Humaniora

Dandim 0806 Semarakkan Pawai Obor Polres Trenggalek

9 November 2018   22:31 Diperbarui: 9 November 2018   22:39 23 0 0
Dandim 0806 Semarakkan Pawai Obor Polres Trenggalek
dokpri

TRENGGALEK-- Memeriahkan hari santri dan hari pahlawan tahun 2018, Kepolisian di Trenggalek menggelar pawai obor dalam rangka menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat yang aman dan damai khususnya di Kabupaten Trenggalek. Jumat (09/11/18)

Pawai obor yang diikuti oleh ribuan masyarakat dari kalangan anggota TNI-Polri, mahasiswa, pelajar dan santri ini dimulai dari depan masjid agung Baiturrahman Trenggalek melintasi jalan perkotaan dan finish di Mapolres Trenggalek ini diberangkatkan oleh Komandan Kodim 0806 Trenggalek Letkol inf Dodik Novianto, S.Sos didampingi beberapa pejabat utama Polres dan Kepala OPD yang ditandai dengan pengibaran bendera start.

Ribuan obor yang dibawa peserta pun menjadi daya tarik tersendiri. Kelap kelip obor menambah suasana jalanan kota Trenggalek menjadi lebih berwarna. Tak sedikit masyarakat yang kebetulan melintas atau berpapasan berhenti sejenak untuk menikmati keindahan dan keseruan pawai obor ini. Pun di sepanjang jalan para peserta melantukan selawat nabi dengan sahdu dan kompak sambil membawa bendera merah putih yang terus di kibarkan.

Sementara itu, di halaman Mapolres Trenggalek telah disiapkan panggung lumayan besar lengkap dengan kursi berderet yang disediakan bagi tamu undangan maupun masyarakat sekitar. Tak ayal, halaman Mapolres pun penuh sesak hingga meluber ke jalan raya.

Kapolres Trenggalek selaku inisiator acara, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan peserta yang turut serta menyukseskan kegiatan tersebut.

"Polres Trenggalek menyelenggarakan pawai obor dalam rangka Hari Santri dan Hari Pahlawan ini semata-mata untuk mengingatkan kembali dan meneladani tentang nasionalisme dan patriotisme yang di usung oleh para Kyai, alim ulama dan santri terdahulu" Ucap AKBP Didit

Makna obor, masih kata AKBP Didit, dulu digunakan sebagai alat penerang namun dibalik itu semua ada nilai filosifi bahwa sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki rasa cinta tanah air yang tak pernah mati dan bisa menerangi dunia dengan ilmu pengetahuan layaknya api obor.

Lebih lanjut AKBP Didit mengingatkan, di era globalisasi seperti sekarang ini kejahatan paling berbahaya adalah kejahatan yang dilakukan melalui media sosial. Hoax, ujaran kebencian dan isu Sara maupun konten negatif lainnya termasuk radikalisme banyak ditemukan di media sosial.

Pihaknya berharap, generasi milenial saat ini harus berhati-hati dan menjaga kedaulatan bangsa dan Pancasila dengan bijak bermedia sosial.

"Kalau dulu mulutmu harimaumu, sekarang sudah berganti telunjukmu harimaumu. Jadi harus berhati-hati" Imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Trenggalek H.M Nur Arifin mengungkapkan, santri dan hari Pahlawan tak bisa dipisahkan. Tak akan ada Hari Pahlawan 10 November tanpa peran serta para santri dengan resolusi jihadnya yang dipekikkan oleh Bung Tomo. Ia pun meminta agar semua yang hadir  meneladani semangat juang para Santri terdahulu dalam membela tanah air.

"Sekarang kita tinggal meneruskan dan menikmati hasil perjuangan. Jadilah generasi penerus yang membanggakan dan menjaga tanah air dan bangsa Indonesia" Ucapnya

Tak kalah seru, Mahsun Ismail yang juga mantan Wakil Bupati Trenggalek dan aktivis Pramuka hadir diatas panggung merefreksikan kembali suasana 73 tahun silam saat para santri dan arek-arek Suroboyo berjuang melawan tentara Inggris dengan membacakan pidato lengkap Bung Tomo. Dengan suara yang menggelar penuh semangat, Mahsun Ismail mampu menggelorakan semangat perjuangan dengan pekik merdeka yang disambut serentak para santri dan pelajar yang hadir.

Melengkapi serunya acara yang digelar usai Salat Isya` tersebut para peserta dan tamu undangan disuguhkan penampilan tim hadrah Polres trenggalek yang membawakan beberapa lagu bernuansa religi dan di tutup dengan doa bersama untuk kondusifitas Kamtibmas Kabupaten Trenggalek.

 Acara juga di hadiri oleh jajaran Forkopimda, Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, MUI, FKUB, Muspika Pimpinan Ponpes se Kabupaten Trenggalek, Kepala Sekolah, perwakilan NU dan Muhammadiyah, serta Santri dan pelajar.