjadikan Hatta sebagai cawapresnya adalah karena faktor kuatnya sokongan dana tersebut. Laporan Tempo menyebut, mahar Hatta untuk menjadi pendamping Prabowo bernilai Rp1,7 Trilun dan untuk biaya kampanye, terjadi kesepakatan pengeluaran pundi-pundi 60:40. Secara persona dan kinerja, sebetulnya Hatta ini politisi medioker. Partainya juga hanya menduduki urutan ke-6 dalam Pemilu Legislatif kemarin. Jadi, aroma kepentingan pragmatis lebih menyengat dalam koalisi Gerindra-PAN.

Hatta Rajasa sendiri memiliki catatan persoalan masa lalu dengan dugaan keterlibatannya dalam berbagai kasus antara lain: Dana Hibah KRL Jepang, Kasus impor Suap Daging Sapi, dan keterlibatannya dalam Skandal Migas Nasional yang mengaitkan hubungan gelapnya dengan pemain minyak besar Muhammad Riza Chalid.

Dukungan Amien yang membabi-buta termanifestasi dalam aktifnya Amien dalam mengkampanyekan Prabowo. Ketika ada wacana untuk mengumumkan Kabinet Bayangan (yang ternyata hanya wacana karena sampai hari ini belum juga ada), Amien mendorong Prabowo-Hatta untuk melakukannya agar masyarakat tidak seperti memilih kucing dalam karung, atau dalam kosakata Amien  Memilih Marmut dalam Kotak. Masih banyak lagi statement konyol Amien yang dilancarkannya untuk mempromosikan Prabowo.

Misalnya dengan mengeluarkan pernyataan yang bertentangan: dulu menghujat Prabowo, sekarang memujinya berlebihan, sampai bilang Prabowo mirip Soekarno. Amien juga menyebut bahwa Pemilu 2014 ini adalah Perang Badar, namun kenyataannya ia sedang membela pelanggar HAM yang dulu ditentangnya habis-habisan. Menyebut Prabowo paling berani menghadapi intervensi asing, tak lama beredar video Hashim Djojohadikusumo yang meyakinkan publik Paman Sam bahwa Prabowo sangat Pro-Amerika. Amien pernah juga mengatakan, jika diranking, nilai Prabowo adalah sembilan. Makin menggelikan, bukan?

KEMBALI KE ARTIKEL