Mohon tunggu...
David Abdullah
David Abdullah Mohon Tunggu... Lainnya - —

Best in Opinion Kompasiana Awards 2021 | Kata, data, fakta

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Batik Nusantara Penjalin Solidaritas, dari Difabel untuk Difabel

4 Januari 2022   13:32 Diperbarui: 4 Januari 2022   13:36 1876
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Rekan-rekan difabel sedang menjahit batik di Rumah Batik Wistara Surabaya. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

"Manusia yang paling baik, adalah manusia yang paling bisa memberikan manfaat bagi orang lain."

Di sebuah ruangan dengan nuansa Jawa itu, hanya terdengar deru mesin jahit yang saling bersahutan, menyalak atas instruksi tuannya. Bunyi lengkingan gunting sesekali menyeruak, menghiasi peluh para pejuang kehidupan.

Tatapan mata mereka tertuju pada sebuah ujung jarum, mengawasi setiap gerak-geriknya agar tak meleset dari sasaran. Jari-jemari mereka tampak begitu piawai ketika merangkai batik menjadi satu komposisi indah. Seindah mahakarya mereka yang telah menembus benua Amerika.

Beberapa dari mereka terlihat sedang mengukur serta memotong sehelai kain dengan mimik wajah yang amat serius. Sementara itu, di sisi ruangan lainnya, tampak sesosok pria yang sedang memusatkan atensinya pada cetakan batik dari tembaga.

Seorang difabel bernama Asrul, tengah serius mencetak batik. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)
Seorang difabel bernama Asrul, tengah serius mencetak batik. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

Sosok pejuang kehidupan itu bernama Asrul. Ia terlahir dengan disablitas pada pita suara dan gendang telinganya. Meski begitu, hal itu sama sekali tak memupus semangat pria 27 tahun tersebut dalam berjuang untuk mengais rezeki. Mencetak batik merupakan keahlian utamanya.

Teguh sedang fokus menjahit masker batik yang menjadi salah satu andalan Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)
Teguh sedang fokus menjahit masker batik yang menjadi salah satu andalan Rumah Batik Wistara. | Dokumentasi Ariyono Setiawan (pendiri Batik Wistara)

Setali tiga uang dengan Asrul. Perjuangan pria tunadaksa bernama Teguh juga tak kalah kuat. Kendati memiliki kekurangan fisik pada bagian tangan, ia tak sedikit pun mengalami kesulitan tatkala memainkan sehelai kain batik di bawah bidikan mesin jahit.

Sudah ada ratusan produk batik yang ia hasilkan selama bekerja di sana. Bagi Teguh, kekurangan fisiknya itu tak pernah menjadi penghalang dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. "Semangatku ini modal utamaku," ucapnya kala saya wawancarai.

Berasal dari Cilacap, Jawa Tengah, ia mengaku tertantang untuk menimba pengalaman jauh dari tanah kelahirannya. Kenekatan Teguh akhirnya membawa dirinya memijakkan kaki di Kota Pahlawan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun