Kita Setara
Kita Setara

Fatherhood kitasetara.org

Selanjutnya

Tutup

Wanita highlight headline

Suami Saya yang Biasa Saja

22 Mei 2017   18:31 Diperbarui: 24 Mei 2017   13:29 431 5 4
Suami Saya yang Biasa Saja
DOKUMENTASI PRIBADI

Bagi sebagian perempuan, melahirkan adalah sebuah proses yang traumatis. Saya termasuk di antaranya. Sakitnya kontraksi, payahnya mengejan, hingga pedihnya luka bekas jahitan, masih menghantui hingga kini.

Memang, ketika akhirnya si jabang bayi yang selama sembilan bulan mengeram di dalam perut itu akhirnya bisa disentuh jari-jarinya dan dipandang wajahnya, rasa sakit itu memudar seketika. Namun, tentu saja jalan masih panjang, perjuangan sesungguhnya baru dimulai.

Saya termasuk beruntung, karena bisa didampingi suami sejak awal proses persalinan. Kemudian ibu saya juga datang dan menemani saya melalui hari-hari pertama mengurus bayi. Tubuh yang lemah, luka jahitan yang nyeri berkepanjangan, dan ketidaktahuan mengurus si bayi merah, membuat saya bersyukur sekali bisa ditemani ibu. Sampai saat ini, saya berpikir, jika saat itu saya tidak ditemani ibu, mungkin saya akan mengalami baby blues, atau post partum depression.

Baby blues, atau stres pasca melahirkan memang sering terjadi dalam berbagai tingkatan. Mulai dari merutuki diri sendiri karena merasa tidak becus mengurus bayi, menangis semalaman karena merasa kelelahan, hingga muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri dan atau si bayi. Oleh karena itu, dibutuhkan lingkungan atau support system yang baik untuk mendukung si ibu baru dalam menghadapi hal ini. Dan menurut saya, dukungan suami adalah hal terpenting.

Ibu saya pamit pulang dua minggu kemudian. Saat itu, bekas jahitan saya sudah mulai terasa nyaman untuk digunakan beraktivitas. Berbekal pengetahuan cara memandikan, menyusui, mengganti popok, dan hal-hal mendasar lain seputar perawatan bayi, saya melepas kepergian ibu saya dengan deg-degan.

Saat hari pertama berlalu, kami merasa terharu. Ada kepuasan yang hadir karena kami berhasil melaluinya dengan baik-baik saja. Hari berganti hari dan rupanya kami bisa mengurus anak kami sendiri. Pekerjaan suami saya sebagai freelance designer ternyata cukup menguntungkan karena waktu kerjanya lebih fleksibel.

Kami sering bergantian menemani anak kami bermain. Sepele kelihatannya, tapi rupanya hal ini cukup melelahkan. Semakin besar, keinginannya makin banyak tetapi ia belum bisa menyampaikan dengan baik. Hal ini yang seringkali membuat saya stres dan emosi, karena pada dasarnya saya memang bersumbu pendek.

Suami saya bisa dan biasa mengganti popok, menceboki, memandikan, menyuapi, membacakan buku, menitah, menggendong dengan jarik maupun ring sling dan soft structured carrier. Ia tahu merk-merk dan ukuran popok sekali pakai yang dipakai anak kami. Ia paham “mantra” apa saja yang bisa menenangkan anak kami, ketertarikannya pada hewan-hewan tertentu, dan anak-anak tetangga mana saja yang disukainya. Intinya, ia tahu dan paham setiap detail perkembangan anak kami.

Satu-satunya hal yang tidak bisa dilakukannya untuk anak kami hanyalah menyusui. Saat anak saya sakit atau rewel, ia bahkan memberikan “privilege” kepada saya untuk bangun tidur lebih siang, karena ia tahu tidur saya tak nyenyak dan sepanjang malam harus berkali-kali menyusui anak kami.

Pertanyaannya sekarang, bukankah semua suami harusnya bisa dan biasa melakukan hal-hal tersebut? Ya, tapi rupanya tidak semua pria mau ambil bagian yang setara dalam hal mengasuh anak. Mengasuh anak, seperti layaknya pekerjaan mengurus rumah, sering diklasifikasikan sebagai pekerjaan domestik, dan diidentikkan dengan urusan perempuan. Padahal, seperti yang ditulis dalam berbagai kajian, pola asuh ayah akan berpengaruh dalam membentuk karakter anak kelak.

Keterlibatan ayah sejak dini pada masa-masa penting perkembangan anak adalah sumber emosional bagi anak. Perlakuan ayah yang penuh cinta pada bayi sangat berkontribusi terhadap rasa aman pada anak (Rosenberg & Wilcox, 2006).

Selain itu, kedekatan ayah juga akan meningkatkan self esteem, kenyamanan diri, kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan kompetensi sosial anak (Amato, 1994).

Saya sendiri percaya, dengan menunjukkan relasi yang setara antara ayah dan ibu, itu akan membentuk perspektif anak bahwa ia dicintai oleh kedua orang tuanya. Kelak, ketika ia merasa tak nyaman untuk bercerita kepada ibu, masih ada ayah untuk mengadu. Kami ingin mematahkan stigma bahwa fungsi ayah hanyalah untuk berkata “tanya ibumu”.

Saya dan suami justru lahir dari keluarga Jawa tradisional. Ayah-ayah kami tak sedekat itu dengan anak-anaknya, sehingga kami merasakan gap yang menganga dan sebentuk keasingan yang mengganggu dengan mereka. Hal inilah yang ingin kami putus dan kami ganti dengan pola asuh baru, bahwa anak kecil tak hanya melulu diurus ibu, dan tugas ayah tak melulu hanya kerja, kerja, kerja. Bahwa lelaki yang bisa menggendong anak dengan jarik bukanlah sesuatu yang istimewa, biasa saja, karena toh perempuan juga bisa dan biasa saja melakukannya.

Melibatkan diri dalam hal-hal domestik tidak akan membuat seorang pria lebih rendah atau lebih tinggi derajatnya daripada perempuan. Bukankah yang kita inginkan adalah kesetaaraan?


*) By Diana Nurwidiastuti