Mohon tunggu...
K. Fatmawati
K. Fatmawati Mohon Tunggu... Desainer - Penjelajah

Desainer grafis yang berfokus pada keseimbangan lingkungan, pendidikan, tatanan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan percepatan digital.

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Artikel Utama

Kebingungan di Hari Terakhir Daftar Pindah TPU

17 Maret 2019   21:57 Diperbarui: 18 Maret 2019   09:42 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tahun ini, akan jadi yang pertama kali bagi saya, untuk melakukan pemilu di luar wilayah domisili. Saya awalnya berpikir, keberadaan e-KTP akan membuat proses lebih mudah, dan segala sesuatunya bisa diurus secara digital. Tapi perpindahan proses konvensional ke digital, itu memang tidak memakan waktu sebentar. Terutama jika sumber daya manusia juga tidak sigap.

Saya sampai di Komisi Pemilihan Umum Kota Denpasar, kurang lebih pukul 14.17 WITA. Mulanya saya berencana untuk hadir di hari Senin, tapi kawan yang terlebih dulu datang di pagi hari telah memberikan kabar - bahwa hari ini (Minggu, 17 Maret 2019) adalah hari terakhir pemberkasan. 

Sesampainya di lokasi, sudah banyak yang menunggu. Parkir tampak berantakan, dan semua orang sudah menunggu di depan pintu KPU. Tidak ada yang tampak tidak sabaran, karena semua sudah menggenggam hiburan mereka masing-masing, smartphone. Hanya ada satu anak berbaju kuning, yang sibuk melihat langit-langit teras kantor ini.

Tidak ada nomor antrean, tidak ada kru KPU di teras depan yang bisa ditanya-tanya, dan juga tidak ada tulisan persyaratan maupun jadwal perihal proses pindah TPS yang tertempel di papan pengumuman.

Saat kantor dibuka, semua berebut masuk. Lalu ada beberapa yang masih bertanya-tanya tentang persyaratan, lalu banyak juga yang kebingungan mencari pena.

Tiga petugas jaga, juga berujar tidak lagi memiliki pena, karena sudah habis dibawa oleh pendaftar hari-hari sebelumnya. Jadilah banyak yang kebingungan mencari pinjaman. Banyak yang tidak tahu keberadaan proses pengisian formulir A5 - 1 halaman formulir, yang ditulis dua kali.

Satu lembar fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan cetakan bukti terdaftar sebagai pemilih (yang bisa didapatkan lewat situs lindungihakpilihmu.kpu.go.id atau aplikasi milik KPU). Syarat yang terakhir inilah, yang menjadi masalah besar bagi pemilih yang usianya tidak muda lagi. 

Berikut percakapan yang sekilas saya dengar, saat sedang mengisi formulir:

"Datanya kurang, Pak dan Bu. Kurang bukti kalau bapak dan ibu ini terdaftar sebagai pemilih."
"Maksudnya gimana, Pak? Di mana saya bisa dapat itu?
"Bisa download aplikasi KPU di Google Play atau website lindungihakpilihmu.kpu.go.id"
"????"
"Bapak dan Ibu buka chrome (Google chrome), lalu masukkan situs tadi. Di print, lalu dikumpulkan di sini."
"Aduhh nggak ngerti, hari Senin besok, masih buka kan, Pak."
"Ya enggak, hari ini terakhir. Jam 4 sore, kami tutup. Kami juga hanya melayani area pencoblosan di Denpasar, bukan di daerah lain!"

Dokpri
Dokpri
Kesiapan KPU
Saya kira, Komisi Pemilihan Umum akan mengerahkan tenaga terbaiknya di ajang pesta demokrasi tahun ini (2019). Tapi untuk mencari informasi dari KPU Denpasar saja, saya kesusahan.

Twitter @KPUDenpasar malah lama tidak menyampaikan informasi sejak tahun 2016. Informasi terakhir yang ada di sana-pun adalah retweet dari akun @KPU_RI.  Akun resmi KPU Daerah Bali - @KPUDBali, juga tidak ditemukan informasi terkini perihal pindah TPS. Dua tangkapan layar ini, saya dapatkan di Minggu malam (17 Maret 2019), kurang lebih pukul 10:30 WITA.

Dokpri
Dokpri
#DebatCawapres2019 juga menjadi trending di seluruh dunia (dunia twitter, maksudnya).

Kecakapan petugas juga agak saya ragukan. Merokok saat melayani proses registrasi di meja resepsionis, padahal di mana-mana tertulis "Area dilarang merokok". Memakai headset di salah satu telinga, sehingga mengurangi kemampuan mendengar saat ditanya. Saya bertanya berkali-kali, tapi diabaikan, sampai harus berteriak demi didengar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun