Mohon tunggu...
SFatimah
SFatimah Mohon Tunggu... Guidance and counseling islamic '17

Guidance and counseling islamic '17

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menjaga Kesehatan Mental Anak Selama Pandemi Covid-19

6 Agustus 2020   03:09 Diperbarui: 6 Agustus 2020   02:56 44 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menjaga Kesehatan Mental Anak Selama Pandemi Covid-19
sumber: Dok. pribadi

Perhatian terhadap kesehatan mental bukan hanya penting untuk orang dewasa, melainkan juga buat anak-anak. Di tengah pandemi Corona COVID-19 ini, imbauan karantina mandiri dan physical distancing memang penting untuk mereduksi penyebaran virus Corona. Akan tetapi, physical distancing dan karantina mandiri memiliki dampak negatif terhadap keadaan mental seseorang.

Dilansir dari American Psychological Association, physical distancing juga dapat menyebabkan rasa cemas, ketakutan, stres, mudah bosan, mudah marah, frustasi, hingga stigma di masyarakat. 

Orang dewasa adalah pihak yang rentan terhadap imbas negatif di atas, tapi anak-anak yang dalam masa perkembangan secara emosional juga turut andil merasakan hal tersebut.

Hubungan sosial anak-anak menjadi berkurang akibat karantina ini. Mereka tidak dapat bertemu teman-teman sekolahnya, teman di sekitar rumah, hingga tidak lagi bisa bermain lama-lama di luar rumah. Akibatnya, anak-anak bisa jadi mudah merajuk, suka mencari perhatian, mudah marah, hingga kian manja.

Dilansir dari laman Weill Cornell Medicine, kendati belum ada penelitian yang komprehensif mengenai efek karantina dan physical distancing terhadap kesehatan mental anak, menjaga dan memperhatikan keadaan psikologis mereka sejak dini tetap penting dilakukan.

Cara menjaga kesehatan mental anak saat pandemi Corona, Berikut beberapa tips atau cara menjaga kesehatan mental anak selama pandemi Corona sebagaimana dilansir dari laman National Geographic:


1. Orang tua tenang, anak tenang
Di usia anak, mereka belajar dengan meniru orang terdekatnya, terutama orang tua. Jika orang tua memiliki rasa cemas dan panik berlebihan, anak-anak akan peka terhadap emosi negatif tersebut dan turut merasakannya.
Kendati virus ini benar-benar nyata, orang tua tidak harus panik, kalau perlu hindari menonton televisi yang menayangkan tentang Corona atau mengurangi membaca berita. Informasi berlebihan tentang virus Corona COVID-19 hanya akan memperburuk keadaan.


2. Jadwalkan kegiatan rutin, tapi tetap fleksibel
Dengan menjadwalkan kegiatan anak-anak, mereka akan merasa tenang, terutama di masa-masa tidak menentu ini. Penjadwalan kegiatan menjadi penting karena biasanya anak-anak memiliki kegiatan yang tersusun rapi di sekolah, tiap-tiap jeda diisi waktu istirahat dan ada guru yang mengawasi.
 Sementara pada masa karantina, orang tualah yang bertugas menjadwalkan kegiatan tersebut dan mengawasi anak-anaknya. Namun, meskipun sudah dijadwalkan, jangan bersikap kaku dengan kegiatan yang sudah ditetapkan. Jadilah fleksibel, tapi tetap konsisten dengan struktur kegiatan tersebut.


3. Jujurlah, tapi jangan beri informasi lebih dari yang anak-anak butuhkan
Anak-anak mungkin akan bertanya-tanya kenapa mereka tidak dibolehkan lagi berangkat ke sekolah dan dibatasi bertemu teman-temannya. Bicarakanlah dengan anak tentang virus Corona dan efeknya. Dan di saat bersamaan, yakinkan mereka bahwa mereka aman dan terlindungi.

4. Jangan biarkan internet dan hiburan elektronik mengontrol keluarga Anda
Saat ini, bukan saat yang tepat untuk menyalahkan efek negatif media sosial, televisi, dan internet. Sebagian besar orang mengandalkan teknologi dan komunikasi jarak jauh untuk tetap terhubung dengan orang lain. Namun, layar elektronik memiliki efek negatif terhadap kesehatan fisik dan mental. Anak-anak dapat merasa tidak nyaman dan cemas. Sehingga hiburan televisi atau melalui layar elektronik untuk anak-anak, jangan berikan lebih dari dua jam setiap harinya.


5. Jangan reaktif berlebihan
Kendati orang tua merasa khawatir saat pandemi Corona ini, ia harus dapat memanajemen emosi dengan baik. Dilansir dari Psychology Today, rasa panik, stres, dan kecemasan dapat menular ke anak-anak. Rasa panik dan stres berlebihan berakibat buruk untuk kesehatan. Merasa panik di tengah penyebaran penyakit malah berisiko menjadikan seseorang rentan terpapar virus.
Perasaan panik berlebihan menjadikan tubuh melepaskan hormon kortisol, yang mana dapat menekan imun badan sehingga kekebalan tubuh dapat berkurang dalam melawan kontaminasi virus. Sebab rasa panik dan emosi negatif ini menular, orang tua tentu tidak ingin mendapati imun anaknya menurun, yang malah berpotensi rentan terpapar virus.

Penulis: Maulida Rahmah (Mahasiswi KKN-DR UINSU Kelompok 42)
Penulis merupakan Mahasiswi KKN-DR UINSU Kelompok 42 Jurusan BKI Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UINSU yang sedang melaksanakan KKN-DR UINSU dengan Dosen Pembimbing Lapangan : Drs.Ishaq, M.A.

VIDEO PILIHAN