Politik

Obor Rakyat akan Terbit Kembali, Awas Potensi Fitnah dan Hoaks Lagi

12 Januari 2019   10:37 Diperbarui: 12 Januari 2019   10:59 214 0 0


Pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat dikabarkan telah bebas awal tahun ini. Tabloid yang sempat menggegerkan publik ini pernah menjadi corong fitnah dan informasi hoaks pada Pemilu 2014 lalu.

Masalahnya, Tabloid Obor Rakyat itu berencana akan mendaftarkan diri menjadi badan hukum. Diduga kuat tabloid itu akan menjadi corong fitnah dan hoaks lagi bagi pasangan Prabowo-Sandi lagi.

Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Hasto Kristiyanto, menyatakan pihaknya akan kembali menyeret Obor Rakyat ke ranah hukum, apabila lagi-lagi mengabarkan berita fitnah bagi Jokowi dan juga Ma'ruf Amin.

Hasto menyatakan seharusnya Pemred Obor Rakyat dapat belajar dan sudah jera karena menerima hukuman penjara akibat menerbitkan berita hoaks.

Secara terpisah, Juru Bicara TKN, Irma Suryani Chaniago mengimbau bagi masyarakat maupun pendukung Jokowi-Ma'ruf untuk mewaspadai kehadiran Tabloid Obor Rakyat. Ia mewanti-wanti agar para pendukung Jokowi-Ma'ruf untuk melaporkan tabloid tersebut bila kembali memproduksi berita hoaks di dalamnya.

Selain itu, politisi PDI Perjuangan Ganjar Pranowo juga akan menggerakan para kader banteng sebagai mata dan telinga partai guna memantau rencana penerbitan kembali Tabloid Obor Rakyat.

Meski demikian, TKN tidak begitu khawatir dengan rencana penerbitan kembali Tabloid Obor Rakyat. Ia yakin pemilih kini tidak mudah terpengaruh dengan pemberitaan bohong di tengah masyarakat.

Dengan adanya rencaana penerbitan kembali Tabloid Obor Rakyat kita bisa melihat bahwa, tim pasangan capres-cawapres 02 telah mulai kehilangan nalar dan strategi untuk ambisi memenangkan pilpres dengan segala cara.

Hal ini perlu diwaspadai bersama sehingga masyarakat tidak terpengaruh dan terbentuk opini atas agenda tersebut. Kita harus mengingat bahaya hoaks dan fitnah di tengah polarisasi masyarakat.

Persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia seharusnya lebih utama dibandingkan agenda politik, apalagi ambisi pribadi. Ini yang harus kita ingat bersama.