Mohon tunggu...
KOMENTAR
Foodie Pilihan

Nyeruit Makan Secobek Rame-Rame

17 September 2022   07:53 Diperbarui: 17 September 2022   08:03 94 6

Siang itu seorang kawan mantan pejabat eselon Dua di Kementerian Dalam Negeri mengajak makan siang di luar hotel. Maklum setelah dua hari bergiat selera makan mulai enggan mengecap menu makanan di hotel.

Tawaran kawan yang memang asli orang Lampung ini segera saya sambut dengan semangat. Selain itu kawan ini gemar memasak dan kulineran. Lidahnya peka terhadap rasa makanan. Sekilas mencicip dia sudah mampu menerapkan cita rasa dan sekaligus menditeksi bumbu apa yang digunakan serta kelebihan dan kekurangannya. Tidak heran kalau kami menjulukinya "Chef Jo" kependekan dari nama Johan. Rumah makan yang enak di hampir setiap daerah yang pernah dikunjunginya ada dalam data basenya.

Apalagi ini dengan iming-iming mencicipi cara makan makanan tradisional khas Lampung,  namanya nyeruit. Di dorong rasa penasaran ingin tahu yang namanya seruit itu kami melaju ke  jl. Haji Juanda, Pahoman yang jaraknya tidak begitu jauh dari hotel Bukit Randu.

Setibanya di rumah makan seruit bu Lin itu kami disuguhi pemandangan unik. Ramai dipenuhi para pengunjung, ada yang duduk menghadapi meja yang penuh dengan berbagai makanan. Ada pula yang duduk lesehan di atas hamparan tikar.

Yang menarik bukan hanya beragam menu yang dihidangkan, tetapi cara menikmati hidangan yang di sajikan. Di tengah-tengah terhidang sambal dalam wadah cobek berukuran cukup besar, dikelilingi wadah-wadah diisi beragam lauk pauk dan lalapan.

Makannya cara bancakan, bersama-sama menaruh nasi dan lauknya di dalam cobek, lalu masing-masing menyantapnya. Itulah khasnya makan di rumah makan seruit ini.

Nyeruit memang cara makanan khas daerah Lampung. Di Rumah Makan Seruit ini makanan dihidangkan dengan menu bermacam-macam. Ada masakan ikan,  digoreng atau dibakar. Sambalnya ada sambal terasi, tempoyak (olahan durian), mangga atau nanas. Jenis ikan yang disediakan umumnya ikan sungai seperti belide, baung, lais, gabus dll, ditambah lalapan. Tentu saja sambal tak ketinggalan.

Kami memesan paket dengan lauk gabus bakar dan pindang Ikan baung lengkap dengan tahu, Tempe dan aneka macam lalapan. Terasa nikmat juga makan bersama-sama seperti itu, meski tidak sepenuhnya mengikuti cara makan yang dilakukan para pengunjung lain. Tetap saja kami menaruh nasi dan lauk tidak menjadi satu dalam cobek, tapi dipiring masing-masing. Lalu "menyocol" sambal dengan lalapan atau lauk kami masing-masing. Kurang seru memang dan sebenarnya "mengingkari" makna makan seruit.

Nama seruit konon berasal dari kata 'nyeruit', artinya dilakukan bersama-sama atau bancakan. Ini menggambarkan makna kebersamaan masyarakat Lampung yang bernilai budaya tinggi.

Dalam referensi, Lampung memiliki dua masayarakat adat, yaitu Lampung Sai Batin dan Lampung Pepadun. Bagi masyarakat Lampung Pepadun, seruit adalah makanan pokok.

Ditilik dari segi Gizi makanan tradisional ini merupakan makanan sehat. Lihat saja sayurannya ada sayur asem, lalapan. Itu semua sumber vitamin, mineral dan serat (fiber). Protein nabatinya bersumber dari Tempe dan tahu. Sedangkan protein hewani dipasok oleh Ikan gabus dan Ikan baung, bisa juga yang lain seperti gurame dan ayam.

Pola makan warisan leluhur seperti ini sejatinya dilestarikan. Bagaimana memprimosikannya terutama agar masyarakat mau menerapkannya di tingkat keluarga. Tentu saja dengan ukuran tingkat kemampuan ekonomi sesuai dengan kemampuan dan penghasilan atau daya beli masyarakat.

Nampaknya ini menjadi ranah penyuluhan gizi yang pada dasarnya menjadi tugas para insan Gizi. Dalam rangka meningkatkan derajat Kesehatan dan status Gizi masyarakat.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan