Mohon tunggu...
Kitong Bisa
Kitong Bisa Mohon Tunggu...

Kitong Bisa adalah sebuah konsultan nonprofit yang bergerak dalam bidang pendidikan, konsultasi manajemen, event organizer, dan juga CSR adviser. Kitong Bisa didirikan di Papua pada tahun 2009, dan saat ini, jangkauan areanya sudah beredar di seluruh Indonesia, bahkan hingga Vietnam. Kitong Bisa saat ini juga berpartner dengan sebuah perusahaan IT Solution and Apps Developer, untuk membuat berbagai produk teknologi, khususnya yang membantu proses pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Muda

Perkenalan Kitong Bisa Bisnis di United Nations Indonesia

4 September 2017   15:02 Diperbarui: 4 September 2017   15:14 404 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Perkenalan Kitong Bisa Bisnis di United Nations Indonesia
http://www.id.undp.org/content/indonesia/id/home/post-2015/sdg-overview.html

Peran pemuda di era globalisasi saat ini kian penting, bukan saja hanya bersifat membangun namun juga dapat mengubah dunia. Badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) kemudian menganggap kaum pemuda adalah salah satu jembatan dalam mengurangi permasalahan dunia. Pemikiran tersebut kemudian mengambil kesimpulan bahwa penting adanya hari bagi pemuda di seluruh dunia yang kini diperingati setiap tanggal 12 Agustus di seluruh dunia. Disisi lain, PBB juga sedang memfokuskan pada Agenda Pembangunan Berkelanjutan atau yang saat ini lebih dikenal dengan 17 Sustainable Develoment Goals (SDGs). Pada konferensi SDGs yang berlangsung pada 25 September 2015 di New York, Amerika Serikat, dimaksudkan untuk mengakhiri kemiskinan, memerangi kesenjangan, dan ketidakadilan, serta menghadapi perubahan iklim yang diharapkan bisa dicapai pada tahun 2030.

SDGs terbentuk berdasarkan kesepakatan negara anggota PBB yang merupakan kelanjutan dari Millenium Development Goals (MDGs). Ke-17 Sustainable Development Goals yang menjadi fokus saat ini yaitu; Tanpa Kemiskinan; Tanpa Kelaparan; Kehidupan Sehat dan Sejahtera; Pendidikan Berkualitas; Kesetaraan Gender; Air Bersih dan Sanitasi Layak; Energi Bersih dan Terjangkau; Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; Industrial, Inovasi dan Infrastruktur; Berkurangnya Kesenjangan; Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan; Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab; Penanganan Perubahan Iklim; Ekosistem Laut; Ekosistem Daratan; Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh; dan Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Mengingat betapa pentingnya peran pemuda sebagai pencapaian SDGs, dalam rangka memperingati International  Youth Day 2017, "2030 Youth Force", sebuah divisi yang mengurusi kepemudaan di bawah naungan PBB di Indonesia, mengadakan beberapa rangkaian acara untuk para perwakilan NGO yang terpilih guna membahas 17 SDGs pada tanggal 11 -- 12 Agustus 2017. Ada 400 perwakilan NGO yang mengirimkan aplikasi dan 36 diantaranya yang lolos tahap seleksi kemudian diundang untuk mengikuti workshop International Youth Day 2017 bertemakan "Youth Building Peace".

Workshop ini menghadirkan UN IANYD Chair, UN RC, Aman Indonesia, UN Volunteer Indonesia dan beberapa lembaga di bawah naungan PBB seperti UNICEF, UNESCO, dll yang berdiskusi dengan para delegasi. Para delegasi perwakilan NGO masing-masing dibagi ke enam kelompok isu yang sudah dipilih sebelumnya saat mengirimkan aplikasi. Ke-6 isu tersebut yaitu Education, Sexual and Reproductive Health and Right (SRHR), Intolerance, Sustainable Tourism, Climate Change dan Poverty. Kitong Bisa sendiri mewakili isu Sustainable Tourism dimana proyek kerja Kitong Bisa yaitu Kitong Bisa Bisnis akan memberikan pelatihan bisnis online ke kurang lebih 200 siswi SMK yang berada di dua provinsi yang masuk dalam kategori tingkat pengganguran terbesar di Indonesia. Kitong Bisa Bisnis memfokuskan proyek pada bisnis dengan berupaya mengangkat produk-produk etnik khas di Aceh dan Fak-fak, Papua Barat. 

Fokus proyek ini kemudian didiskusikan dengan tim isu Sustainaible Tourism dibantu oleh perwakilan dari UNESCO untuk Indonesia dimana peran akan mengangkat potensi lokal sangat penting demi terciptanya Sustainable Tourism. Potensi produk lokal yang dapat meningkatkan pariwisata ini tentu akan berdampak baik terhadap warga setempat agar terciptanya perputaran perekonomian yang stabil nantinya. Dalam diskusi, pihak UNESCO memaparkan bahwa para penikmat jalan sebaiknya lebih memperhatikan apa yang dapat diberi untuk tempat pariwisata tidak saja hanya sekedar dinikmati. Selanjutnya, hasil diskusi dipersentasikan di hadapan staff kepresidenan dari Istana Negara.

Rangkaian acara di hari ke-2 bertemakan talkshow dengan beberapa narasumber yang ahli dibidangnya yang mana dihadiri oleh Ruby Khalifah (Diretur The Asian Muslim Action Nerwork Indonesia), Miyeon Park (Programme Officer UNV Indonesia) dan Karina Nadila (Puteri Indonesia Pariwisata 2017). Berbeda dengan acara di hari pertama, kegiatan yang berupa talkshow ini selain dihadiri oleh beberapa narasumber juga dihadiri oleh 100 pemuda-pemudi di wilayah Jabodetabek dan 36 delegasi sebagai tamu VIP yang sudah mengikuti workshop dihari sebelumnya. Bertempat di Erasmus Huis, Netherland Embassy, Jakarta, acara talkshow juga diselingi dengan games Ecofunopoly dan menulis arti dari "Peace" bagi pemuda saat ini di Dream Board.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x